Oleh : Sifa Lutfiyani Atiqoh

Pada 16 Agustus 127 tahun lalu, di sebuah desa kecil bernama Bakur, Sawahan, Madiun, lahir seorang anak laki-laki yang digadang-gadang akan menjadi orang besar. Oemar Said Tjokroaminoto namanya. Lahir sebagai anak kedua dari 12 bersaudara seorang priyayi bernama R.M Tjokroamiseno menjadikan ia memiliki kehidupan yang cukup mapan pada masa itu.

Tjokro merupakan keturunan priyayi dan kiai. Ayahnya seorang pangreh dengan pangkat wedana, Kakek dari keluarga ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo. Sedangkan kakek buyutnya merupakan ulama pemilik pondok pesantren di Tegal Sari Pororogo bernama Kiai Bagoes Kesan Besari. (Aji Dedi Mulawan, 2015)

Oemar Said kecil belajar agama dari kakek buyutnya. Nilai-nilai Islam yang ia pelajari semasa kecil inilah yang dijadikannya dasar dalam memahami Islam dalam tema-tema yang lebih kompleks.

Pendidikan dan Mulai Berontak

Berkat diberlakukannya politik etis pemerintahan kolonial Hindia Belanda saat itu Oemar Said muda dapat menikmati sekolah Belanda. Dalam rangka melestarikan status kepriyayiannya, ia menempuh OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Amtenaren) sebuah sekolah yang harus di tempuh untuk dapat menjadi pejabat daerah dan bekerja pada Belanda.

Pada Usianya yang ke 20 ia lulus dari OSVIA Magelang. kemudian ia bekerja sebagai juru tulis di Glodog Purwodadi dan di Kesatuan Administratif Bumi Putra di Ngawi. Saat itu jugalah ia dinikahkan dengan Soeharsikin anak dari R. M. Mangoensoemo seorang Wakil Bupati Ponorogo.

Melihat keadaan masyarakat pribumi yang tersiksa, rupanya menyadarkan Tjokro untuk mulai berontak. Mulai melawan kolonialisme Belanda dan budaya feodal masyarakat. Ia melepaskan gelar kepriyayiannya dan juga mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah berkarir sebagai juru tulis selama tiga tahun. Ia kemudian pergi keberbagai tempat untuk mengaji kitab di banyak pesantren. Sebelum akhirnya ia mengajak istrinya untuk ikut ke Semarang dan melepaskan ikatan sebagai ambtenaar.

Di Semarang Tjokroaminoto kemudian menjadi kuli pelabuhan yang kelak membuatnya bertemu banyak pekerja kelas bawah dan menyadarkan kesadaran politik proletarnya samapai akhirnya membentuk “Serekat Sekerja” dengan tujuan untuk mengakat harkat para kelas pekerja.

Pilihan Tjokroaminoto untuk melawan budaya feodal, sungguh layak mendapat apresiasi. Pada masa itu, banyak orang yang menginginkan kedudukannya agar bisa lepas dari kekejaman pemerintah kolonial Belanda, ia justru melepaskannya. Begitulah dalam praktiknya Tjokroaminoto kerupakan seorang yang anti kemapanan, selama kemapanan itu berada diatas penderitaan rakyat.

Tahun 1907, Tjokro beserta Istri dan anaknya pindah ke Surabaya. Ia melanjutkan sekolah ke BAS (Burgelijke Avond School) mengambil jurusan teknik mesin. Setelah lulus dari BAS ia sempat bekerja sebgai juru mesin sebelum akhinya menjadi juru kimia di pabrik gula Rogojampi Surabaya. Tjokro memiliki kesibukan lain disamping pekerjaannya, yakni menulis artikel dibeberapa surat kabar, diantaranya adalah oetoesan Hindia dan Fadjar Asia. Kemudian barulah pada tahun 1912 Tjokroaminoto masuk menjadi anggota sarekat Islam, disinilah karir politik dan pergulatan pemikirannya mengenai Islam dan Sosialisme memulai babak baru.

Tjokroaminoto dan SI

Setelah Tjokroaminoto bergabung di SI, karirnya pun semakin melejit. Ia juga pernah didaulat menjadi Ketua Serikat Islam yang anggotanya mencapai jumlah 2.500.000 orang di tahun 1919. sebuah organisasi yang memiliki basis massa yang banyak pada masa itu. (Aji Dedi Mulawan, 2015)

Dalam perjalannya, beberapa komplotan kaum marxis muda–Semaoen, Alimin, Darsono dan Musso–dalam tubuh SI ingin menjadikan SI sebagai sebuah gerakan sosialis-komunis radikal revolusioner. Namun, hal tersebut ditolak oleh Pemimpin Central Sarekat Islam (CSI) saat itu,  H.O.S Tjokroaminoto–tidak lain merupakan mentor anak-anak muda tersebut.

Berkat internalisasi paham sosialisme-marxisme di tubuh Sarekat Islam, menjadikan organisasi ini pecah menjadi dua, SI merah menjadi sempalan dari SI Pusat. SI merah digawangi oleh Semaoen, dkk dan SI putih dibawah kepemimpinan Tjokroaminoto dan Agus Salim. kedua kubu tersebut membangun iklim kontestasi politik di tubuh SI dalam rangka merebutkan pengikut.

Jadi, dalam rangka membendung semakin meluasnya pemikiran sosialisme-marxisme ditubuh SI, dan untuk menyatukan perpecahan di tubuh SI, Tjokroaminoto mengejawantahkan gagasan Islam sosialismenya. Hasil refleksinya selama ini mengenai Islam dan sosialisme.

Gagasan Sosialisme Islam

Q.S. Al-Baqarah ayat 213, yang memiliki arti “sesungguhnya seluruh umat manusia itu bersaudara” dijadikan oleh Tjokroaminoto sebagai dasar pemikiran Islam sosialisnya.

Ia merujuk pada pengertian sosialisme barat. Sosialisme berasal dari bahasa Latin Socius yang memiliki makna teman atau sahabat. Dari pengertian inilah Tjokroaminoto menyadari bahwa sesungguhnya ajaran Islam dalam prakteknya sarat akan nilai-nilai sosialisme.

Dalam bukunya yang berjudul Islam dan Sosialisme, ia memberi contoh dengan gamblang pertautan antara Islam dan Sosialisme. Ia memberi contoh bahwa setiap hari Jumat, baik kaya maupun miskin dari berbagai macam suku bangsa dan warna kulit harus datang dan berkumpul dimasjid untuk menjalankan shalat dengan tidak membadakan sedikitpun perihal tempat maupun derajat. Tak hanya setiap jumat tapi juga setiap idul Adha dan Idul Fitri.

…. Kumpulan besar yang kejadian pada tiap-tiap tahun ini bukan saja menunjukkan persamaan harga dan persamaan derajat di antara orang dengan orang, tetapi juga menunjukkan persatuan maksud dan tujuan pada jalan kemanusiaan….

Sebagai implikasi dari pernyataan “sesungguhnya umat manusia itu bersaudara”, Tjokroaminoto berpendapat bahwa wajib bagi kita berusaha untuk mencapai keselamatan bagi Saudara-saudara kita. Keselamatan disini bukan sekadar menyelamatkan diri dari kemiskinan spirituil tapi juga kemiskinanan materiil. Gagasan tersebut tidak lain adalah untuk memberdayakan masyarakat pribumi yang saat itu hidup menderita dibawah cengkraman Belanda.

Lebih jauh lagi, Tjokroaminoto menganalogikan masyarakat itu seperti satu kesatuan anggota badan. Mereka tidak dapat hanya hidup bagian per bagian, melainkan mereka bersinergi dalam menjalankan tugas.

Sosialisme Islam bagi Tjokroaminoto pada intinya adalah rasa persaudaraan. Rasa persaudaraan itu dijelaskan lebih lanjut sebagai pengupayaan keselamatan yang tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. Ia bukan kaum sosialis puritan saklek yang menginginkan pemerataan ekonomi dengan jalan penguasaan aset produksi secara komunal.

Dalam bukunya, Sosialisme Islam yang di gagas oleh Tjokroaminoto adalah wajah lain dari Sosialisme. Tjokroaminoto menjelaskan sosialisme Islam dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana ia mengambil contoh dari perilaku sehari-hari Nabi Muhammad SAW.

Ia menginginkan persaudaraan terjalin dengan saling berbagi dan menghapus kelas sosial. Lebih jauh lagi praktek-praktek sosialisme dalam Islam akan menyelamatkan masyarakat dari kemiskinan ekonomi, moral dan spiritual. Ia mendakwahkan sosialisme Islam itu lewat buku, pidato dan kelas-kelas kursus yang diadakan SI.

Gagasan sosialisme Islam Tjokroaminoto muncul ditengah berkembangnya wacana sosialisme barat yang merebak di kalangan intelektual saat itu. Secara konten adalah untuk menyelamatkan masyarakat pribumi saat itu dalam keadaan menderita dan terjajah, juga memiliki maksud politis untuk membendung paham sosialis-komunis menyebar di Indonesia.

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda