Bolehkah Menjual Daging Kurban? - IBTimes.ID kurban
Perspektif

Bolehkah Menjual Daging Kurban?

2 Mins read

Menurut Jumhur Ulama Salaf, menjual daging atau bagian kurban hukumnya adalah makruh mendekati haram. Dalam artikel Fiqih Kurban, maksud dari bagian kurban yaitu seperti kulit, daging, kaki, susu atau bagian manapun. Karena hal itu akan mengurangi kebermanfaatan hewan kurban itu sendiri. Sebagaimana yang dikemukakan oleh hadist berikut:      

“Janganlah kamu menjual daging denda haji dan daging kurban, makanlah dan sedekahkanlah dagingnya dan ambilah manfaat kulitnya, jangan kamu jual” (HR. Ahmad).                                           

Juga disebutkan di hadist lain,

“Siapa yang menjual kulit hewan kurban, maka dia tidak berkurban” (HR. Hakim dan Baihaqi).

Akan tetapi, dari pelarangan tersebut ada beberapa ulama yang justru membolehkannya. Berikut akan dijelaskan di dalam artikel ini.

Ulama yang Memperbolehkan Menjual Daging Kurban

Dikutip dari buku At-Tibyan (Seputar Ibadah Kurban) karya Abu Fawwaz Nasrul Mas’udin bin Mulkan, bahwa Abu Hanifah memperbolehkan menjual apa saja dari hewan kurban. Kemudian hasil dari penjualannya tadi di sedekahkan. Karena hal itu juga merupakan amal ibadah.

Selain Abu Hanifah, ada beberapa ulama yang juga memperbolehkan untuk menjual kulitnya saja, seperti Hasan al-Basri, Ibrahim an-Nakhai, Imam al-Auzaaiy, Abu Tsaur dan sebagian mazhab Syafi’iyah yang pendapatnya menyelisihi hadist yang dipaparkan diatas.

Menurut buku ini pula, bahwa ternyata hadist tentang larangan menjual daging kurban yang diriwayatkan oleh Ahmad merupakan hadist dhaif. Karena terdapat beberapa kecacatan, diantaranya:

Pertama, rawi bernama Zunaid bin Harist al Yaamy tidak bertemu dengan satu orang sahabatpun, sehingga hadistnya dari sahabat terputus.

Kedua, Ibnu Juraij Mudallis dan Zunaid bin Harist al Yaamy  telah ‘an’anah (menyampaikan hadist kepada rawi lain dengan lafadz ‘an (dari) yang mengisyaratkan bahwa dia tidak mendengar langsung dari syaikhnya) dalam sanad hadist tersebut.

Baca Juga  Apakah Muhammadiyah Bisa Membenahi Gaya Sepak Bola Indonesia?

Menjual sebagian daging atau kulitnya kemudian menyedekahkannya sangat mungkin dilakukan Rasulullah SAW. karena dulu memang banyak sekali para sahabat miskin dan kebutuhan mereka bukan hanya daging, sehingga hal itu tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW . Mengingat hal itu tidak dilakukan, maka jelas menjual daging kurban tidaklah disyari’atkan (Abu Fawwaz, 2018:84).

Fakir Miskin Boleh Menjual Daging Kurban

Kemudian dikutip dari buku Yusuf Mansur tentang Tanya Jawab Kurban, bahwa menjual daging kurban itu boleh.  Jika itu dilakukan oleh faqir miskin yang menerima kurban. Karena mereka memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja terhadap daging kurban yang diperolehnya, termasuk menjualnya. Asalkan menjualnya kepada orang Islam. Tapi ini tidak diperkenankan untuk orang kaya yang mendapatkan daging kurban.

Sebagaimana yang tercantum dalam kitab Busyra al-Karim Bi asy-Syarhi Masa’ili at-Ta’lim, juz ke-II halaman 127-128, 

“Dan boleh untuk faqir mendayagunakan padanya dengan menjual dan lainnya, artinya hanya kepada orang Islam. Lain halnya orang kaya, apabila dikirimi padanya sesuatu atau diberikannya, maka sesungguhnya ia boleh menggunakan padanya seperti memakannya, bersedekah dan jamuan.”

Hal itu dikarenakan kedudukan orang kaya atau orang yang mampu setara dengan orang yang berkurban. Berbeda dengan orang faqir atau miskin, boleh jadi yang lebih dibutuhkan oleh mereka adalah kebutuhan pokoknya, sedangkan yang mereka miliki hanyalah daging kurban, maka mereka boleh untuk menjualnya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa sejatinya menjual daging kurban tetaplah tidak diperbolehkan, terutama bagi orang yang berkurban. Meskipun ada beberapa ulama yang memperbolehkan. Hal ini dikarenakan kembali lagi kepada tujuan dari ibadah kurban itu sendiri, yaitu mempersembahkan hewan sembelihannya untuk Allah SWT. yang kemudian hasil sembelihannya dibagi-bagikan.

Baca Juga  Teruslah Mengkritik, tapi Harus Siap Pula Dikritik

Larangan menjual daging kurban diperkuat oleh dalil QS. Al-Hajj ayat 28, yang berbunyi :

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Artinya: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”

Dari ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan orang yang berkurban untuk memakan sebagian dagingnya dan sebagiannya lagi dimakan oleh orang-orang yang kesusahan atau faqir miskin, bukan untuk dijual.  

Editor: Faiq

Print Friendly, PDF & Email
Avatar
12 posts

About author
Mahasiswi STIQSI (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an dan Sains al-Ishlah) Asal Tuban Bumi Wali
Articles
Related posts
Perspektif

Cara Menjaga Kesehatan Hewan Qurban

2 Mins read
Umat Islam merayakan hari raya Idul Adha setiap tahun, biasa dikenal sebagai hari raya Qurban. Hari raya Idul Adha adalah hari besar…
Perspektif

Bagaimana Pendidikan yang Ideal itu?

4 Mins read
Kemajuan suatu bangsa bergantung kepada kualitas masyarakatnya. Bangsa Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa yang harus dikelola dengan bijaksana…
Perspektif

Membaca Hari Raya Idul Fitri dari Kacamata H. Agus Salim

4 Mins read
Sebagai tokoh nasional yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, H. Agus Salim merupakan sosok panutan dari banyak sisi. Kontribusi ilmu, literasi, gerakan organisasi,…

Tinggalkan Balasan