Oleh: Ilham Ibrahim

Setelah komputer berhasil mengalahkan manusia dalam papan catur, banyak yang beranggapan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intellegent/AI) selamanya tidak akan pernah mengalahkan manusia dalam permainan Go. Akan tetapi anggapan itu mulai luntur pada tahun 2016 setelah juara dunia Go asal Korea Selatan, Lee Sedol, kalah telak 4-1 oleh AI yang dikembangkan Google Deep Mind dengan nama AlphaGo.

Sebelum pertandingan, Sedol sangat yakin dirinya akan dengan mudah memenangkan pertandingan akbar tersebut. Namun akhirnya Sedol menunduk lesu setelah dirinya sadar banyak gerakan tak terduga dari cara bermian Alpha Go, bahkan selebihnya tidak lazim. Menurut Sedol, Alpha Go seperti tahu dirinya akan bergerak ke mana.

Sejak meletupnya revolusi industri 1.0 yang ditandai dengan penemuan manusia akan mesin uap, orang takut mekanisasi akan merebut pekerjaan mereka dan menyebabkan pengangguran massal. Akan tetapi dalam sejarahnya, selalu ada yang bisa dikerjakan manusia yang lebih baik dari mesin.

Sepanjang mesin bersaing dengan manusia dalam kerja fisik, ada banyak perkejaan yang bersifat kognitif yang bisa dilakukan oleh manusia. Artinya, untuk setiap pekerjaan yang tergantikan mesin, setidaknya satu pekerjaan baru diciptakan. Namun, setelah manusia mengembangkan kecerdasan buatan, bahkan dapat mengungguli Lee Sedol dalam permainan Go, apa yang akan terjadi dengan pekerjaan yang bersifat kognitif seperti dokter, psikolog, seniman, dan… ulama?

Bioteknologi dan Infoteknologi

Menurut Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for 21st century, kecerdasan buatan lahir akibat revolusi kembar: bioteknologi dan infoteknologi. Menurutnya, ahli biologi mengartikan misteri tubuh manusia, khususnya otak dan perasaan. Sebelumnya, kita memahami bahwa perasaan merupakan argument intuitif manusia yang paling purba.

Namun setelah revolusi biotek, para saintis menunjukan bahwa perasaan tidak lebih dari sekadar proses biokimia untuk menghitung probabilitas kelangsungan hidup dan reproduksi dengan cepat. Sederhananya, perasaan sebenarnya merupakan perhitungan matematis di alam bawah sadar kita, dan tidak mencerminkan kualitas spiritual apapun.

Misalnya ketika seekor tikus ingin mencuri potongan tempe di meja makan, namun saat berjalan beberapa langkah, dia melihat manusia lewat. Secara otomatis, muncul perasaan takut dalam diri si tikus. Rasa takut itu muncul lantaran jutaan neuron di dalam otak dengan cepat menghitung data yang relevan dan menyimpulkan bahwa jika dirinya sampai nekat mengambil potongan tempe, probabilitas kematiannya tinggi.

Sama dengan manusia. Ketika saya berselancar di Instagram, lalu membuka akun Nissa Sabyan. Secara otomatis entah kenapa jantung saya berdetak cepat (mungkin jatuh cinta) dan tanpa sadar jutaan neuron dalam probabilitas komputasi otak saya menghasilkan kesimpulan bahwa lamaran saya pasti ditolak Nissa!

Pada saat yang bersamaan kita mengalami revolusi infotek. Sekarang ini ahli komputer memberi kita kekuatan pemrosesan data yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut Harari, penemuan utamanya adalah sensor biometrik. Sensor ini dapat mengubah proses biologi seperti detakan jantung dan aliran darah menjadi informasi elektronik yang dapat disimpan dan dianalisis oleh komputer.

Dengan data biometrik yang cukup, dan daya komputasi yang cukup, sistem pemrosesan data eksternal dapat dengan mudah meretas semua keinginan, keputusan, opini, perasaan manusia. Otak kita dapat dimanipulasi komputer. Mereka bisa tahu persis siapa Anda.

Signifikansi Peran Algoritma

Menurut Harari, ketika biotek dan infotek berintegrasi, maka lahirlah bayi yang bernama algoritma Big Data. Kebanyakan orang tidak mengenal diri mereka sendiri dengan baik, tapi mesin algoritma dapat mengenali diri Anda lebih baik daripada yang Anda pikirkan.

Misalnya, ketika Ahmad dihadapkan harus memilih antara Jokowi atau Prabowo, mesin algoritma akan menganalisis setiap gerakan mata, tekanan darah, detakan jantung, lalu lintas ilmpuls dalam otak, lalu menghasilkan kesimpulan probabilitas pilihannya akan jatuh pada Golput. Sebab komputer akan tahu saat Ahmad melihat gambar Jokowi maupun Prabowo, yang terbayang dalam benaknya adalah Sexy Killer. Komputer tahu ada proses biologi yang memiliki pola yang sama antara Ahmad dan Golputers lain di seluruh Indonesia.

Algoritma juga bisa menghasilkan karya yang secara personal kita sukai. Contoh paling sederhana adalah pilihan komedi. Misalnya, ketika Budi menonton adegan Sule nyanyi lagu Andeca-Andeci di akun youtube Opera Van Java, dia tertawa pulas menikmati kekonyolan pelawak asal Bandung tersebut.

Namun, saat Budi kemudian memutuskan untuk melihat penampilan Uus stand up comedy secara on air, Budi terpaksa tertawa saat mendengar joke-joke recehnnya untuk sekadar menghargai usaha Uus. Setelah puas nonton stand up comedy, Budi kemudian nonton Warkop DKI. Melihat adegan Dono tercebur ke dalam kolam bersama gerobak, membuat Budi tertawa kecut; dilema antara bahagia dan merasakan penderitaan.

Dalam jangka panjang, algoritma akan belajar bagaimana cara menciptakan komedi yang secara personal disukai oleh Budi seorang. Dengan menyensor aktivitas otak, tekanan darah, detakan jantung, algoritma akan menganalisis plot-plot mana saja yang akan membuat Budi tertawa kegirangan, di bagian mana yang akan membuat Budi tampak kesal, dan pada bagian mana Budi akan tersenyum kecut. Algoritma akan menghasilkan komedi yang dipersonalisasi, yang hanya Budi seorang saja yang akan tertawa pulas.

Akan tetapi bila menggunakan database biometrik yang dikumpulkan dari jutaan orang, algoritma ini akan dapat mengetahui tombol biokimia mana yang harus ditekan untuk menghasilkan lawakan global yang akan membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Jika algoritma telah mencapai titik ini, maka dia akan menghasilkan lawakan yang paling lucu di dunia.

Tidak hanya lawakan, termasuk bidang lain. Dengan menganalisis database biometrik yang dikumpulkan dalam jumlah besar, algoritma akan mampu menghasilkan lukisan paling indah, puisi paling nyesek, syair paling menghujam kalbu, dan musik indie yang paling mengerti akan senja. Pada akhirnya, wujud algoritma seperti pak Ndul: ahlinya ahli, intinya inti, dan core of the core.

Sebagai Tantangan Majelis Tarjih

Menurut Harari, sepanjang sejarah, pasar kerja terbagi menjadi tiga sektor utama: pertanian, industri, dan jasa. Pertanian merupakan jenis pekerjaan yang paling tua di dunia. Saat revolusi industri, masyarakat di negara-negara maju yang merasakan dampaknya mulai meninggalkan ladang dan berubah jadi buruh pabrik, sebagian bekerja di sector jasa.

Namun lambat laun pekerja industri juga menipis, sedangkan sektor jasa membengkak, termasuk ulama. Ketika algoritma dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari manusia, apa yang harus dilakukan ulama? Lebih jauh, bagaimana dengan otoritas keagamaan?

Pada zaman Nabi, Rasulullah merupakan figur yang paling otoritatif menyangkut persoalan keagamaan. Segala permasalahan dapat cepat teratasi karena sahabat dengan mudah menanyakannya langsung pada Rasulullah. Sepeninggalan Nabi, teks Qur’an dan Sunah terhenti dan tidak mungkin bertambah, sementara persoalan keagamaan tidak pernah berakhir.

Akhirnya, otoritas keagamaan untuk hal-hal yang belum disinggung Nabi diserahkan pada Ulama. Dalam kasus Muhammadiyah, persoalan keagamaan diserahkan pada Majelis Tarjih. Di abad sekarang, otoritas itu kemungkinan akan berubah lagi dari Majelis Tarjih (Ulama) ke algoritma.

Selama ini Majelis Tarjih telah menghasilkan banyak berbagai produk putusan dan fatwa. Jika kekayaan data itu dianalisis oleh mesin algoritma, maka mesin itu akan belajar sendiri bagaimana pola-pola Majelis Tarjih membuat suatu kesimpulan hukum.

Lebih mengerikan lagi ketika database biometrik warga Muhammadiyah terhadap putusan dan fatwa tarjih tersedia kemudian diolah dan dianalisis mesin algoritma, maka boleh jadi kesimpulan hukum yang dihasilkannya akan lebih Tarjih daripada Majelis Tarjih itu sendiri. Kalau prediksi ini tidak keliru, warga persyarikatan Muhammadiyah akan berbondong-bondong bertanya pada algoritma, bukan ke surel Majelis Tarjih.

Kalimat di atas memang seperti mengada-ada. Namun patut untuk diperhatikan menurut Harari saat ini banyak bank, perusahaan, dan Lembaga menggunakan algoritma untuk menganalisis data dan membuat keputusan tentang kita. Misalnya sekarang di negara maju sudah muncul AI yang menganalisis ayunan jantung dan aliran darah kita menjadi sebuah kebijakan.

Kenapa Donald Trump begitu konservatif, sebab dirinya tahu database biometrik warga Amerika, lalu mesin algoritma menyuruhnya untuk mengatakan ‘Make America Great Again’. Pada akhirnya dia jadi penguasa negeri paman Sam.

Bukan tidak mungkin di masa depan, entah di abad 21 atau 22, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggunakan mesin algoritma untuk menenangkan anggotanya terkait kekecewaan hasil pemilihan presiden.

Nanti di segmen kedua saya akan lebih detail menjelaskan secara spesifik tantangan Artificial Intellegent terhadap Majelis Tarjih.

2 komentar

  1. Sebenarnya malah membuat kita makin optimis menyongsong masa depan. Kedepan, kita bisa membuat semacam aplikasi fatwa: mesinnya sudah diinput data nas Quran hadis, data ushul fikih, data ulumul hadis dst. Jadi ketika dimasukan pertanyaan akan keluar fatwa sesuai rumusan ushul fikih.

    Cuma emang syarat syarat seperti ketakwaan dan lainnya bisa dipenuhi dengan menghadapkan hasil mesin fatwa itu ke ulama.

    Btw.. lebih menarique lagi kalau kajian tentang reduksi kesadaran menjadi impuls impuls biokimia itu dikaitkan dengan kajian tentang irfani hehe

  2. ISLAM YA ISLAM (QS. 5:3):

    AKIBAT SALAH MEMAHAMI ISLAM MUNCUL SEBUTAN YANG MENYUDUTKAN NAMA DAN IDENTITAS ISLAM

    MUNCUL ISTILAH: ISLAM SYARIAT, ISLAM BERKEMAJUAN, BAHKAN ADA YANG MENUDUH ISLAM ABAL-ABAL DAN ISLAM SONTOLOYO UJUNGNYA YANG KUAT DAN DAPAT DUKUNGAN PENGUASA MUNCULNYA AGAMA TANDINGAN DENGAN NAMA, ISLAM NUSANTARA!

    DIBUNGKUS DENGAN TUDUHAN YANG MARAK TERHADAP ISTILAH KHILAFAH LALU BERAKIBAT SALAH MEMAHAMI ISTILAH KHALIFAH YANG BENAR-BENAR TERMUAT DI DALAM AL QURAN (a.l. QS. 6:165, 38:26)

    Apakah ini wujud kegagalan para ulama dan cerdik pandai Muslim sendiri, seperti yang dilukisan di bawah ini:

    Umat Islam saat ini seperti tengah menggali kuburannya sendiri. Peluang dan ruang diskusi antar kelompok agama ditutup. Akibatnya, muncul kelompok-kelompok yang hanya membenarkan Islam yang mereka pegang, selain itu yang tidak sesuai dengan Islam atau syariat yang mereka pegang, dianggap salah.

    Demikian disampaikan Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam acara diskusi buku Islam Syariat “ Reproduksi Ideologi Salafiyah di Indonesia” karya Dr. Haedar Nashir, yang bertempat di ruang sidang AR. Fakhruddin A lantai 5, kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (25/7). *)

    Pada saat yang bersamaan kita mengalami revolusi infotek. Sekarang ini ahli komputer memberi kita kekuatan pemrosesan data yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut Harari, penemuan utamanya adalah sensor biometrik. Sensor ini dapat mengubah proses biologi seperti detakan jantung dan aliran darah menjadi informasi elektronik yang dapat disimpan dan dianalisis oleh komputer.

    Dengan data biometrik yang cukup, dan daya komputasi yang cukup, sistem pemrosesan data eksternal dapat dengan mudah meretas semua keinginan, keputusan, opini, perasaan manusia. Otak kita dapat dimanipulasi komputer. Mereka bisa tahu persis siapa Anda.

    Signifikansi Peran Algoritma

    Menurut Harari, ketika biotek dan infotek berintegrasi, maka lahirlah bayi yang bernama algoritma Big Data. Kebanyakan orang tidak mengenal diri mereka sendiri dengan baik, tapi mesin algoritma dapat mengenali diri Anda lebih baik daripada yang Anda pikirkan. **)

    Apakah ALGORITMA terhadap pemahaman atas ajaran Islam bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari manusia, apa yang harus dilakukan ulama? Lebih jauh, bagaimana dengan otoritas keagamaan seperti ormas-ormas umat Muslim atau otoritas keagamaan yang menempel dilingkup kekuasaan ya seperti penguasa di lingkup kementerian agama?

    Simak beberapa copasan fenomena perjuangan umat Muslim di Indonesia selama ini di bawah ini:

    Sementara itu, Dr. Haedar Nashir menyatakan bahwa buku yang ia tulis ini melihat penegakan Islam sesuai syariat dengan perspektif sosial. “Tidak bermaksud untuk mengevaluasi, namun hanya untuk memetakan pergerakan Islam. Buku ini juga berusaha menggambarkan upaya penegakan syariat Islam di lembaga pemerintahan,” terangnya.

    Haedar mengatakan, munculnya gerakan Islam Syariat di Indonesia merupakan bentuk Islamisasi baru yang berbeda dari arus utama seperti NU dan Muhammadiyah. Kultur dakwah yang lebih lentur dan lembut, diganti menjadi sangat kaku dan ideologis. “Konstruksi dari Islam syariat hanya mengambil 10 persen dari kandungan ayat Al-Quran. Namun 10 persen ini yang menjadi sangat mengatur kehidupan masyarakatnya,” paparnya.

    Kehadiran gerakan Islam syariat dengan karakter dan orientasi yang bercorak ‘Salafiyah Ideologis’ tersebut merupakan tantangan bagi kelompok gerakan Islam moderat (arus tengah). “Ia juga merupakan tantangan bagi kelompok-kelompok masyarakat lain dalam membangun keseimbangan-keseimbangan baru di tengah kecenderungan yang serba ekstrem, baik dalam kehidupan keagamaan maupun kebangsaan,” tutur penulis yang juga menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah ini lagi.

    *) http://www.umy.ac.id/islam-indonesia-bukan-islam-syariat.html

    Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, NKRI memang sudah lama bersyariah. Terlebih, jika melihat sila-sila yang ada dalam Pancasila dan merupakan dasar negara.

    “NKRI itu kan sudah lama bersyariah,” kata Haedar di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (8/8), lalu menyebutkan satu demi satu isi Pancasila.

    Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ia merasa, tujuan syariah itu sudah tercakup di dalamnya, dan tidak perlu lagi ada idiom-idiom, simbol-simbol dan konsep yang semakin menjauhkan NKRI dari jiwanya.

    “Karena hanya berpikir soal nama, soal atribut, soal cangkang, soal kulit, nah Muhammadiyah sudah memandang Indonesia itu darul ahdi wa syahadah,” ujar Haedar.

    https://khazanah.republika.co.id/berita/pvx85l409/haedar-nasir-nkri-itu-sudah-lama-bersyariah

    Berikut 4 keputusan bersama PBNU dan PP Muhammadiyah yang disampaikan oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini a.l.:

    Berkomitmen kuat menegakkan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan atas Pancasila, sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami.

    “Bersamaan dengan itu menguatkan dan memperluas kebersamaan dengan seluruh komponen bangsa dalam meneguhkan integrasi nasional dalam suasana yang damai, persaudaraan, dan saling berbagi untuk persatuan dan kemajuan bangsa,” ucap Helmy di lokasi, Rabu (31/10/2018).

    Kedua belah pihak mendukung sistem demokrasi dan proses demokratisasi sebagai mekanisme politik kenegaraan.

    “Dan seleksi kepemimpinan nasional yang dilaksanakan dengan profesional, konstitusional, adil, jujur, dan berkeadaban. Semua pihak agar mendukung proses demokrasi yang substantif serta bebas dari politik yang koruptif dan transaksional, demi tegaknya kehidupan politik yang dijiwai nilai-nilai Agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur Indonesia,” jelas Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini.

    Mereka juga sepakat menjaga Indonesia dari ancaman, termasuk dari paham khilafah.

    “NU dan Muhammadiyah berkewajiban mengawal ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah insaniah. Mari kita jaga itu semuanya karena jika tidak, maka ancaman disintegrasi ancaman perang saudara ada,” kata Kyai Said Aqil.

    Said mengatakan ada rencana dari salah satu pihak untuk menerapkan khilafah di wilayah ASEAN. Dia berharap rencana itu tak pernah terjadi.

    “Bahkan saya baca kalau tidak salah ada rencana tahun 2024 harus sudah ada khilafah di ASEAN ini, termasuk Indonesia. Mudah-mudahan mimpi ini tidak terjadi, tidak akan terlaksana berkat adanya NU dan Muhammadiyah,” ujarnya.

    https://redaksikota.com/peristiwa/01/11/2018/50709/pbnu-muhammadiya-sepakat-tolak-paham-khilafah-di-indonesia.php

    AKIBAT FENOMENA PEMAHAMAN AJARAN ISLAM YANG MULTI TAFSIR DAN TIDAK BERUJUNG SECARA TEGAS MAKA YANG BISA MEMAKSAKAN PEMAHAMAN ATAS ISLAM KEPADA UMAT MUSLIM SUDAH JELAS YANG MEMPUNYAI POWER KEKUASAAN.

    APAPUN HEBATNYA POWER KEKUASAAN DALAM PEMAHAMAN SEYOGIANYA TIDAK BERAKIBAT MENYUDUTKAN NAMA DAN ISTILAH ISLAM ITU SENDIRI KARENA ITU MASUK DALAM RANAH MAHZAB SEMATA SEHINGGA JANGAN SAMPAI ADA NAMA DAN LEBEL BARU ATAS NAMA ISLAM.

    Simak info satu ini:

    Pada zaman Nabi, Rasulullah merupakan figur yang paling otoritatif menyangkut persoalan keagamaan. Segala permasalahan dapat cepat teratasi karena sahabat dengan mudah menanyakannya langsung pada Rasulullah. Sepeninggalan Nabi, teks Qur’an dan Sunah terhenti dan tidak mungkin bertambah, sementara persoalan keagamaan tidak pernah berakhir.

    Akhirnya, otoritas keagamaan untuk hal-hal yang belum disinggung Nabi diserahkan pada Ulama. Dalam kasus Muhammadiyah, persoalan keagamaan diserahkan pada Majelis Tarjih. Di abad sekarang, otoritas itu kemungkinan akan berubah lagi dari Majelis Tarjih (Ulama) ke algoritma.

    Selama ini Majelis Tarjih telah menghasilkan banyak berbagai produk putusan dan fatwa. Jika kekayaan data itu dianalisis oleh mesin algoritma, maka mesin itu akan belajar sendiri bagaimana pola-pola Majelis Tarjih membuat suatu kesimpulan hukum.

    Lebih mengerikan lagi ketika database biometrik warga Muhammadiyah terhadap putusan dan fatwa tarjih tersedia kemudian diolah dan dianalisis mesin algoritma, maka boleh jadi kesimpulan hukum yang dihasilkannya akan lebih Tarjih daripada Majelis Tarjih itu sendiri. Kalau prediksi ini tidak keliru, warga persyarikatan Muhammadiyah akan berbondong-bondong bertanya pada algoritma, bukan ke surel Majelis Tarjih.

    Kalimat di atas memang seperti mengada-ada. Namun patut untuk diperhatikan menurut Harari saat ini banyak bank, perusahaan, dan Lembaga menggunakan algoritma untuk menganalisis data dan membuat keputusan tentang kita. Misalnya sekarang di negara maju sudah muncul AI yang menganalisis ayunan jantung dan aliran darah kita menjadi sebuah kebijakan. **)

    **) https://ibtimes.id/majelis-tarjih-dan-tantangan-artificial-intellegent/?fbclid=IwAR0tfuq2yEP_sC1NG-tBk384ivWk3UfESlE2A6BlK1dhxgu0fQZKPPby8_U

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda