Oleh: Muhammad Afriansyah*

 

Semakin direnungi, Kuntowijoyo benar-benar seorang intelektual multitalenta langka yang pernah dimiliki Indonesia. Selain menyandang predikat sebagai sejarawan, budayawan, sastrawan, dan yang fenomenal adalah imam besar muslim tanpa masjid, saya memiliki predikat baru, yaitu peramal. Iya, peramal. Pembaca yang budiman tidak salah membaca kata yang saya tuliskan ini. Kuntowijoyo ahli meramal.

Hal itu saya buktikan lewat tulisan saya sebelumnya yang berjudul Pesan Kuntowijoyo kepada Prabowo dan Sandiaga Uno. Diinspirasi dari cerpen berjudul Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi, dalam buku kumpulan cerpen terbitan Kompas dengan judul yang sama. Begitu juga dengan pengulangan pola peristiwa sejarah mengenai Muslim Tanpa Masjid yang terjadi pertengahan tahun ini akibat pesta demokrasi. Meski tak seheroik kejadian awalnya 21 tahun yang lalu.

Dan kali ini, saya akan kembali membuktikan bahwa predikat peramal yang saya berikan pada Kuntowijyo bukan isapan jempol belaka alias memang benar adanya. Tentunya dengan tema bahasan yang berbeda. Siapkan pikiran yang terbuka, mari kita baca dan kritisi ramalannya.

Revolusi Industri Hari Ini

Setidaknya dua tahun ini, semakin sering saya melihat dan mendengar berbagai tema seminar, diskusi, kajian, workshop, dan lain sebagainya menggunakan embel-embel Revolusi Industri 4.0. Istilah tersebut tampak keren dan sangat modern. Mengikuti perkembangan zaman yang kini serba digital dengan terjadinya tsunami informasi, meminjam istilah David Efendi, yang melanda di hampir seluruh tempat. Institusi perguruan tinggi pun ternyata tidak luput dilanda.

Sungguh, saya penasaran terhadap latar belakang penggunaan istilah tersebut belakangan ini. Juga terhadap isi dari berbagai acara yang menggunakan istilah di atas. Hingga muncul pertanyaan, apa kaitan antara embel-embel Revolusi Industri 4.0 dengan isi seminar, diskusi, kajian, dan workshop tersebut?

Sekarang ini pun sudah semakin banyak kajian yang khusus membahas mengenai Revolusi Industri 4.0 yang sangat erat kaitannya dengan teknologi informasi dan komunikasi. Ada hal menarik mengenai pembahasan ini. Bahwa pada abad yang lalu, sejarawan cum budayawan dan sastrawan Kuntowijoyo sudah “meramalkan” terjadinya industrialisasi.

Beberapa karya yang berbicara mengenai industrialisasi di antaranya adalah Dinamika Sejarah Umat Islam Indonsia, Identitas Politik Umat Islam Indonesia, dan Muslim Tanpa Masjid. Sejauh mana ramalan sang imam besar muslim tanpa masjid ini terhadap industrialisasi?

 

Ramalan Kuntowijoyo

Jika dirangkum, ramalannya mengenai industrialisasi bisa ditengok dari sudut pandang agama, budaya, politik, ekonomi, dan sosial. Sebagian besar kajiannya mengenai berpijak pada kerangka Alquran dan berangkat dari realitas historis umat Islam Indonesia. Secara umum, dalam industrialisasi, Kuntowijoyo membagi periodesasi masyarakat Indonesia menjadi tiga fase yaitu fase agraris, fase industri awal, dan fase industri lanjut. Industrialisasi adalah realitas obejektif kita dewasa ini; karena itu terdapat 2 ciri universal masyarakat industrial, yaitu rasionalisasi dan sistemisasi[1].

Sebagai seorang sejarawan cum budayawan dan sastrawan, ramalan yang akan kita peroleh dari sang imam besar tentunya tidak berkaitan secara langsung dengan perkembangan teknologi industri dari revolusi industri pertama–ditandai dengan penggunaan mesin uap karya James Watt–hingga industri teknologi komunikasi dan informasi yang sudah melekat di tangan dan pikiran kita. Ramalan ini berkaitan dengan dampak industrialisasi terhadap perkembangan masyarakat, terkhusus masyarakat Indonesia.

Dari kelima sudut pandang di atas, hanya sudut pandang agama yang akan kita uraikan dalam tulisan ini. Terkhusus yang berkaitan dengan ekspresi keagamaan umat Islam Indonesia kini.

Industrialisasi dan Sekularisme

Kuntowijoyo menyebutkan bahwa persoalan yang paling menonjol dalam industrialisasi ialah adanya fundamentalisme dan sekularisme[2]. Dalam sudut pandang ini, Kuntowijoyo tidak menghubungkan fundamentalisme kaitannya dalam industrialisasi dengan persoalan akidah. Melainkan fokus pada perilaku atau keagamaan yang bisa kita amati secara langsung.

Berbicara mengenai fundamentalisme, terkadang terminologi ini kita samakan dengan terorisme, penyamaan yang tidak betul menurut Kuntowijoyo. Fundamentalisme (Islam) adalah gerakan anti-industrialisme, bukan gerakan anti industri. Inilah yang mungkin tidak disadari oleh para pengikut fundamentalisme itu sendiri.

Gerakan anti-industrialisme muncul bukan tanpa sebab. Hal ini erat kaitannya dengan dampak negatif yang ditimbulkan oleh industrialisme, di antaranya (1) dominasi masa lalu oleh masa kini, (2) dominasi industri atas alam, dan (3) dominasi bangsa atas bangsa. Sebagai usaha untuk kembali menjalankan sunnah Rasul, mereka cenderung mengenakan pakaian yang umum dikenakan pada zaman Rasul. Seperti jubah/gamis, cadar, celana yang tidak isbal, dan sebagainya. Perilaku demikian mempunyai maksud untuk industri fashion.

Serupa dengan kasus pertama, yang kedua bertujuan kembali ke alam (back to nature). Dalam Bab IV berjudul Realitas Objektif, Kuntowijoyo memberikan contoh penggunaan wewangian berbahan alamiah, untuk menolak wewangian buatan pabrik. Dalam dua studi kasus di atas, Kuntowijoyo merangkum satu pola “kesalahan” yang sama. Yaitu menganggap fashion dan penggunaan wewangian alami yang merupakan perilaku dalam wilayah muamalah sebagai wilayah akidah (bersifat & bernilai ibadah). Hal di atas lazim kita temukan sekarang ini dalam keseharian kita. Di lingkungan tempat tinggal hingga institusi pendidikan maupun kantor-kantor swasta dan pemerintahan.

Kenyataan tersebut pula dengan semakin menjamurnya komunitas hijrah. Tren yang mendapat tempat spesial di ruang-ruang publik, terlebih di kalangan anak muda. Ramalan ini serasa semakin nampak menjadi kenyataan, meski kita harus kritis dan berhati-hati dalam menyampaikan ramalan ini.

Terminologi yang Salah Dipahami

Bukan perkara istilah ramalan yang bakal jadi masalah, melainkan terminologi fundamentalisme yang akan memunculkan reaksi dan aksi “protes”. Sudah jamak kita ketahui bahwa terminologi di atas menjadi sangat sensitif diperbincangkan belakangan ini. Tentunya dengan konteks pembahasan jauh melenceng dari makna asli kata fundamental yang berarti bersifat dasar (pokok); mendasar.

Bergesernya pemahaman akan terminologi fundamental(isme) berkaitan erat dengan dampak negatif yang ketiga. Fundamentalisme memiliki implikasi politik, demikian kata Kuntowijoyo. Hal demikian yang menjadikan negara-negara industrial melabeli fundamentalisme sama dengan terorisme. Atas dasar pelabelan itu, fundamental dalam bahasan politik kini bergeser makna menjadi kata yang dicap negatif, sebagaimana radikal & jihad.

Di bagian akhir pembahasan mengenai sudut pandang agama ini, Kuntowijoyo menuliskan:

Sekulerisme adalah “agama” yang sepenuhnya setuju dengan peradaban industrial. James L. Peacock dan Thomas Kirsch dalam The Human Direction mengatakan bahwa di masa depan semua orang pasti akan menjadi sekuler, seperti orang Amerika.

Persoalan fundamentalisme dan sekulerisme ini menjadi topik pembicaraan yang kian menarik dan banyak diperbincangkan, disadari atau tidak. Karena perosalan tersebut menyangkut eksistensi umat Islam Indonesia, dalam hal ekspresi keagamaannya. Terlepas dari berbagai label yang melekat pada keduanya, umat Islam Indoneisa tidak boleh abai terhadap persoalan fundamentalisme dan sekulerisme kaitannya dengan industrialisasi.

*) Anggota Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surakarta periode 2019/2020

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda