IBTimes.ID – Sejarah baru terukir di New York pada Selasa (4/11) ketika Zohran Kwame Mamdani, anak imigran asal Uganda dan sosialis demokrat berusia 34 tahun, terpilih sebagai wali kota. Ia memenangkan pemilihan umum dengan 50,5 persen suara, mengalahkan Andrew Cuomo dan Curtis Sliwa. Namun kemenangan Mamdani bukan hanya kemenangan politik, ini adalah kemenangan moral dan kemanusiaan. Terutama bagi perjuangan rakyat Palestina yang selama ini terpinggirkan di panggung global.
Mamdani dikenal luas sebagai politisi muda progresif yang vokal membela Palestina. Dalam berbagai forum dan kampanyenya, ia tanpa ragu menyebut agresi Israel di Jalur Gaza sebagai tindakan genosida. Lebih dari itu, Mamdani dengan tegas menyatakan siap menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bila ia berkunjung ke New York, sesuai dengan mandat International Criminal Court (ICC). Sikap berani ini menjadi simbol perlawanan terhadap hegemoni politik yang selama ini memberikan kekebalan kepada pelaku pelanggaran hak asasi manusia.
Lahir di Kampala, Uganda, dari pasangan akademisi Mahmood Mamdani dan sutradara kenamaan Mira Nair, Zohran dibesarkan dalam lingkungan yang peka terhadap isu kemanusiaan dan keadilan global. Saat berusia tujuh tahun, keluarganya pindah ke Amerika Serikat, di mana ia tumbuh menyaksikan stigma terhadap umat Islam pasca tragedi 9/11. Pengalaman itu membentuk pandangan politiknya yang menolak segala bentuk diskriminasi dan penindasan.
Visi Keadilan Zohran Mamdani
Informasi dari The New York Times, Zohran Mamdani dalam kampanyenya, ia menempatkan isu Palestina sebagai bagian dari perjuangan global melawan ketidakadilan. Bagi Mamdani, mendukung kemerdekaan Palestina adalah bagian tak terpisahkan dari memperjuangkan kemanusiaan dan hak asasi manusia.
Selain konsistensinya dalam membela Palestina, Mamdani juga membawa visi besar untuk masyarakat New York. Ia berjanji menjadikan kota itu lebih ramah bagi kelas pekerja, dengan kebijakan seperti transportasi bus gratis pada 2027. Perumahan terjangkau melalui pembekuan sewa, hingga program makan gratis di sekolah negeri.
Kemenangan Zohran Mamdani menjadi penanda pergeseran besar dalam lanskap politik Amerika. Dari kota yang selama ini menjadi simbol kapitalisme dan kekuasaan, kini lahir suara yang berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan kemerdekaan Palestina. Dari jantung New York, suara solidaritas kini menggema ke seluruh dunia. Bahwa perjuangan kemerdekaan Palestina bukan hanya milik bangsa Arab, tetapi milik seluruh umat manusia yang mencintai keadilan.
(NS)

