Beranda Feature Essay Siapa Berhak Ambil Zakat?

Siapa Berhak Ambil Zakat?

Oleh : Nurbani Yusuf*

 

Zakat itu tidak disetor atau diserahkan. Tidaklah disebut zakat jika tidak diambil di rumah-rumah. (musnad Imam Ahmad)
Pada zaman nabi dan para sahabat, zakat bukan hanya soal teologis tapi juga punya bobot politis. Sebab mengingkari dari membayar zakat dikategorikan pemberontak dan diperangi.

Zakat tidak disetor tapi diambil. Amil juga berfungsi sebagai auditor dari para wajib zakat. Allah berfirman : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At-Taubah: 103)

Paradigma sedekah dalam Alquran dibedakan antara sedekah dan infaq dalam konteks manfaat meski sering disebut sama; sedekah.

Zakat adalah sedekah wajib. Infak adalah sedekah sunah. Ada tiga hal yang sering rancu: sedekah, zakat, dan infak. Ketiganya kerap tumpang tindih. Padahal memiliki urgensi dan konsekuensi berbeda baik dari aspek teologis maupun muamalah.

Penerima zakat (sedekah wajib) dan infak (sedekah sunah) juga berbeda dari sisi status sosial, kekerabatan, dan golongan.

Siapa berhak menerima zakat atau sedekah wajib?

Allah berfirman; “Sesungguhnya zakat-zakat (sedekah wajib) itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah : 60).

Siapa berhak menerima sedekah sunah atau infak?

Allah berfirman: “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Q.S. Al Baqarah : 215)

Zakat atau sedekah wajib (lebih afdhal) diserahkan lewat amil atau lembaga yang dibentuk mewakili negara (Baznas, Lazis) kemudian dikelola dan diberikan kepada yang berhak (8 asnaf). Infak karena sifatnya personal dan sukarela maka boleh diserahkan sendiri kepada yang berhak tanpa atau melalui amil.

Lantas siapa berhak ambil zakat? Yang punya legalitas mengambil dan mengelola zakat adalah Negara atau lembaga yang dibentuk atau ditunjuk mewakili negara dibuktikan dengan legalitas hukum formal.

Rasulullah saw juga berfungsi sebagai amil sebab beliau adalah umara. Rasulullah saw berkewenangan mengambil dan membagikan zakat kepada yang berhak menerima. Rasulullah dan keluarganya diharamkan menerima zakat dan sedekah tapi boleh menerima hadiah.

Pada masa khilafah rasyidin, Umar Ibnul Khattab membentuk lembaga Baitul amal. Baitul amal inilah yang mengambil dan mengelola zakat kaum muslimin sebagai representasi kekhilafan.

Dalam konteks kekinian negara adalah yang legal secara politis mengambil, menerima, mengelola, dan mendistribusikan sedekah berupa zakat dan infak.

Negara mengambil zakat dari perusahaan perusahaan besar semisal: Sinar Mas, Lippo, Salim Grup, Jaga Kersa, Petral dan lainnya diambil zakatnya kemudian di tasarufkan kepada yang berhak menerima.

Negara harus hadir kapanpun–bahkan disaat sedang hendak bersenggema–mengatur kapan waktu aman dan tidak aman bersenggema. Agar fertilitas dan mortalitas bisa dikendalikan.

*Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Antropologi Islam: Pendekatan Talal Asad

Muhamad Rofiq* Diskusi tentang bagaimana mengkonseptualisasikan Islam sebagai obyek penelitian (the object of inquiry) telah banyak menyita perhatian para pengkaji Islam dari luar (outsider). Pertanyaan...

Prabowo dan Sandiaga Imbau Pendukungnya Tak Kerahkan Massa ke MK

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mengimbau pendukungnya untuk tidak mengerahkan massa dalam jumlah besar ke Mahkamah Konstitusi (MK) saat persidangan sengketa pemilihan presiden nanti....

Bapakku dan Pak Wakidi: Praktik Nahi Munkar dengan Amar Ma’ruf

Oleh : Ahmad Muttaqin Alim*   Saya tumbuh di sebuah kampung abangan. Jauh sebelum saya lahir dan bertempat tinggal di situ, tingkat keabangan kampung itu cukup...

Jangan Bikin Susah Muhammadiyah

Oleh : Nurbani Yusuf*   Nomor baku Muhammadiyah sudah saya dapatkan sejak dari kakek buyut saya---meski saya juga tak tahu kegunaannya dari kartu ini. ^^ Masuk menjadi anggota...

Sejarah Metode Hisab Muhammadiyah

Oleh Mu’arif Penentuan hilal Ramadhan maupun Idul Fitri dan Idul Adha menggunakan metode hisabmerupakan tradisi praktik keagamaan peninggalan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri dan Presidentpertama Hoofdbestuur(HB)...