Akhir tahun selalu menjadi momentum refleksi bagi setiap manusia. Saat kalender hampir berganti, kita diajak meninjau perjalanan hidup, mengevaluasi kesalahan, dan menata ulang prioritas.
Takala musibah menerjang, seperti banjir bandang dan longsor yang menimpa Aceh pada akhir November 2025, muhasabah menjadi lebih mendalam, karena hadir secara nyata pertanyaan tentang makna hidup, ketahanan batin, dan solidaritas. Musibah seperti ini memaksa kita untuk berhenti sejenak, menata hati, dan merenungkan kembali hubungan kita dengan Tuhan serta sesama manusia.
Dalam perspektif Islam, musibah bukanlah sekadar fenomena alam. Bencana adalah ujian dari Allah SWT yang mengandung hikmah tersembunyi. FirmanNya dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 menegaskan: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran, keteguhan hati, dan penguatan spiritual adalah inti dari menghadapi ujian kehidupan.
Musibah ini juga mengingatkan kita akan ajaran Ibnu Mas’ud, sahabat Nabi SAW, yang menekankan pentingnya introspeksi diri dan menyadari keterbatasan manusia. Ia berkata bahwa manusia harus selalu melihat ke dalam dirinya sendiri sebelum menilai dunia. Sebab ujian dan musibah merupakan sarana Allah SWT untuk membersihkan hati dari kesombongan, kedengkian, dan kelalaian. Pandangan ini relevan ketika bencana menghantam; kita disadarkan bahwa harta benda, rumah, dan kehidupan yang nyaman hanyalah titipan sementara.
Imam Ghazali dalam karya monumental Ihya’ Ulumuddin juga menekankan bahwa manusia cenderung terlena dengan dunia dan lupa hakikat hidup. Musibah memaksa kita untuk berhenti sejenak dan menata ulang prioritas. Menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta dan kesenangan dunia, tetapi pada kedekatan dengan Allah dan keteguhan hati. Dalam konteks ini, bencana menjadi pengingat spiritual yang menuntun manusia untuk lebih fokus pada ibadah, introspeksi, dan amal nyata.
Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam menambahkan bahwa setiap ujian adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, menumbuhkan kerendahan hati, dan memperkuat kepedulian sosial. Musibah mengajarkan manusia bahwa hidup tidak bisa dijalani secara egois. Di tengah hujan deras dan tanah longsor, solidaritas sosial, saling menolong, dan empati terhadap sesama menjadi ibadah praktis yang bernilai di sisi Allah SWT.
Dalam konteks modern, psikologi dunia mengingatkan bahwa trauma akibat bencana alam dapat menimbulkan stres, kecemasan, dan depresi. Pakar psikologi menekankan pentingnya dukungan sosial, rutinitas, serta penguatan spiritual untuk memulihkan kondisi mental.
Konsep post-traumatic growth menunjukkan bahwa pengalaman traumatis dapat menjadi sarana pertumbuhan batin, empati, dan ketahanan yang lebih baik. Ini selaras dengan ajaran Nabi SAW yang menekankan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain,” yang menegaskan bahwa kepedulian sosial adalah inti dari iman.
Gus Dur pernah menekankan bahwa kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari rasa kemanusiaan. Dalam konteks bencana, pesan ini sangat relevan: bantuan nyata, empati, dan solidaritas lebih bernilai daripada perdebatan politik atau simbolik.
Gus Dur mengingatkan bahwa masyarakat harus mampu menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas segalanya. Ketika energi masyarakat difokuskan pada saling menolong dan membangun kembali kehidupan yang terdampak, itu adalah wujud nyata dari prinsip keadilan sosial dan spiritualitas luyanghur.
Dalam konteks Aceh pasca banjir bandang, fokus muhasabah tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada sistem pendidikan dan komunitas lokal. Banyak dayah, sekolah, dan balai pengajian yang hingga kini belum tersentuh pembersihan pascabanjir.
Pendidikan keagamaan menjadi faktor penting dalam membentuk ketahanan mental dan spiritual anak-anak dan masyarakat terdampak. Rutinitas belajar, bimbingan moral, dan penguatan spiritual di lembaga pendidikan membantu masyarakat kecil untuk tetap memiliki tujuan hidup. Selain itu juga memulihkan trauma psikologis akibat kehilangan rumah dan harta benda.
Selain itu, pemulihan pendidikan juga menjadi kunci bagi pemulihan sosial. Ketika anak-anak kembali ke sekolah atau dayah, mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga rasa aman, dukungan komunitas, dan pengalaman berbagi yang membentuk karakter mereka. Dengan demikian, bencana sekalipun bisa menjadi titik balik untuk meneguhkan solidaritas, kerja sama, dan penguatan komunitas.
Muhasabah akhir tahun juga menekankan pentingnya introspeksi kolektif. Musibah bukan sekadar ujian individu, tetapi ujian bagi masyarakat untuk tetap bersatu, menjaga kondusivitas, dan mengedepankan kepedulian. Dalam perspektif hadist, menjaga perdamaian, membantu sesama, dan memelihara hubungan harmonis adalah amal yang paling utama. Ketika seluruh energi masyarakat diarahkan pada pemulihan dan kepedulian, kerugian materi tidak akan sebanding dengan nilai spiritual dan sosial yang diperoleh.
Secara praktis, musibah menjadi pengingat untuk membangun kembali nilai-nilai moral dan spiritual, memperkuat kepedulian sosial, dan menegakkan keadilan. Kesadaran ini menuntun manusia untuk tidak hanya melihat dunia secara material, tetapi juga spiritual. Dengan demikian, bencana sekalipun menjadi sarana pendidikan kehidupan yang tak ternilai.
Akhirnya, muhasabah akhir tahun di tengah musibah mengajarkan tiga hal utama: pertama, mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, shalat, dan introspeksi hati; kedua, menumbuhkan kesabaran dan keteguhan batin untuk menghadapi ujian; ketiga, menguatkan kepedulian sosial dan solidaritas sebagai wujud iman dan kemanusiaan.
Mengingat ajaran agama hati lebih teguh, jiwa lebih empati, dan langkah lebih bermanfaat bagi sesama. Musibah ini, meski tragis, mengajarkan bahwa ujian hidup adalah guru terbaik bagi manusia yang ingin menjadi lebih bijak, rendah hati, dan peduli. Sudahkah musibah itu menjadi pelajaran dan muhasabah diri?
Wallahu muwaffiq ila Aqwamith Thariq
Editor: Ikrima

