In-Depth

Akankah Sosialisme Berhasil di Jantung Kapitalisme? Melihat Kebijakan Zohran Mamdani

4 Mins read

Di New York, Amerika, tempat dimana kapitalisme lahir dan berkembang ke seluruh dunia, ideologi sosialisme mulai tumbuh. Zohran Mamdani, seorang pria imigran yang belum genap berusia 40 tahun, terpilih sebagai walikota dengan menawarkan gagasan pro rakyat kecil—alih-alih pro pasar.

Kemenangan Zohran Mamdani memang mengejutkan. Khususnya di Indonesia, selain karena ideologi sosialisnya, juga karena ia beragama muslim. Sebelumnya, publik Indonesia dikagetkan dengan kemenagan Sadiq Khan sebagai walikota London. Kini, New York mengikuti jejak tersebut.

Kemenangan Mamdani tidak diperoleh dengan mudah. Ia membangun jaringan ratusan ribu relawan di seluruh distrik di New York. Relawan-relawan tersebut mengetuk satu per satu pintu di seluruh kota. Mengajak masyarakat untuk memilih Mamdani. Ini cara yang sama yang digunakan oleh Obama beberapa tahun sebelumnya.

Zohran terpilih karena sengaja didorong oleh jaringan sosialis ideologis seperti itu. Mereka mencari tokoh yang mampu, seideologi, punya prinsip yang kuat dan tidak bisa dibeli oleh oligarki. Ketemulah sosok Zohran Mamdani –dari kalangan jaringan mereka sendiri.

Selama kampanye, Mamdani menjual ide-ide sosialis. Ia menentang kenaikan harga perumahan. Salah satu janjinya: membekukan harga sewa apartemen. Perumahan ditujukan untuk rakyat. Selain itu, ia juga akan menggratiskan bus kota. Kereta bawah tanah juga akan digratiskan, tapi khusus untuk kelas bawah. Kebijakan lainnya: membuka toko-toko bahan pokok murah.

Ia memang pro rakyat kecil. Dari semua kalangan. Termasuk imigran, dan juga LGBT. Tentu LGBT masuk ke dalam kelompok rakyat kecil, jika dilihat dari aspek sosial. Meskipun di negara sebebas Amerika, tidak semua orang pro dengan LGBT. Mamdani termasuk yang pro. Berseberangan dengan presiden Trump. Maka ia juga berjanji akan menjadikan New York sebagai rumah aman bagi LGBT.

Ia juga pro Palestina. Setidaknya berani dengan tegas mengatakan Israel melakukan genosida di Gaza. Itulah yang membuatnya semakin populer di negara-negara muslim, termasuk Indonesia.

Lalu, sejak mulai menjabat pada 1 Januari 2026, apa yang telah ia lakukan?

Baca Juga  Empat Menteri Muhammadiyah: Ini Klarifikasi Haedar Nashir

Kebijakan-kebijakan Zohran Mamdani

Beberapa jam setelah dilantik, Mamdani langsung menandatangani pencabutan aturan-aturan yang pro Israel. Walikota New York sebelumnya, Eric Adams, pada 26 September 2024 menandatangani beberapa peraturan pro Israel. Pertama, larangan boikot terhadap produk-produk Israel. Kedua, larangan kepada pejabat-pejabat New York untuk mengeluarkan kontark yang mendiskriminasi Israel, warga negara Israel, atau meraka yang terkait dengan Israel. Ketiga, mengadopsi definisi anti-Semitisme yang kontroversial dari Aliansi Peringatan Holocaust Internasional (IHRA) yang dapat digunakan untuk menyensor dan menghukum pidato yang mengkritik Israel.

Langkah-langkah Mamdani ini bukan tanpa resiko. Ia menghadapi kecaman dari pendukung Israel di Amerika dan di Israel sendiri. Kementerian Luar Negeri Israel melalui akun X menyatakan bahwa langkah Mamdani merupakan antisemitisme yang dapat menyiram bensin ke dalam kobaran api. “Di hari pertamanya sebagai walikota New York, Mamdani menunjukkan wajah aslinya. Dia menolak definisi anti Semitisme dari IHRA dan menghapus peraturan larangan boikot terhadap Isarel,” ujar postingan tersebut.

Perumahan Rakyat

Kebijakan Mamdani lain yang mencolok adalah terkait perumahan. Di hari pertamanya juga, ia datang ke apartemen di Clarkson Avenue. Itu adalah apartemen yang mengajukan pailit. Apartemen itu akan dilelang. Mamdani datang dan berjanji akan mempertahankan apartemen itu. Ia akan berdiri di pihak ribuan penyewa.

Dilansir dari laman Disway, Zohran mengumumkan dibentuknya dinas urusan perlindungan tenant. Lalu mengumumkan siapa yang menjabat kepala dinasnya, seorang perempuan yang memang aktivis pembela hak-hak tenant. Yakni Cea Weaver. Kulit putih, ahli perencanaan kota. Ketika diangkat untuk jabatan tersebut, ia sampai mengusap air mata, terharu.

Perusahaan properti yang sedang mengajukan pailit itu adalah Pinnacle. Pinnacle adalah perusahaan besar yang punya 50 blok apartemen di New York. Lebih 5.000 orang menyewa apartemennya. Sebagian besar adalah sopir, pegawai kecil, pekerja toko, dan sekelas itu.

Pinnacle mengajukan pailit agar terhindar dari kewajiban bayar utang yang besar ke bank. Pinnacle mengeluh bunga bank terlalu tinggi dan sewa apartemen tidak bisa dinaikkan. Apalagi Zohran kini jadi wali kota. Salah satu program unggulannya adalah membekukan tarif sewa apartemen. Tidak boleh naik terus. Sudah terlalu tinggi. Maka prospek bisnis persewaan apartemen di New York dilihat Pinnacle sangat suram.

Baca Juga  Soal Covid-19, Media Jangan Nakut-nakutin Masyarakat

Namun usulan Mamdani untuk mempertahankan apartemen itu gagal. Pengadilan memutuskan untuk melelang. Lelang dimenangkan oleh Summit Properties USA dengan 451 juta USD. Perusahaan tersebut mengambil alih lebih dari 90 bangunan milik Pinnacle.

New York Times menyebut bahwa Summit Properties adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Israel. Data pemerintah New York menyebut perusahaan tersebut telah mendapat lebih dari 780 komplain akan pelanggaran yang belum diselesaikan, termasuk 290 pelanggaran yang dianggap sangat berbahaya. Kendati demikian, pihak Mamdani mengaku masih akan memikirkan cara lain untuk menyelamatkan penyewa supaya tidak ada kenaikan harga sewa.

Mamdani juga menandatangani sejumlah perintah eksekutif yang bertujuan untuk meningkatkan pasokan perumahan kota dan mengungkap praktik penyewaan yang tidak adil. Pada 1 Januari, Mamdani membentuk dua gugus tugas kota melalui perintah eksekutif, satu untuk mengidentifikasi lahan milik kota untuk potensi pengembangan perumahan dan yang lainnya untuk menemukan dan menghilangkan hambatan perizinan perumahan yang memperlambat produksi dan meningkatkan biaya.

Minggu ini Mamdani memerintahkan pembentukan sidang “penipuan sewa”, sidang publik yang dirancang agar warga dapat berbagi “praktik pemilik rumah yang ilegal, tidak adil, kasar, menipu, atau tidak bermoral,” dan juga mengakhiri penangguhan standar kesehatan dan keselamatan tertentu di tempat penampungan kota yang diberlakukan pada tahun 2024 di tengah masuknya pencari suaka.

Jalan Baru Pengendara Sepeda

Salah satu hal pertama yang dilakukan Zohran Mamdani pada minggu pertamanya sebagai walikota adalah mengaspal “Big Bump” di kaki Jembatan Williamsburg. Gundukan tersebut, yang terkenal karena dapat melemparkan pesepeda ke udara jika mereka melewatinya terlalu cepat, kini telah hilang.

Mamdani menghabiskan minggu pertamanya menjabat untuk membatalkan sebagian besar kebijakan yang telah dibuat Adams. Pada hari ketiganya, ia mengumumkan akan memasang kembali jalur sepeda McGuinness. Ia menyebut pihaknya sedang berupaya menyelesaikan jalur sepeda di Jalan 31 Astoria, sebuah proyek yang dihentikan oleh hakim sebagian karena Adams belum mendapatkan sertifikasi yang diperlukan dari FDNY dan lembaga lainnya.

Baca Juga  Sekularisasi, Langkah Akhiri Absolutisme Agama

Mamdani juga mengatakan bahwa ia akan membuat jalan-jalan kota “terbuka”, sebuah langkah keselamatan yang masuk akal yang akan menjaga persimpangan tetap bebas dari penghalang visual seperti mobil yang diparkir.

Program terakhir Zohran Mamdani dalam seminggu terakhir adalah menggratiskan layanan penitipan anak. Ia menggelontorkan dana 4,5 juta USD untuk seluruh distrik. Awalnya program ini akan mencakup seluruh anak usia 4 tahun. Dalam beberapa waktu ke depan, program ini akan ditingkatkan untuk penitipan anak usia 2 tahun.

Akankah Sosialisme Zohran Mamdani Berhasil?

Bisakah sosialisme sukses di jantung kapitalisme? Laman Disway menyebut kemungkinan berhasilnya hanya 35%. Namun kemungkinan gagalnya juga 35%. Sisanya adalah kompromi.

Kegagalan akan terjadi karena krisis anggaran. Mamdani terlalu banyak mengeluarkan dana untuk infrastruktur sosial tanpa adanya kenaikan pendapatan, terutama dari pajak. Kebijakan-kebijakan pro rakyat seperti harga sewa perumahan yang stabil dan bus gratis membuat Balaikota harus mengeluarkan banyak dana. Maka investor merasa New York tidak lagi menarik untuk bisnis. Sehingga mereka akan mengalihkan dananya ke tempat lain.

Namun Mamdani juga bisa berhasil. Itu karena New York sudah terlanjur kaya, menjadi pusat keuangan dunia. Infrastruktur dasarnya sudah terbangun dalam waktu yang sangat lama. Sekarang tinggal membangun infrastruktur sosial agar lapisan bawah lebih produktif, lalu menjadi sumber kemajuan baru.

Jalan ketiga adalah kompromi. Sebagian janji dipenuhi, sebagian lagi ditunda. Para pengusaha bisa saja tidak kabur, namun harus tetap menurunkan ekspektasi keuntungan.

(Yanuri)

Related posts
In-Depth

Apa Sebenarnya Mens Rea?

5 Mins read
Di tengah hiruk-pikuk dunia hiburan dan politik Indonesia, istilah “mens rea” tiba-tiba menjadi sorotan nasional. Awalnya dikenal sebagai konsep mendasar dalam ilmu…
In-Depth

Melihat Peluang Amerika Ambil Alih Greenland, Bagaimana Respons Denmark?

5 Mins read
Minggu lalu, dunia dikejutkan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh Amerika Serikat. Penangkapan itu disebut oleh banyak…
In-Depth

Mengapa Nadiem Dituding Rugikan Negara Triliunan?

3 Mins read
Setelah beberapa kali ditunda, sidang perdana akhirnya digelar pada Senin, 5 Januari 2026, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Mantan Menteri…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *