Beranda Report National Gontok-gontokan Gara-gara Beragama dengan Simbol, Bukan Nilai

Gontok-gontokan Gara-gara Beragama dengan Simbol, Bukan Nilai

IBTimes.id, Jakarta – Bekerjasama dengan Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Jaringan Intelektual Berkemajuan menggelar Dialog Antar Iman untuk Peradaban Berkemajuan di Gado Gado Boplo Cikini Raya, Kamis (27/6).

Menjadi narasumber yaitu para ketua umum dari Angkatan Muda Muhammadiyah seperti Ketua Umum PP Nasyiatul ‘Aisyiyah Diyah Puspitarini, Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah Hafizh Syafa’aturrahman dan DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Najih Prasetyo dan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto.

Dalam pengantar, Ketua PP Muhammadiyah sekaligus UKP-DKAAP Syafiq A. Mughni mengamini Ketua Jaringan Intelektual Berkemajuan Abdullah Sumrahadi. Bahwa tujuan utama diskusi sesuai dengan visi UKP-DKAAP, yaitu perdamaian antara bangsa tidak akan terjadi jika perdamaian antar agama tidak terlaksana.

“Ya ini paralel dengan tugas kami yaitu bagaimana kita yang hidup di negara yang sangat plural ini supaya perbedaannya menjadi kekuatan kohesif. Maka ini harus kita kelola supaya ada pengertian, dialog menjadi kekuatan pada tata dunia yang lebih adil. Selain upaya kita mempromosikan Islam yang wasathiyah, moderat dan toleran,” ungkap Syafiq.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto menyampaikan bahwa melakukan dialog toleransi di tengah masyarakat Indonesia yang mutu literasinya termasuk rendah di dunia ini bukan perkara mudah.

Sunanto menyinggung penguatan gejala keberagamaan yang mementingkan identitas dan simbolisasi agama dibanding nilai-nilai agama kian mempersulit upaya bersama menuju toleransi antar iman.

“Padahal kalau konstruksi toleransi, seharusnya bangsa ini menjadi contoh keberagamaan dan kerukunan di dunia. Problemnya kita sekarang memakai simbol-simbol agama, bukan nilainya sehingga membuat kita gontok-gontokan. Jangan-jangan kita belum selesai literasi dan dialognya lalu ujug-ujug minta toleransi. Kericuhan selama ini disebabkan oleh metode, bukan nilai ajarannya,” ungkap Sunanto.

Terakhir, Sunanto menganggap bahwa berbagai macam dialog yang dilakukan oleh UKP-DKAAP dibutuhkan oleh masyarakat dan tokoh-tokoh agama termasuk perbaikan mutu literasi agar tercapainya iklim toleran yang ideal. (Afandi/nabhan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Luar Biasa! Pengabdian UMY Perkuat Desain Digital Capaian SDGs Lazismu

IBTimes.ID-Yogyakarta, (16/07 10)- Program pengabdian masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, baru-baru ini menggandeng Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sadaqah Muhammadiyah) untuk memperkuat capaian...

Unik! Kebencanaan Menjadi Materi Fortasi IPM SMK Muhammadiyah Pontang

IB Times.ID - Ada yang spesial dari pelaksanaan Forum Ta'aruf dan Orientasi (Fortasi) siswa baru siswa baru SMK Muhammadiyah Pontang tahun pelajaran 2019/2020 ini,...

Berakhirnya Kompetisi: Refleksi Milad 58 IPM “Kolaborasi untuk Negeri”

Oleh: Nashir Efendi Milad ke-58 milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) mengusung tema “Kolaborasi untuk Negeri”. Tema ini nampaknya ingin menggeser paradigma kompetisi menjadi kolaborasi.  Bicara...

Romo Paryanto: Selain Keuangan, Muhammadiyah Perlu Audit Ideologi dan Kebijakan

Tahun 2020, Muhammadiyah akan gelar perhelatan akbar Muktamar ke-48 di Surakarta.  Akan tetapi syi’ar dan gaung Muktamar yang tinggal satu tahun lagi belum terdengar....

Andaikan IMM Agamaku

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri* Isu agama di Indonesia merupakan isu yang sangat sensitif. Survei menunjukkan bahwa agama di mata masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang sangat...