In-Depth

500 Orang Meninggal, 10 Ribu Ditahan, Apa yang Terjadi dengan Demonstrasi Iran?

3 Mins read

Dilansir dari Reuters pada Senin pagi (12/1/2026), demonstrasi di Iran yang sudah berjalan lebih dari dua pekan tersebut telah menelan lebih dari 500 korban jiwa. Ini merupakan salah satu demonstrasi yang paling mematikan dalam sejarah Republik Islam Iran. Hal tersebut disampaikan oleh HRANA, sebuah organisasi sayap kanan di Amerika.

Menurut HRANA, 490 korban jiwa berasal dari kelompok demonstran, sementara 48 berasal dari petugas keamanan. Sementara lebih dari 10 ribu jiwa ditahan sepanjang dua pekan demonstrasi.

Gerakan jalanan tersebut dimulai di ibu kota Teheran dua minggu lalu karena kesulitan ekonomi. Sejak saat itu, protes telah menyebar ke lebih dari 100 kota dan desa di seluruh provinsi Iran.  Di Rumah Poursina di Kota Rasht saja, pada Jumat malam sudah ada 70 jenazah korban demonstrasi.

Dilansir dari The Guardian, ketika para demonstran mulai berkumpul di lingkungan Andarzgoo yang mewah di Teheran pada Sabtu malam, pasukan keamanan mendekat, mengangkat senapan serbu, dan mulai menembak para demonstran yang tidak bersenjata dari jarak dekat.

BBC Persia telah memverifikasi bahwa 70 jenazah dibawa ke Rumah Sakit Poursina di kota Rasht pada Jumat malam. Kamar mayat di sana sudah penuh, sehingga jenazah-jenazah tersebut dibawa pergi. Pihak berwenang meminta keluarga korban untuk membayar 7 miliar rial atau sekitar 118 juta rupiah untuk membebaskan jenazah agar dapat dimakamkan, kata sebuah sumber rumah sakit.

Banyak media yang tidak dapat meliput dari dalam Iran, mengingat internet di negara tersebut dilumpuhkan secara total dan jaringan telepon diputus sejak Kamis sore. Membuat informasi semakin sulit didapat. Seorang tenaga medis di Tehran mendeskripsikan suasana di kota tersebut dengan “sangat mencekam”. Ada banyak korban jiwa di jalanan yang tidak dapat diselamatkan.

Baca Juga  Apakah Arab Saudi Negara Islam yang Ideal?

“Banyak yang meninggal… Tembakan langsung ke kepala dan jantung demonstran. Banyak dari mereka bahkan tidak sempat sampai ke rumah sakit. Yang di rumah sakit, jumlahnya sangat banyak sehingga tidak ada cukup ruang di kamar mayat. Jenazah-jenazah itu ditumpuk satu di atas yang lain. Setelah kamar mayat penuh, mereka menumpuknya satu di atas yang lain di ruang salat. Kebanyakan berusia 20-25 tahun,” ujar informan tersebut.

Apa Penyebab Demonstrasi di Iran?

Protes dimulai dengan demonstrasi di pasar-pasar Teheran terkait inflasi yang merajalela. Demonstrasi kemudian menyebar ke seluruh negeri dan berubah menjadi protes yang lebih umum ditujukan secara langsung kepada rezim yang sedang berkuasa.

Kekhawatiran atas inflasi mencapai puncaknya pekan lalu, ketika harga barang-barang pokok seperti minyak goreng dan ayam melonjak drastis dalam semalam, dengan beberapa produk menghilang dari rak sama sekali.

Situasi semakin diperparah oleh keputusan bank sentral untuk mengakhiri program yang memungkinkan beberapa importir mengakses dolar AS yang lebih murah dibandingkan dengan pasar lainnya. Hal ini menyebabkan para pemilik toko menaikkan harga dan beberapa menutup toko, sehingga memicu demonstrasi semakin meluas. Pemerintah Iran awalnya mencoba mengurangi tekanan dengan menawarkan bantuan tunai langsung hampir $7 per bulan, tetapi langkah tersebut gagal meredam keresahan.

Hingga saat ini, sebagaimana dilansir dari CNN, demonstrasi telah terjadi di lebih dari 100 kota di 31 provinsi.

Dari Inflasi Menuju Pergantian Rezim

Sebagaimana diketahui, sejak 1979, Iran dipimpin oleh para mullah dengan sistem Islam. Pemimpin tertinggi Iran adalah Ayatullah Ali Khamenei, yang menggantikan Ayatullah Ruhullah Khomeini pasca meninggalnya di tahun 1989. Republik Islam Iran ini meninggantikan kepemimpinan pewaris kerajaan Persia yang saat itu dipimpin oleh Raja Shah Reza Pahlevi.

Baca Juga  Pelarangan Ideologi Khilafah: Tanggapan Muhammadiyah, NU dan MUI?

Reza Pahlevi merupakan pemimpin yang dekat dengan Barat. Sementara itu, ketika revolusi 1979, domestik maupun rezim mullah Iran memiliki retorika yang sangat anti terhadap Barat, khususnya Amerika dan Israel. Sejak saat itu, permusuhan antara Iran dengan dunia Barat semakin meningkat, mengakibatkan isolasi dan sanksi yang diberlakukan oleh dunia internasional yang dipimpin oleh AS terhadap Iran.

Ketegangan itu memuncak pada tahun Juni 2025, ketika Iran dan Israel berbalas rudal selama 11 hari. Konflik tersebut diakhiri dengan serangan bom AS di kawasan yang dicurigai sebagai tempat pengembangan senjata nuklir Iran. Di sisi lain, Israel juga beberapa kali mengeluarkan pernyataan tentang upaya menggulingkan rezim Iran.

Demonstrasi Iran yang awalnya memprotes kenaikan harga-harga bahan pokok, kini berubah menjadi retorika kebencian terhadap rezim dan menuntut pergantian kepemimpinan.

Reza Pahlavi, putra dari Shah terakhir yang tinggal di pengasingan di Amerika, menjadi salah satu alternatif pemimpin Iran yang digadang-gadang oleh sebagian demonstran untuk menggantikan rezim Islam. Ia menyerukan protes yang lebih terkoordinasi di seluruh kawasan Iran. Salah satu nyanyian yang diteriakkan oleh para demonstran adalah “Ini pertarungan terakhir, Pahlavi akan kembali”.

Respon Musuh Iran

Sementara itu, AS dan Israel sebagai negara yang paling bermusuhan dengan Iran tidak tinggal diam melihat kerusuhan yang terjadi di wilayah musuh mereka. Presiden Amerika Donald Trump memperingatkan beberapa kali bahwa akan ada konsekuensi yang sangat buruk jika demonstran terbunuh.

“Saya telah memberi tahu mereka jika mereka mulai membunuh massa, yang biasa mereka lakukan ketika terjadi demonstrasi, kami akan pukul mereka dengan sangat keras,” ujar Trump pada Kamis (8/1/2026).

Di hari selanjutnya, Trump mengulangi pernyataan tersebut. “Lebih baik tidak memulai menembak, karna kami juga akan mulai menembak,” ujarnya.

Baca Juga  Gerbang Praja: Bumikan Bahasa, Aksara, dan Adab Jawa

Pada hari Sabtu, Trump kembali mengeluarkan pernyataan melalui media sosialnya. Ia menyebut bahwa rakyat Iran ingin kebebasan. Trump berkomitmen untuk membantu rakyat Iran dalam mewujudkan kebebasan tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan panggilan telepon dengan Sekretaris Negara AS Marco Rubio untuk mendiskusikan tentang kemungkinan intervensi AS dalam menyikapi demonstrasi di Iran. Netanyahu menyebut bahwa pihaknya mengikuti perkembangan Iran dengan teliti. “Kami berharap bahwa Persia segera terbebas dari rezim tiran,” ujar Netanyahu,

Di sisi lain, Ali Khamenei, dalam sebuah saluran televisi meminta Trump untuk fokus pada urusan domestiknya sendiri. “Ada beberapa penghasut yang ingin menyenangkan Presiden Amerika dengan merusak fasilitas publik. Rakyat Iran yang bersatu akan mengalahkan semua musuh-musuhnya,” ujar Khamenei.

“Republik Islam Iran tidak akan mundur menghadapi mereka yang berupaya menghancurkan kita,” imbuhnya.

(Yanuri)

Related posts
In-Depth

Politik Anggaran Kebijakan Ketahanan Pangan Indonesia

4 Mins read
Politik anggaran, sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 23 UUD 1945, merupakan proses politik dalam penentuan dan pengalokasian anggaran publik yang mencakup bagaimana pemerintah…
In-Depth

Akankah Sosialisme Berhasil di Jantung Kapitalisme? Melihat Kebijakan Zohran Mamdani

4 Mins read
Di New York, Amerika, tempat dimana kapitalisme lahir dan berkembang ke seluruh dunia, ideologi sosialisme mulai tumbuh. Zohran Mamdani, seorang pria imigran…
In-Depth

Apa Sebenarnya Mens Rea?

5 Mins read
Di tengah hiruk-pikuk dunia hiburan dan politik Indonesia, istilah “mens rea” tiba-tiba menjadi sorotan nasional. Awalnya dikenal sebagai konsep mendasar dalam ilmu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *