Akidah Washitiyyah Ibnu Taimiyah

0
478
pustakaimambonjol.com

Agama Islam mengajarkan umatnya untuk selalu mengambil jalan “tengahan” (washatiyyah) dalam segala aspek kehidupan. Ini merupakan satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan kepada tercapainya tujuan Islam, yaitu kemajuan peradaban material maupun spiritual. Berpaling dari jalan washatiyyah, dengan condong kepada sikap ekstrim, justru akan membawa umat Islam kepada kehancuran.

Rasulullah Saw telah mengingatkan: “Hindari oleh kalian sikap berlebih-lebihan (ekstrim) dalam beragama, sebab sesungguhnya yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama”(HR. Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, dan Hakim dari Ibnu Abbas).Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda: Celakalah orang yang berlebih-lebihan. Nabi mengucapkannya tiga kali”(HR. Muslim dari Ibnu Masud).

Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah seorang ulama besar yang pernah dimiliki umat Islam. Nama aslinya Ahmad ibn Abdul Halim. Ia mendapatkan julukan “Syaikhul Islam”karena perjuangannya dalam membela, mendakwahkan, dan memperbarui Islam. Ibnu Taimiyah hidup pada era kemunduran peradaban Islam, yaitu periode keruntuhan Dinasi Abbasiyah. Ia menyaksikan pada zamannya fenomena penyimpangan di bidang akidah yang dipraktekkan oleh aliran-aliran kalam (teologi) dan tarekat sufi. Aliran-aliran tersebut, menurut Ibnu Taimiyah, memiliki kontribusi besar dalam membawa peradaban Islam semakin terjerembab dalam kemerosotan.

Ibnu Taimiyah menulis banyak karya dalam berbagai disiplin ilmu. Kitab al-Aqidah al-Washitiyyah adalah karyanya yang terkait bidang akidah. Berisi risalah yang sangat ringkas, namun oleh sebagian ulama, kitab ini dinilai telah menggambarkan pokok-pokok akidah Islam.

Ada dua kemungkinan alasan yang melatarbelakangi penggunaan nama al-washitiyyah sebagai judul kitab ini.Pertama, washitiyyah di sini dinisbahkan kepada Propinsi Wasith, asal daerah para hakim yang bertanya pada Ibnu Taimiyah. Dalam Majmu’ al-Fatawa dikisahkanbahwa kitab al-Aqidah al-Washitiyyahia disusun sebagai jawaban atas pertanyaan seputar permasalahan akidah yang diajukan oleh beberapa orang hakim (qudhah) yang datang kepadanya di Damaskus dari Propinsi Wasith, Irak.

Baca Juga  Genealogi Sekuler Menurut Talal Asad

Kedua, washitiyyahdi sini dinisbahkan kepada kata washatyang artinya “pertengahan.” Kemungkinan alasan kedua ini juga cukup kuat jika kita melihat isi kitabnya yang memang menggambarkan doktrin-doktrin akidah Islam (khususnya Mazhab Ahlus Sunnah Waljamaah) yang berada di tengah-tengah doktrin mazhab-mazhab Islam lainnya.

Prinsip-prinsip Aqidah Washatiyyah

Dalam kitab ini, Ibnu Taimiyah menjelaskan posisi tengahan (washatiyyah) Mazhab Ahlus Sunnah Waljamaah dalam delapan permasalahan akidah yang menjadi polemik antarmazhab kalam (teologi) pada masanya. Delapan masalah tersebut adalah: pertama, mengenai sifat dan nama-nama Allah (perdebatan antara Jahmiyyah dan Musyabbihah),kedua, mengenai takdir (antara Jabariyyah dengan Qadariyyah), ketiga, janji dan ancaman (antara Murji’ah dengan Khawarij), keempat, status keimanan pelaku dosa besar (antara Khawarij dan Muktazilah dengan Jahmiyyah), kelima, sahabat Nabi (antara Khawarij dan Syiah), keenam, hukum sebab akibat, ketujuh, keseimbangan antara sifat mahabbah, khauf,dan raja’(antara kaum sufi, Khawarij, dan Murji’ah) dan kedelapan,karamahuntuk waliyullah(antara Kaum sufi dan Muktazilah).

Dari penjelasan delapan pokok masalah akidah yang diperdebatkan oleh mazhab kalam (teologi) pada zamannya tersebut, secara konklusif dapat dirumuskan prinsip-prinsip washatiyyahdalam bidang akidah. Prinsip-prinsip tersebut adalah: pertama,   berpegang teguh pada Al-Quran dan al-Sunnah.  Sifat akidah Islam adalah taufiqiyyah(berdasarkan wahyu) dan tidak menjadi ruang lingkup ijtihad serta spekulasi pikiran manusia. Oleh karena itu, sumber segala keyakinan dan doktrin dalam akidah tidak lain hanyalah al-Quran dan al-Sunnah yang wajib dipegangteguh oleh umat Islam. Allah telah menjanjikan bahwa siapa saja yang mengikuti keduanya tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan menyesal di akhirat. Perbedaan yang prinsipil antara Islam dengan agama lainnya adalah pada sumber akidah, di mana Islam hanya membatasinya pada wahyu, sementara agama-agama lainnya memberikan peran pada akal pikiran, intuisi, dan tradisi.

Baca Juga  Jatidiri Perempuan Muhammadiyah: Potret dan Perkembangan Aisyiyah?

Kedua, keseimbangan dalam penggunaan nalar (akal).Sekalipun sumber akidah Islam adalah al-Quran dan Hadis, namun bukan berarti akal tidak berperan sama sekali dalam masalah akidah. Dalam hal ini, peran akal adalah sebagai alat untuk memahami maksud dan kandungan dari ayat al-Quran atau hadits Nabi yang terkait dengan akidah. Hubungan antara wahyu dan akal dapat digambarkan sama seperti hubungan antara cahaya dan mata manusia. Wahyu adalah cahaya yang menerangi jalan yang dilalui manusia, sedangkan akal adalah adalah mata yang berfungsi sebagai alat untuk melihat saat berjalan.

Memenangkan akal di atas wahyu adalah suatu bentuk ekstrimitas tersendiri, karena akal bersifat relatif. Begitu pula sebaliknya, mengamalkan wahyu tanpa memahaminya dengan akal juga menjadi bentuk esktrimitas yang lain. Oleh karena itu, posisi yang tepat dan washatiyyahadalah menempatkan akal di bawah sinaran wahyu.

Ketiga, tidak mudah mengkafirkan kelompok lain. Seorang muslim tidak boleh mudah memvonis sesama saudara muslimnya sebagai orang kafir, apapun alasannya. Kelalaian, perbuatan maksiat, bahkan dosa besar sekalipun, tidak lantas mengeluarkan seseorang dari agama Islam, apalagi jika masih tersisa tanda-tanda keimanan pada dirinya. Inilah kesalahan yang dilakukan oleh kelompok Khawarij yang mengkafirkan siapa saja yang mereka anggap melakukan dosa besar dan mengkafirkan sahabat-sahabat Nabi yang terlibat dalam peristiwa politik di Daumatul Jandal. Ajaran Islam yang washatiyyahmengajarkan agar kita tidak mudah menganggap orang lain sebagai kafir (Q.s. al-Nisa: 94).

Keempat, tidak mengkultuskan individu. Dalam Islam, tidak ada manusia yang suci, maksum atau terbebas dari dosa selain Nabi Muhammad Saw. Manusia biasa adalah makhluk Allah yang diliputi oleh banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, pemujaan yang berlebihan terhadap individu yang kemudian dapat berujung pada pengkultusan adalah perbuatan yang melampaui batas, yang keluar dari alur washatiyyahIslam. Pengkultusan individu dilakukan di antaranya oleh kaum Syiah terhadap para imam Ahlul Baitdan kaum sufi terhadap para syaikh atau mursyid tarekat mereka. Perilaku demikian dapat digolongkan sebagai perbuatan yang ghuluww(berlebih-lebihan) dalam agama dan bisa menjadi jebakan syirik.

Baca Juga  BEBAS: Membicarakan Barang Mewah Orang Dewasa

Prinsip-prinsipwashatiyyahdalam akidah penting untuk kita pegang agar tidak terjebak pada sikap ekstrim dalam beragama yang telah dilarang oleh al-Quran dan hadits Nabi Saw.

Identitas Buku

  • Judul              : Matn al-‘Aqidah Al-Wasithiyah
  • Penulis           : Ibnu Taimiyah
  • Pensyarah      : Syaikh Muhammad al-Shalih Utsaimin
  • Tebal              : Jilid I 480 hal/Jilid II 414 hal
  • Penerbit         : Dar Ibnu al-Jauziy, Riyadl
  • Cetakan          : Keempat, 1421 H

IBTimes.ID - Kanal Islam Berkemajuan, dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi Kamu ke Rekening

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here