“Islam Kaffah” belakangan sering dipahami sebagai ajakan mendirikan “Negara Islam” (Khilafah Islamiyah). Istilah “kaffah” dimaknai sebagai keharusan berislam secara “totalitas”. Tidak dianggap kaffah jika belum mewujudkan “penerapan hukum Islam”.
Berdasarkan kegelisahan ini, redaksi kembali mewancarai Ustadz Hamim Ilyas (Wakil Ketua Mejelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah). Bagaimana pandangan beliau tentang “Islam Kaffah” itu? Kita simak ulasan di bawah ini.

Apa dalil Al-Qur’an yang melandasi doktrin Islam Kaffah?

Doktrin Islam Kaffah dapat ditemukan pada Q.S. al-Baqarah, 2: 208. Ayat yang sangat popular di kalangan umat Islam, yaitu: “ya ayyuha ladzhina amanu udkhulu fissilmi kaffah” (hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara kaffah).

Bagaimana penjelasan ayat tersebut?

Sebelum memahami ayat tersebut, kita perlu mengetahui latar belakang turunnya ayat ini. Menurut ‘Ikrimah, seorang tabi’in, ayat ini turun dengan dilatar-belakangi oleh permintaan orang-orang Yahudi di zaman Nabi yang telah memeluk Islam, yakni Abdullah bin Salam dan kawan-kawan, untuk mengadakan sinkretisme agama.

Meskipun telah menjadi Muslim, mereka tetap bermaksud mengagungkan hari Sabat dan “Tadarus Taurat” di malam hari untuk beribadah, tetapi permintaan ini ditolak dengan ayat itu. Akan tetapi dalam pandangan Ibn Katsir, latarbelakang tersebut hanya merupakan dugaan dari ‘Ikrimah saja. Menurutnya, Abdullah bin Salam memiliki kesungguhan iman yang sudah dikenal luas, sehingga tidak mungkin dia ingin melakukan sinkretisme seperti itu.

Lihat juga HAMIM ILYAS: Iman, Hijrah dan Jihad sebagai Trilogi Keberislaman

Lalu bagaimana yang benar?

Berdasarkan kritik matan dari Ibn Katsir membuktikan bahwa keterangan ‘Ikrimah di atas bukan merupakan riwayat asbabun nuzul yang sahih.

Jadi, isu sentral Q.S. Al-Baqarah ayat 208 itu berhubungan dengan ayat-ayat sebelumnya itu, yaitu 204-207 yang membicarakan dua orientasi peradaban yang berkembang ketika al-Qur’an turun.

Bisakah dijelaskan maksud dari orientasi peradaban tersebut?

Orientasi peradaban pertama adalah materialisme. Peradaban ini dikemukakan dalam ayat 204-206 dan para pendukungnya yang digambarkan memiliki kecakapan retorika yang mengagumkan, melakukan perusakan lingkungan alam dan keturunan, dan tidak peduli pada agama. Mereka dikatakan akan mendapatkan balasan Jahanam, seburuk-buruk tempat singgah di akhirat.

Peradaban kedua adalah spiritualisme. Peradaban ini disinggung dalam ayat 207 dan para pendukungnya yang hanya berorientasi pada spiritualitas diberi komentar sangat dikasihani Tuhan.

Lalu, bagaimana orientasi peradaban yang dimaksud ayat tersebut?

Berdasarkan munasabah ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa manka Islam Kaffah dalam Q.S. al-Baqarah, 2: 208 tersebut melarang umat Islam mengikuti kedua orientasi peradaban. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk mengembangkan orientasi peradaban yang ketiga, yakni “peradaban spiritual-materiil”.

Jadi doktrin Islam Kaffah sebenarnya memiliki makna peradaban ini, bukan makna formalitas dan ideologi Islam atau Islamisme sebagaimana yang sering dinyatakan oleh beberapa kalangan untuk mendirikan negara Islam.

Kalau begitu bagaimana bentuk peradaban Islam Kaffah itu?

Makna peradaban Islam Kaffah ini sesuai dengan pengertian perdamaian (as-shulh) yang dikemukakan al-Asfahani untuk kata as-silm dalam ayat ke-208 surat al-Baqarah itu. Perdamaian pada dasarnya adalah menghilangkan pertikaian secara suka rela.

Masyarakat yang mengembangkan orientasi spiritual dan materiil secara sekaligus, berarti menghilangkan pertikaian orientasi peradaban di antara warganya. Dengan begitu maka mereka telah berdamai secara peradaban.

Jadi kata kuncinya menciptakan perdamaian ya?

Benar. Dalam bahasa Arab akar kata s-l-m di samping digunakan untuk membentuk as-salm atau as-silm yang berarti damai, juga digunakan untuk membentuk kata as-sullam yang berarti tangga. Kesamaan akar kata ini menunjukkan bahwa perdamaian itu merupakan tangga untuk mencapai kedudukan yang tinggi bagi satu masyarakat. Kedudukan tinggi bagi mereka hanya dapat diperoleh melalui kemajuan peradaban (Islam Berkemajuan).

Melalui S. al- Baqarah, 2: 208 umat diperintahkan untuk mencapai kemajuan peradaban. Kemajuan peradaban yang diperintahkan untuk dicapai itu bukan hanya kemajuan peradaban materiil atau spirituil saja, tapi kemajuan peradaban materiil dan spirituil secara bersama-sama.

Bagaimana cara menciptakan peradaban seimbang atau kaffah tersebut?

Al-Qur’an kan mengajarkan umat untuk hidup seimbang dengan berusaha mencapai kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kesejahteraan hidup di dunia. Yang perlu dicatat adalah bahwa sebenarnya al-Qur’an tidak memandang rendah dunia, tapi menjelaskan jebakan kebahagiaan yang banyak dialami manusia yang mengira bahwa kebahagiaannya terletak pada “kekayaan, kesuksesan dan kesenangan duniawi”.

Ketiga hal ini tidak dengan sendirinya membuat orang bahagia. Tetapi hanya alat untuk memperoleh kebahagiaan, maka jangan sampai terjebak di dalamnya, dan untuk meraihnya jangan sampai melupakan Tuhan, akhirat, akhlak dan keluarga.

Kalau begitu, bagaimana jika ada orang-orang yang lebih memilih kehidupan akhirat karena dianggap lebih baik daripada urusan dunia?

Dalam konteks teologi dan etika, ayat-ayat yang secara pasti menyatakan bahwa akhirat itu lebih baik dipahami secara kontekstual. Konteks itu bisa memberi jawaban mengapa ayat-ayat itu dihubungkan dengan orang-orang yang bertakwa dan preferensi kehidupan dunia.

Misalnya Negeri akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa karena berorientasi kepadanya membuat mereka menjadi lebih religius dan lebih bermoral (S. al-An’am, 6: 32, S. Yusuf, 12: 109).  Begitu juga bagi orang yang lebih memilih kehidupan dunia, kehidupan akhirat pun sebenarnya lebih baik baginya karena juga bisa membuatnya lebih religius dan bermoral (S. al-A’la, 87: 17).

Adapun ayat yang memuat kata akhirah, namun tidak secara pasti menunjuk ke kehidupan akhirat, maka bisa dipahami sebagai tidak menunjuk kepadanya, seperti S. ad- Dhuha, 93: 4. Kata akhirah dalam ayat ini bisa diberi pengertian akhir hidup atau masa depan, sehingga berarti akhir hidup Nabi itu lebih baik daripada awal hidup atau masa lalunya. Arti ini telah dipakai dalam edisi revisi terjemah al-Qur’an oleh Depag RI. Ketika turun, ayat itu dimaksudkan untuk menumbuhkan optimisme pada diri Nabi.

Apabila sekarang diberi arti itu, maka ayat tersebut bisa dijadikan landasan untuk membangkitkan optimisme umat yang mau tidak mau harus kembali membangun peradaban baru yang sesuai dengan ke-kafah-an Islam dan kemajuan zaman, yakni peradaban industri yang spiritualistik.

Jadi, Islam Kaffah itu bukan Islamisme yang selama ini dimaknai menegakkan Negara Islam?

Betul, selain makna peradaban, Islam kaffah memiliki dua makna lagi, yaitu: keberagamaan tri dimensi dan integrasi sosial politik. Dua hal ini kita insyaAllah sambung di lain kesempatan dengan pembahasan yang lebih khusus.

Penulis: Azaki Khoirudin

1 komentar

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda