Tahun ajaran baru di perguruan tinggi baru saja dimulai. Berbondong-bondong Mahasiswa baru dengan semangatnya pergi ke kampus mereka masing-masing. Betapa bahagianya mereka memperoleh status barunya sebagai Mahasiswa. Pun demikian di kampus saya, khususnya di fakultas saya, fakultas agama Islam yang fokus pada studi Islam.

Ratusan Mahasiswa baru resmi terdaftar di sana. Angan Saya, para Mahasiswa baru akan mempersembahkan buah pikiran berupa teori, konsep, terobosan, dan gagasan baru terkait ilmu agama.

Harusnya, Saya bahagia melihat angan-angan itu. Namun,  di luar angan-angan, fakta konkrit di depan mata jauh dari nuansa membahagiakan, untuk tidak mengatakan menyedihkan.

Kesedihan itu hadir karena adanya “kegagalan”. Yaitu kegagalan paham segelintir Mahasiswa yang bergelut di studi Islam seperti saya.  Kampus yang semestinya dipenuhi oleh wacana diskursif keilmuan, harus terjerembab dalam jurang indoktrinasi paham keagamaan.

Beberapa Dimensi dalam Studi Islam

Begini, dalam agama Islam itu ada dimensi ajaran dan doktrin. Kedua dimensi tersebut menjadi titik pijak pengembangan Islam di masyarakat. Keduanya saling terkait hingga menimbulkan pola hubungan sebab-akibat, yaitu pola doktrinasi dan diskursif.

Dalam konteks doktrin, Studi Islam membentuk identitas keagamaan seseorang. Fungsi dan peran agama juga timbul dari doktrinasi agama.

Namun dalam konteks diskursif, studi Islam membentuk rasionalitas keagamaan yang memungkinkan tegak kokohnya konstruksi argumentasi substantif. Dari situ juga bisa dirumuskan fungsi dan peran agama di masyarakat kelak.

Baca Juga: Tiga Arah Studi Islam di Perguruan tinggi

Saya punya kisah. Konon ada seorang Mahasiswa di fakultas saya protes kepada seorang dosen pengampu salah satu mata kuliah. Keinginan untuk protes tersebut timbul akibat buku rujukan yang digunakan pada mata kuliah tersebut.

Konon, penulis buku itu, menurut Mahasiswa yang protes tadi, beraliran Syi’ah. Sebagai seorang Sunni, Ia merasa was-was dan takut jikalau ke-Sunni-annya akan luntur. Turunnya kadar keimanan dan murka dari Allah menjadi faktor lain penyebab Ia protes.

Itulah buah dari perilaku indoktrinasi. Indoktrinasi melahirkan suatu ajaran yang bersifat mendorong. Dorongan tersebut membentuk pola-pola ritual atau perilaku yang harus dijalani.  Perilaku yang terus menerus dilakukan, lambat laun melahirkan rupa identitas tertentu.

Nah, identitas yang sudah melekat pada diri dan paham seseorang, dengan segenap upaya , lazim dipertahankan.

Mahasiswa tadi lah contohnya. Ia protes karena identitas yang selama tersemat padanya, sebagai bentuk manifesto keagamaannya, merasa terancam. Jadinya, Ia tak mau tahu atau belajar sesuatu jika dirasa dapat merobohkan dinding identitas agamanya.

Hal tersebut sebenarnya sah-sah saja. Tapi jika konteksnya di kampus yang notabene berperan sebagai medan pengkajian berbagai ilmu, maka menjadi suatu problem.

Tapak Tilas Ulama Terdahulu

Ingat, dulu Islam hanya sebuah doktrin keagamaan. Doktrin tersebut berwujud Alquran dan Hadis Nabi. Kita semua tahu itu. Namun, seiring berkembangnya zaman, para Cendekiawan Muslim terdahulu berpikir keras untuk menelaah, mengkaji, dan meneliti Alquran.

Mereka berupaya menemukan cara bagaimana Alquran bisa dipahami oleh seluruh umat Islam. Maka terciptalah ilmu-ilmu Alquran seperti Ilmu Nuzulil Qur’an, Makki Madani, Nasikh dan Mansukh, Munasabatul Ayat, dan lain-lain.

Hadis pun demikian. Banyak ilmu-ilmu hadis mudawwan karena jerih payah para ulama terdahulu. Ilmu Mushtholah Hadits dan Rijaalul Hadits, contohnya. Bayangkan jika para ulama tak mau mengkaji dengan sungguh-sungguh Alquran dan Hadis. Tak mungkin kita dengar ilmu-ilmu tersebut tempo hari ini.

Bahkan, Ulama terdahulu di samping menelaah keilmuan Islam, juga mempelajari karya-karya orang di luar Islam. Tanpa sedikit pun rasa takut imannya akan luntur. Banyak sekali contohnya. Seperti al-Kindy, al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina dll. Mereka mempelajari karya-karya filsuf barat. Lahirlah Ilmu Sosial, Kedokteran, Matematika, Aritmatika, Sosial, Pemerintahan dan lain sebagainya.

Segenap keilmuan tersebut muncul akibat kesadaran para ulama terdahulu untuk terus belajar dari berbagai sumber. Tak pandang afiliasi paham keagamaan yang ia anut. Bahkan mempelajari karya orang yang jelas-jelas tak beragama Islam.

Seperti itulah seharusnya model studi Islam. Wacana dan semangat diskursif keilmuan lah yang harus ditekankan bukan malah indoktrinasi. Jika terus menerus ditanamkan doktrin, maka akan terjadi stagnasi dalam perkembangan pengetahuan dan keislaman.

Lalu apa sih penyebab Mahasiswa begitu takut mempelajari hal-hal di luar doktrin agamanya? Kenapa mereka cenderung gigih mempertahankan tradisi keilmuan Islam klasik?

Penyebab Stagnansi Pola Pikir

Mohammed Arkoun, Filsuf Islam modern asal Aljazair, dalam bukunya Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru (1994), membahas perihal nalar Islam klasik  dan nalar Islam kontemporer.

Nalar Islam Klasik menurutnya hingga kini belum beranjak dari pembahasan teologis-dogmatis yang serba sakral, kaku dan tidak boleh diperdebatkan lagi. Nalar Islam klasik cenderung memakai metode keislaman yang bercorak normatif model abad pertengahan.

Akibatnya, nalar Islam klasik terjebak dalam pemikiran apologetik yang selalu membangga-banggakan kejayaan masa lalu dan terkungkung dalam logosentrisme.

Mahasiswa yang masih mensakralkan karya ulama terdahulu tanpa berani mengkaji lebih jauh dan melakukan pembaruan terhadapnya, terjebak dalam nalar Islam klasik.

Muhaemin Latief dalam tulisannya berjudul Membumikan Teologi Islam dalam Kehidupan Modern: Mohammed Arkoun (2013) menyatakan bahwa Arkoun punya banyak kegelisahan. Kegelisahan itu berupa kenyataan adanya dikotomi-dikotomi di dalam masyarakat Muslim. Dikotomi tersebut secara garis besar banyak bersentuhan dengan berbagai persoalan yang serba berhadap-hadapan. Seperti Sunni dengan Syi’ah.

Mahasiswa tadi yang tidak ingin mempelajari buku rujukan yang ditulis oleh seseorang yang dianggapnya Syi’i, terjangkit pola pemikiran yang dikotomis. Karena pemikirannya dikotomis, ia anggap yang berseberangan dengannya sebagai lawannya. Hingga tak mau belajar darinya.

Bagaimana Seharusnya Studi Islam?

Seharusnya, Mahasiswa yang mengambil studi Islam bisa membedakan. Kapan agama dijadikan sebagai doktrin dan kapan agama menjadi suatu wacana keilmuan diskursif. Dalam konteks kampus sebagai ruang dikajinya berbagai disiplin ilmu, tentunya kita menjadikan agama sebagai wacana diskursif keilmuan. Bukan ajang indoktrinasi.

Menurut Abdul Karim Soroush dalam bukunya Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama (2002), bahwa agama itu berbeda dengan pemahaman agama. Pemahaman agama tidak dapat dijadikan sebagai kebenaran absolut. Karena itu semua ialah hasil pemikiran manusia.

Studi Islam di kampus itu belajar tentang pemahaman agama. Jadi, dialektika keilmuan agama harus benar-benar hidup di kampus. Agar tercipta pembaharuan-pembaharuan keilmuan agama yang lebih kontekstual.

Fazlur Rahman dalam bukunya Islam and Modernity (1984) mencoba untuk memulai menggunakan lebih kritis dalam membahas ilmu-ilmu keislaman. Hal itu ia lakukan supaya memperoleh hazanah baru dalam keilmuan Islam.

Karena, menurutnya, karya-karya sarjana Islam akhir-akhir ini bersifat repetitif, selalu mengulang-ulang, sarat dengan literatur-literatur yang hanya berupa komentar, penjelasan terhadap suatu karya, dan komentar terhadap komentar tersebut. Sangat sedikit yang membuahkan pikiran-pikiran maupun gagasan-gagasan yang baru.

Sebagai Mahasiswa yang fokus pada studi Islam, mari kita kaji lebih dalam lagi hazanah-hazanah keilmuan Islam. Jangan takut untuk membaca banyak literatur dan referensi keilmuan. Agar tumbuh dari pemikiran kita pikiran dan gagasan keilmuan Islam baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Juga sebagai ikhtiar kita meneladani tradisi ulama-ulama muslim terdahulu. Wassalam.

3 komentar

  1. Assalamualaikum wr wb.
    Gimana kabarnya akhi?
    Tulisan antum cukup menarik bagi sy. Antum mempersoalkan adanya fenomena gagapnya para mahasiswa yang tidak mampu membedakan kapan dan dimana doktrin dipakai atau tidak. Lalu antum juga selayaknya kampus bukanlah arena/ajang dari indoktrinasi.

    Yang saya persoalkan adalah, bukankah keyakinan antum yang tertera pada kalimat “dalam konteks kampus sebagai ruang dikajinya berbagai disiplin ilmu, tentunya kita menjadikan agama sebagai wacana diskursif keilmuan.” itu juga bisa disebut doktrin juga?
    Kenapa sy sebut keyakinan antum itu juga doktrin? Karena doktrin secara istilah memang suatu kepercayaan yang diyakini kebenarannya. Baik itu keyakinan berbasis agama atau terinspirasi dari kelompok atau orang lain. A belief or set of beliefs held and taught by a Church, political party, or other group, itu pengertian Doctrine kalo merujuk pada Oxford Dictionary.
    Nah, dalam konteks ini keyakinan antum terinspirasi dari Abdul Karim Shorous, Arkoun, dll.

    Jadi pelarangan indoktrinasi agama dengan dalil kampus adalah ruang ilmiah menurut saya adalah tidakan “egoisme akademis”. Karena di balik pelarangan tersebut juga dibarengi/diiringi dengan “indoktrinasi” model/gaya lain.

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda