Percaya atau tidak, ketika membaca sejarah pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah, akan selalu identik dengan narasi pembaruan pendidikan Islam di Indonesia.

Sejak tahap perintisan pada masa K.H. Ahmad Dahlan hingga memasuki fase perkembangan Muhammadiyah sampai keluar Pulau Jawa, tradisi pengajaran (pengajian agama) terus dibangun hingga berbuah sekolahan. Bermula dari pengajian agama, lalu menjadi pengajaran formal, hingga berbuah sekolahan lengkap dengan seluruh instrumennya.

Tumbuhnya kultur sekolah seiring dengan pembentukan kepengurusan Muhammadiyah. Pola semacam ini tidak hanya berlaku di pusat (Djokjakarta), tetapi juga terjadi di daerah-daerah seiring tumbuhnya kultur sekolah. Sekaligus kepengurusan Muhammadiyah.

Setahun sebelum mendirikan Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan (Khatib Amin) sebenarnya telah menginisiasi dan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Yang bertempat di Kampung Kauman, Djokjakarta (1911).

Dengan mendirikan madrasah—pada waktu itu dikenal dengan sebutan “Sekolah Kiai”—dan mengajar, maka K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang guru. Ketika mendirikan Muhammadiyah (1912), Khatib Amin telah memiliki modal sosial, yaitu “Sekolah Kiai” (madrasah).

Baca Juga: Akal Sehat Kiai Dahlan

Formula Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah inilah yang nantinya menjadi salah satu instrumen dalam gerakan Muhammadiyah. Di mana terdapat kepengurusan Muhammadiyah, maka hampir dipastikan di situ terdapat sekolah Muhammadiyah.

Dengan membaca narasi historis pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah dalam perspektif pendidikan, maka gerakan modernis yang diinisiasi oleh K.H. Ahmad Dahlan pada awal abad ke-20 ini sebenarnya termasuk gerakan pembaruan pendidikan Islam di tanah air. Figur K.H. Ahmad Dahlan, sang inisiator pendiri Muhammadiyah, dapat diletakkan sebagai “guru pertama di Muhammadiyah”.

Dengan modal sosial pertama berupa Sekolah Kiai, K.H. Ahmad Dahlan kemudian merancang tujuan gerakan Islam modernis. Yaitu lewat Persyarikatan Muhammadiyah sebagai “gerakan yang memajukan pengajaran (pendidikan).”

Selain fakta historis Sekolah Kiai sebagai modal sosial, pintu masuk untuk memahami narasi historis pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah perspektif pendidikan adalah dengan membaca kembali dokumen legal-formal Muhammadiyah pada tahun-tahun pertama.

Penyusun Draf Statuten Muhammadiyah

Dalam Statuten (Anggaran Dasar) pertama Muhammadiyah (1912) pada artikel 2 point a terdapat rumusan tujuan sebagai berikut: “menjebarkan pengadjaran Igama Kandjeng Nabi Moehammad sallalahoe alaihi wasallam kepada pendoedoek boemipoetra di dalam residensi Djokjakarta…

Siapakah yang menyusun draf Statuten Muhammadiyah sehingga rumusan tujuan Muhammadiyah selaras dengan gerakan pembaruan Pendidikan Islam? Berdasarkan sumber Berita Tahoenan Moehammadijah Hindia Timoer 1927(h. 90), sosok yang merancang stauten Muhammadiyah adalah Raden Sosrosoegondo.

Dia ternyata kawan dekat K.H. Ahmad Dahlan, seorang yang berprofesi sebagai guru di Kweekschool Jetis. Sosrosoegondo termasuk tokoh yang meyakinkan K.H. Ahmad Dahlan supaya membentuk sebuah organisasi untuk memayungiMadrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.

Tidak hanya itu, Soesrosoegondo juga turut bergabung dalam Muhammadiyah ketika pada tahun 1920 Hoofdbestuur(HB) Muhammadiyah membentuk Departemen Pengajaran (Bahagian Sekolahan). Ia adalah sekretaris pertama Bahagian Sekolahan dengan ketua pertama Haji Hisyam.

Pada dua tahun pertama gerakan Muhammadiyah (sekitar 1912-1913), pola gerakan ini memang masih terpusat di Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah yang berkantor di Jalan Kauman no. 44. Artinya, seluruh amal usaha dan kegiatan Muhammadiyah di bawah kendali langsung 9 (Sembilan) jajaran HB Muhammadiyah.

Perkembangan Muhammadiyah

Tetapi memasuki tahun 1914, seiring pembaruan izin operasional kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, ruang lingkung gerakan Muhammadiyah telah meluas. Yaitu meliputi Hindia-Nederland (lihat Statuten 1914 artikel 2 point a).

Namun perlu diketahui bahwa definisi dan ruang lingkup “Hindia-Nederland” pada waktu itu masih sebatas territorial “Pulau Jawa dan Madura.” Dalam Statuten kedua, tujuan Muhammadiyah (artkel 2 point a) masih tetap dalam kerangka pembaruan Pendidikan Islam dengan rumusan yang berbeda: “Memadjoekan dan menggembirakan pengadjaran dan peladjaran Igama Islam di Hindia-Nederland.

Dalam Statuten ketiga (1921), ruang lingkup gerakan Muhammadiyah telah meliputi seluruh Nusantara dengan rumusan tujuan yang juga masih dalam kerangka pembaruan pendidikan Islam.

Sebuah catatan penting. Beberapa literatur kemuhammadiyahan mutakhir memang banyak yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah pertama kali berkembang di luar Pulau Jawa adalah di Minangkabau. Yaitu pada sekitar 1927.

Namun, sumber ini terpaksa harus direvisi seiring ditemukannya sumber baru yang memberi informasi tentang perkembangan Muhammadiyah di luar Pulau Jawa pada tahun 1922, yaitu di Sungailiat, Bangka.

Informasi perluasan gerakan Muhammadiyah ke luar pulau Jawa yang pertama kali ini diketahui lewat “Verslag Lampahing Oetoesan H.B.M.D. dateng Soengeiliat (Banka)” (baca Soewara Moehammadijahnomor 11/th ke-3/1922).

Pada waktu itu, Haji Fachrodin menjabat sebagai Bendahara Centraal Sarekat Islam(CSI) dan sekaligus ketua HB Muhammadiyah Bahagian Tabligh. Ia bersama Haji Abdul Aziz (sekretaris) menghadiri openbaarvergaderingSarekat Islam (SI) cabang setempat.

Umat Islam di Sungailat menyatakan bersedia mendirikan cabang Muhammadiyah Bangka diawali dengan pembentukan sekolahan.

Dengan perluasan gerakan Muhammadiyah, sekolah-sekolah Muhammadiyah tumbuh subur. Tidak hanya di Residensi Djokjakarta saja, tetapi telah hadir di Batavia, Solo, Pekalogan (termasuk Pekajangan), Kepanjen (Malang), dan Semarang.

Bahkan telah hadir di Bangka pada tahun 1922. Pola gerakan Muhammadiyah di luar Residensi Djokjakarta, bahkan di luar Pulau Jawa, selalu mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah sejak K.H. Ahmad Dahlan merintisnya. Yaitu diawali dengan berdirinya sekolah atau madrasah sekalipun masih sangat sederhana.

Muhammadiyah Lahir dari Kultur Sekolah

Untuk menyebut beberapa contoh, di Djokjakarta terdapat gerombolan pengajian Fathul Asrar wa Miftahussa’adah(FAMS), Taqwimuddin, dan lain-lain. Yang pada akhirnya menjadi lembaga pendidikan Islam modernis.

Di Batavia terdapat perkumpulan Idzharul Haq, sebuah lembaga pendidikan Islam yang di kemudian hari bergabung dengan Muhammadiyah. Di Solo, perkumpulan Sidik Amanah Tabligh Vathonah (SATV) yang menyelenggarakan pendidikan Islam dan penerbitan majalah. Di kemudian hari bergabung dengan Muhammadiyah setempat.

Di Pekalongan, perkumpulan Nurul Islam adalah lembaga pendidikan non formal yang kemudian bergabung dengan Muhammadiyah. Begitu juga di Pekajangan (perkumpulanAmbudi Agama), Kepanjen, Semarang, dan lain-lain.

Dengan membaca pola pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah, baik di pusat (Djokjakarta) maupun di daerah-daerah, secara mudah dapat kita simpulkan. Bahwa organisasi yang diinisiasi pertama kali oleh K.H. Ahmad Dahlan ini sebenarnya lahir dari ”kultur sekolah.”

Sejak proses pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah pada masa K.H. Ahmad Dahlan hingga tahapan penyebaran ke luar Pulau Jawa selalu melibatkan komponen-komponen dalam pendidikan: guru, pengajaran, dan sekolahan.

Sebelumnya telah diketahui bahwa proses inisiasi Muhammadiyah telah melibatkan guru pertama di Muhammadiyah, yaitu K.H. Ahmad Dahlan sendiri. Sedangkan proses legalisasi dan formalisasi, terutama ketika penyusunan Statuten Muhammadiyah pertama, telah melibatkan seorang guru dari Kweekschool di Jetis.

Dalam proses korespondensi dengan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, K.H. Ahmad Dahlan banyak dibantu oleh para guru yang bergabung dalam kepengurusan Boedi Oetomo(BO) cabang Djokjakarta.

Sampai pada tahapan perkembangannya, Muhammadiyah selalu identik dengan pengajaran dan sekolahan. Sebab, pertumbuhan cabang/ranting Muhammadiyah di suatu daerah selalu dibarengi dengan tumbuhnya pengajaran (pengajian agama) dan sekolahan.

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda