Beranda Feature Mungkinkah ODGJ Mengamuk di TPS?

Mungkinkah ODGJ Mengamuk di TPS?

Oleh: Lya Fahmi*

Dua minggu yang lalu, saya mendapat titipan pertanyaan dari petugas KPPS via kepala puskesmas, “Bagaimana caranya mengatasi ODGJ yang mengamuk di TPS?”

Saya sedikit kebingungan mendapat pertanyaan seperti itu. Saya memang belajar dan bekerja dalam bidang kesehatan jiwa, tapi rasa-rasanya di otak saya nihil informasi mengenai bagaimana caranya menenangkan ODGJ yang sedang mengamuk. Di hadapan kepala puskesmas saya membisu sejenak. Saya berpikir keras untuk bisa memberikan jawaban yang pas.

“Nanti Mbak Lya yang langsung menjelaskan ke orang-orang KPPS ya, mereka ada pertemuan hari Sabtu nanti.” Ujar kepala puskesmas di tengah kebisuan yang terjadi di antara kami. Saya menarik nafas lega. Masih ada waktu untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan ini.

Setelah mencerna pertanyaan itu dalam kondisi yang lebih tenang, saya menyadari ada yang salah dari pertanyaan yang diajukan oleh petugas KPPS tersebut. Mengapa petugas KPPS seolah-olah berada dalam mode waspada dengan kedatangan ODGJ ke TPS? Mengapa mereka berpikir mereka mungkin mengalami insiden ODGJ yang mengamuk di TPS, sehingga perlu mengetahui cara-cara menenangkannya? Alih-alih menjawab pertanyaan mereka sebelumnya, saya justru tertarik pada hal yang melatarbelakangi bagaimana pertanyaan itu bisa muncul.

Sebelum melanjutkan pembahasan ini, saya ingin menceritakan pengalaman yang paling berkesan selama saya praktik kerja di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Jawa Timur. Dihari pertama saya kerja praktik di RSJ, saya berkenalan dengan salah seorang pasien skizofrenia dari Bangsal Jalak, sebut saja namanya James. Selama perawatan, James menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Dia bisa berkomunikasi dengan baik dan berperilaku layaknya orang-orang yang tak mengalami gangguan jiwa. Saking bagusnya perkembangan kejiwaan James, salah seorang teman sempat berkata, “Kalo James nggak pake seragam RSJ, saya yakin banget orang-orang nggak ada yang menyangka kalo dia pasien RSJ.”

Kopi Hijau dan Stigma

Saat bercakap-cakap dengan James, ia bercerita tentang khasiat kopi hijau yang dapat melangsingkan tubuh. Serta merta saya memastikan apakah yang ia maksudkan adalah teh hijau? Ia mengatakan tidak, dia bersikeras bahwa ada kopi hijau yang benar-benar dapat membantu menurunkan berat badan. Ia menyebut nama sebuah tempat dimana kopi hijau itu bisa didapatkan. Saya sama sekali belum pernah mendengar apapun tentang kopi hijau, begitu pula dengan teman yang ikut mendengarkan percakapan itu. Alih – alih menganggap informasi itu sebagai pengetahuan baru, saya justru menganggap informasi kopi hijau itu sebagai bagian dari gangguan yang dialami oleh pasien, mungkin ia mengalami delusi atau halusinasi melihat kopi berwarna hijau.

Hingga akhirnya sebuah kelucuan terjadi. Saya dan beberapa teman jalan – jalan keluar kompleks RSJ dan menemukan sebuah warung kopi yang menjual kopi hijau. Nama warung tersebut sesuai dengan nama tempat yang disebut oleh James sebelumnya. Penasaran, saya pun berselancar di dunia maya mencari tahu apa manfaatnya, tertera jelas di baris pertama hasil pencarian bahwa kopi hijau membantu menurunkan berat badan.

Fakta ini membuat saya terpingkal-pingkal menertawakan diri sendiri. Hanya karena tidak pernah tahu tentang kopi hijau, saya kemudian menganggap kopi hijau itu tidak ada. Sejujurnya, saya bukan orang yang mudah bersikap begitu, biasanya saya cukup terbuka dengan pengetahuan baru. Tapi kali ini pengetahuan baru itu datang dari seseorang yang memiliki gangguan jiwa. Saya memilih tidak mempercayainya karena saya masih berprasangka bahwa ODGJ tidak bisa dipercaya dan tidak mungkin lebih tahu dari diri saya yang waras ini. Intinya, saya menganggap remeh dan meragukan kemampuan mereka yang hidup dengan gangguan jiwa. Dan itulah yang disebut dengan stigma.

Saya pikir, stigma pula yang memunculkan pertanyaan tentang cara mengatasi ODGJ mengamuk itu. Ada prasangka bahwa ODGJ pasti mudah mengamuk atau perilakunya tidak terduga. Stigma ODGJ yang masih sangat kuat dimasyarakat membuat petugas KPPS merasa perlu waspada pada pemilih-pemilih yang memiliki gangguan jiwa.

Orang Gila Mengamuk di TPS?

ODGJ selama ini lebih sering disebut dengan istilah “orang gila,” sedangkan kata “gila” selalu identik dengan hilangnya kesadaran dan perilaku tak terkendali. Orang-orang lupa, atau bahkan tidak tahu, bahwa gangguan jiwa memiliki spektrum yang luas dan bervariasi. Tidak semua gangguan jiwa mengakibatkan hilangnya kesadaran. Gejala skizofrenia berbeda dari depresi, depresi berbeda dari gangguan bipolar, gangguan bipolar berbeda dari serangan panik, serangan panik berbeda dari gangguan kecemasan, dan seterusnya. Mengalami salah satu jenis gangguan jiwa tidak berarti membuat seseorang kehilangan seluruh makna dirinya sebagai manusia, termasuk hak nya untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi.

Lalu, apakah mungkin ODGJ mengamuk di TPS? Jika penyelenggara pemilu melaksanakan tugasnya dengan benar dan sesuai aturan, kemungkinan ODGJ mengamuk di TPS sangatlah kecil. ODGJ yang didata masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) adalah ODGJ yang berada di RSJ dan panti-panti rehabilitasi yang notabene berada dalam pengawasan dokter. Karena berada dalam pengawasan dokter, semestinya ODGJ sudah terseleksi mana yang bisa masuk dalam DPT dan mana yang tidak.

Bagaimana dengan ODGJ yang berada diluar RSJ? Pada prinsipnya, setiap orang yang terdaftar dalam DPT memiliki hak untuk memilih. Apabila ditemukan ODGJ yang terdaftar dalam DPT namun dinilai tidak mampu untuk memilih, hal tersebut harus dibuktikan dan dilaporkan ke KPU agar dapat dilakukan perbaikan DPT, sesuai dengan Peraturan KPU nomor 37 tahun 2018 pasal 35A. Dengan begitu, ODGJ yang terbukti tidak mampu memilih dapat dikeluarkan dari DPT dan tidak dapat memilih.

Jadi, alih-alih mencemaskan bagaimana jika nanti berhadapan dengan ODGJ yang mengamuk di TPS, kita semua sebaiknya memperhatikan lingkungan sekitar dan melaporkan kepada yang berwenang apabila menemukan ODGJ yang sedang tidak mampu untuk memilih. Dengan begitu, kemungkinan adanya ODGJ yang mengamuk di TPS bisa dinihilkan.

Ketika saya menceritakan kekhawatiran petugas KPPS di Yogyakarta pada Feri Amsari, Direktur PUSAKO Fakultas Hukum Universitas Andalas, sambil berkelakar ia mengatakan, “Bilang sama orang KPPS, data selama ini bukan ODGJ yang mengamuk di TPS, tapi orang-orang waras yang tidak bisa menerima hasil pemilu…”

*) Psikolog di Puskesmas Gondokusuman II, Yogyakarta.
Tulisan ini pernah dipublikasikan di Mojok.co pada 14 April 2019 dengan judul “Bagaimana Mengatasi OGDJ yang Mengamuk di TPS Saat Coblosan?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Hilman Latief: Lazismu, Nuzulul Quran dan Kepercayaan Bupati Bajo

Bajo-IBTimes.ID-Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, kali ini berkesempatan mengadakan lawatan ke Wajo Sulawesi Selatan. Hilman berangkat dari Yogyakarta pukul 22.00 WIB dan...

Yunahar Ilyas: 10 Karakter Orang Muhammadiyah

Surakarta-IBTimes.ID-Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta kali ini berkesempatan mendatangkan Prof. DR. Yunahar Ilyas sebagai pembicara dalam acara Refreshing Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta bertema...

Genealogi Sekuler Menurut Talal Asad

Oleh : Muhammad Rofiq*   Talal Asad mengamati bahwa teori-teori sekulerisasi selama ini umumnya berbicara tentang tiga hal, yaitu: fenomena kemunduran agama, privatisasi agama dari ruang...

Media Islam dan Patriarki: Dominasi Laki-laki Atas Perempuan

Oleh: Anisa Kurniarahman* Ketika berbicara mengenai saluran media Islam, tentu benak kita akan melayang pada ribuan konteks ceramah para Da’i dan ratusan postingan meme Islami...

Memahami Seruan Bapak Haedar Nashir

Oleh: A.S. Rosyid Pada hari Minggu (20/05, 17:43 Wib), akun Facebook Website Sang Pencerah mengunggah pernyataan Bapak Haedar Nashir, sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang...