Oleh: Mu’arif

Sebenarnya, Muhammadiyah lahir dari kultur sekolah. Modal sosial K.H. Ahmad Dahlan sebelum mendirikan Muhammadiyah adalah sebuah “Madrasah” (Sekolah Kiai) yang di kemudian hari menjadi model bagi pertumbuhan dan perkembangan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Ketika mendirikan Muhammadiyah, rumusan maksud dan tujuan gerakan ini adalah “memajukan pengajaran” (pendidikan). Dalam proses historis selama seabad lebih, pendidikan menjadi salah satu bidang amal usaha yang turut mengantarkan kesuksesan Muhammadiyah.

Dalam praktik penyelenggaraan lembaga pendidikan, komponen yang paling vital—tanpa mengabaikan komponen-komponen lainnya—adalah keberadaan guru yang harus menanggung beban dan tanggung jawab ganda: sebagai pendidik dan penggerak organisasi. Amal dan dedikasi para guru Muhammadiyah tentunya perlu mendapat apresiasi dan penghargaan, paling tidak dengan menetapkan ‘Hari Guru Muhammadiyah’ sebagai penanda bahwa profesi ini mendapat penghormatan lewat momentum seremonial di Muhammadiyah.

Jejak Historis

Transformasi pendidikan dalam historisitas Muhammadiyah melalui tahapan yang sangat menarik. Bermula dari pengajian ataupun cursusagama yang diselenggarakan secara rutin oleh K.H. Ahmad Dahlan sebelum mendirikan Muhammadiyah (Badilah Zuber, 1940). Dalam praktik pengajian ataupun cursus agama, sang Kiai sebenarnya berperan sebagai muballigh, tetapi gaya dan perilakunya sama sekali tidak menunjukkan sebagaimana mestinya muballigh pada waktu itu. Juga metode penyampaian pelajaran agama tidak hanya sekedar ceramah. Objek dakwah juga bervariasi dengan latar belakang berbeda-beda.

K.H. Ahmad Dahlan yang telah bergabung dalam organisasi Boedi Oetomo(BO) cabang Yogyakarta berpenampilan nyentrik: memakai jas tetapi masih sarungan, dengan selalu membawa arloji gantung. Jika menggunakan persepsi zaman sekarang, perilaku dan penampilan Khatib Aminjelas biasa-biasa saja, sudah lumrah. Tetapi perilaku dan penampilan tersebut dipraktikkan pada awal abad ke-20 ketika pakaian jaz masih dianggap asing—malah sebagian masyarakat Islam mengharamkannya.

Sebagai seorang muballigh, K.H. Ahmad Dahlan juga menggunakan metode yang tergolong aneh pada masanya. Sebab, sang Kiai sering mengajak berdialog dengan peserta pengajian. Tambah aneh lagi, sang Kiai menggunakan alat musik (biola) ketika menyampaikan pengajian kepada anak-anak muda. Bahkan, sumber koran Sin Popernah memuat berita menarik bahwa K.H. Ahmad Dahlan telah mengajak santri-santrinya berwisata ke Taman Sri Wedari di Solo.

Sedangkan pemetaan objek dakwah yang bervariasi lewat pembentukan grup-grup pengajian seperti, grup pengajian Wal-Ashri diselenggarakan selepas waktu Ashar. Selepas waktu Maghrib, ketika para buruh batik di Kampung Kauman selesai bekerja, Sang Kiai menyelenggarakan pengajian lalu dikenal dengan nama Maghribi School(sekolah habis Maghrib). Sang Kiai juga menyelenggarakan pengajian keliling gang dan kampung, lalu muncul grup pengajian Taqwimuddin, Thaharatul Qulub, Iqamatuddin, Fathul Asrar wa Miftahussa’adah(H.Mh. Mawardi, 1978).

Dengan demikian, sudah jelas bahwa sosok K.H. Ahmad Dahlan ketika menyampaikan pengajian ataupun cursus agamasebenarnya lebih merepresentasikan peran yang saat ini dikenal sebagai profesi guru. Dengan pemetaan objek dakwah dan penyampaian materi pengajian yang unik, sebenarnya K.H. Ahmad Dahlan telah mempraktikkan sistem klasikal, penggunaan metode belajar kritis (dialog), dan penerapan media pembelajaran.

K.H. Ahmad Dahlan telah meluaskan radius pergaulannya setelah bergabung dalam BO cabang Yogyakarta. Apalagi Khatib Amin juga mendapat kesempatan mengajar di Kweekschool Jetis dan OSVIA Magelang. Maka pada akhir tahun 1911, sang Kiai mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyahdengan murid-murid pertama berjumlah 9 anak. Selain berperan sebagai guru di madrasah ini, Khatib Amin juga sekaligus sebagai pimpinan (kepala) madrasah.

Selanjutnya, atas saran Mas Radji, seorang murid Kweekschool Jetis yang berkunjung ke madrasah tersebut, K.H. Ahmad Dahlan mendapat gambaran bagaimana mengelola sekolah di bawah payung sebuah organisasi (Deliar Noer, 1996).

Seorang rekan guru di Kweekschool Jetis membantu menyusun draf StatutenMuhammadiyah. Karena dirancang oleh para intelektual yang berprofesi sebagai guru, maka gerakan Muhammadiyah yang didirikan pada tanggal 18 November 1912 bertujuan untuk: “menjebarkan pengadjaran Igama Kandjeng Nabi Moehammad sallalahoe alaihi wasallam kepada pendoedoek boemipoetra di dalam residensi Djokjakarta…”(Statuten1912 artikel 2 point a). Peran para guru bumiputra masih berlajut dalam proses legalitas Muhammadiyah.

Empat Alasan

Dengan membaca pijakan historis di atas, paling tidak terdapat empat alasan yang dapat menjadi pertimbangan untuk memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para guru yang telah berjuang di Muhammadiyah. Pertama, modal sosial yang dimiliki K.H. Ahmad Dahlan ketika hendak mendirikan Muhammadiyah adalah sebuah “madrasah” (sekolah kiai). Dengan demikian, sudah tepat ketika disumpulkan bahwa Muhammadiyah lahir dari kultur sekolah. Sedangkan komponen vital dalam penyelenggaraan sekolah adalah kehadiran figur guru.

Kedua, jika modal sosial K.H. Ahmad Dahlan adalah sebuah “madrasah,” maka ketika Muhammadiyah didirikan yang berperan sebagai aktor pendiri tidak lain adalah sosok yang berprofesi sebagai guru. Fakta historis telah menjelaskan bahwa perancang anggaran dasar Muhammadiyah pertama adalah seorang guru negeri yang mengajar di Kweekschool di Jetis. R. Soesrosoegondo sang perancang draf StatutenMuhammadiyah adalah kawan dekat K.H. Ahmad Dahlan, berprofesi sebagai guru Bahasa Melayu. Maka ancangan dan rumusan tujuan organisasi tidak bisa lepas dari konsep-konsep yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Ketiga, setelah Muhammadiyah didirikan oleh para guru bumiputra, maka gerakan pertama yang paling menonjol adalah mendirikan sekolah-sekolah dengan mengikuti model “madrasah” yang telah digagas K.H. Ahmad Dahlan. Pada fase awal pertumbuhan sekolah-sekolah Muhammadiyah, memang terdapat bidang amal usaha yang terkesan tumpang tindih, seperti Bagian Sekolahan dengan Bagian Tabligh.

Pada kenyataannya, gerakan sekolah-sekolah Muhammadiyah memang berfungsi sebagai syi’ar dakwah Islam, atau sebaliknya, gerakan dakwah Muhammadiyah menggunakan jalur pengajaran agama. Pada fase-fase pertumbuhan Muhammadiyah, peran para guru selain menjalankan fungsi sebagai pengajar juga merangkap sebagai aktor dan penggerak organisasi yang baru berusia seumur jagung.

Keempat, beban dan tanggung jawab yang cukup berat dari profesi sebagai guru di Muhammadiyah. Sebab, selain berperan menjalankan profesi guru, mereka juga mengemban amanat sebagai muballigh atau setidak-tidaknya dituntut menyampaikan syi’ar dakwah Muhammadiyah. Inilah beban ganda guru Muhammadiyah yang berbanding terbalik dengan hak-hak yang mereka dapatkan.

Dengan pertimbangan tersebut di atas, maka sudah saatnya Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menginisiasi ‘Hari Guru Muhammadiyah’ sebagai bentuk apresiasi dan sekaligus penghormatan atas peran dan tanggung jawab sebagai guru yang hampir tidak terbalaskan. Apalagi, peran historis guru di Muhammadiyah nyaris tak terbantahkan.

Momentum Historis

Pertanyaannya, apakah momentum tersebut dapat menjadi pijakan historis dalam proses inisiasi Hari Guru Muhammadiyah? Lewat tulisan ini, penulis mengajukan dua momentum historis yang relevan untuk kebijakan Hari Guru Muhammadiyah. Pertama, momentum rapat anggota pada tanggal 17 Juni 1920 di Gedung Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah di Jalan Djagang WestKauman (kini Jalan Kauman no. 44) yang langsung dipimpin oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Dalam kesempatan tersebut, HB Muhammadiyah telah membentuk empat unsur pembantu pimpinan meliputi: Bahagian Sekolahan, Bahagian Tabligh, Bahagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), dan Bahagian Taman Poestaka. Haji Hisyam yang didapuk sebagai ketua pertama HB Muhammadiyah Bahagian Sekolahan menyatakan bersedia dan menyampaikan visi-misinya.

Kedua, momentum openbare vergadering(rapat umum terbuka) Bahagian Sekolah yang pertama kali digelar pada 5 Desember 1920 di gedung Standaardschool Muhammadiyah Suronatan. Inilah rapat umum terbuka yang diselenggarakan oleh HB Muhammadiyah Bahagian Sekolahan pasca pembentukan departemen ini pada 17 Juni 1920. Rapat yang dibuka oleh K.H. Ahmad Dahlan ini dihadiri 2.000 peserta dari berbagai kalangan: jajaran HB Muhammadiyah dan departemen-departemennya, tamu undangan dari Kraton Yogyakarta, perwakilan dari pemerintah kolonial, para guru Muhammadiyah, dan utusan media massa.

Dengan memahami latar belakang historis peran strategis dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah di atas, juga dengan sajian dokumentasi yang menjadi pijakan dalam perumusan Hari Guru Muhammadiyah, kini keputusan ada di tangan jajaran pengurus Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah. []

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda