Opini

Sabar atas Hujan Ekstrem: Perspektif Islam & Sains

3 Mins read

Wilayah Indonesia merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana alam. Bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh alam (seperti gempa bumi, angin besar, dan banjir). Demikian pengertian bencana alam secara etimologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Salah satu jenis bencana alam adalah bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan, temperatur, angin, dan kelembapan. Bencana hidrometeorologi dapat berupa kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, angin puyuh, gelombang dingin, hingga gelombang panas. Penyebab bencana hidrometeorologi adalah perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Wilayah Indonesia sering mengalami perubahan cuaca secara mendadak dan ekstrem yang terkadang berujung pada bencana hidrometeorologi. Cuaca ekstrem seperti kemarau panjang sering menyebabkan kekeringan di beberapa daerah. Hujan lebat dalam periode lama juga bisa menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor, seperti yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Utara beberapa waktu lalu.

Bencana apapun termasuk bencana hidrometeorologi tentunya tidak diinginkan oleh semua makhluk hidup khususnya manusia. Banyak dampak negatif yang ditimbulkannya.

Terhadap hal-hal yang tidak mengenakkan, sikap yang perlu ditumbuhkembangkan adalah menyabarinya. Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita. Ajaran tentang kesabaran dapat kita jumpai dalam banyak nash Al-Qur’an dan hadis. Misalnya Q.S. al-Baqarah ayat 153-156 & beberapa hadis dalam shahih Muslim.

Dalam Q.S. al-Baqarah ayat 153, Allah Swt mengajak kita untuk menjadikan kesabaran sebagai media hadirnya pertolongan Allah Swt.             

              يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.”

Bersabar yang baik sebagaimana termaktub dalam kitab hadis shahih Muslim adalah bersabar yang mendatangkan kebaikan.

Baca Juga  Krisis Iklim dan Ekologi dalam Keruntuhan Islam Abad Pertengahan

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.”

Pertanyaannya adalah mungkinkah bersabar kita terhadap hujan ekstrem melahirkan kebaikan-kebaikan? Jawabannya adalah mungkin.

Agar sabar kita terhadap hujan ekstrem menghadirkan kebaikan-kebaikan, maka pendekatan Islam dan sains perlu diterapkan. Pendekatan Islam menggunakan sumber primer ajaran Islam yakni Al-Qur’an dan hadis.

Dalam Al-Qur’an dapat kita temukan beberapa wawasan tentang menyahabati hujan. Salah satunya adalah surah al-Mu’minun ayat 18. Ayat lengkap dan artinya sebagai berikut:

وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍ فَاَسْكَنّٰهُ فِى الْاَرْضِۖ وَاِنَّا عَلٰى ذَهَابٍۢ بِهٖ لَقٰدِرُوْن

Artinya: Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran. Lalu, Kami jadikan air itu menetap di bumi dan sesungguhnya Kami Maha Kuasa melenyapkannya.

Dapatkah ayat di atas digunakan sebagai inspirasi sabar atas hujan ekstrem? Jika bisa, bagaimana menggunakan ayat di atas sebagai inspirasi untuk menyabari hujan ekstrim?

Guna menjawab pertanyaan di atas, penulis berfokus pada frasa فَاَسْكَنّٰهُ فِى الْاَرْضِ yang sering diartikan “Lalu, Kami jadikan air itu menetap di bumi”. Menurut penulis, kata الْاَرْضِ pada frase tersebut lebih tepat dimaknai dengan tanah daripada bumi sebagai makna kontekstualnya.

Karena sifat hujan jika sudah sampai ke bumi adalah menetap di tanah, maka kita harus membantu meresapkan hujan ke lapisan tanah atas hingga lapisan tengah. Perintah peresapan hujan ke lapisan tanah atas kemudian menuju lapisan tanah tengah inilah pesan deskriptif dari frase فَاَسْكَنّٰهُ فِى الْاَرْضِ dalam Q.S. al-Mu’minun ayat 18.

Baca Juga  QS al-Mu'minun Ayat 18: Tiga Watak Hujan

Pesan ini seyogyanya dilaksanakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Muslim yang berkewajiban mengimani Al-Qur’an. Masyarakat terlebih masyarakat Muslim harus menyabari hujan ekstrim dengan meresapkan hujan ke lapisan tanah atas hingga tengah.

Dalam perspektif sains, ditemukan banyak cara meresapkan hujan ekstrem maupun tidak ekstrem ke lapisan tanah atas dan tengah. Keluarga Muslim dapat berkontribusi dalam peresapan air hujan dengan membuat lubang biopori di halaman rumah. Jika lahan mencukupi, pembuatan sumur resapan sangat disarankan. Sebagai alternatif lain, masyarakat dapat memanfaatkan jogangan (sebuah kearifan lokal yang efektif untuk meresapkan air hujan sekaligus mengelola sampah organik secara alami).

Program peresapan air hujan ke lapisan tanah atas hingga tengah dapat pula diinisiasi pada tingkat RT/RW. Bagi wilayah yang memiliki lahan kosong, pengurus dapat membangun sumur resapan, biopori, atau jogangan. Namun, jika lahan terbatas, program biopori tetap bisa dilaksanakan dengan memanfaatkan area jalan di sepanjang wilayah RT/RW.

Program peresapan air hujan ke lapisan tanah atas hingga tengah di tingkat desa juga sangat dimungkinkan. Pemerintah desa bisa membangun embung kecil di atas tanah kas desa sebagai waduk resapan. Jika lahan yang ada lebih cocok untuk sumur resapan, maka hal itu bisa menjadi pilihan kedua. Di saat yang sama, pemerintah desa dapat mendorong gerakan bioporisasi atau joganganisasi agar setiap jengkal tanah di wilayah RT/RW ikut berkontribusi meresapkan air hujan.ke dalam tanah lapisan atas hingga tengah.

Selain upaya tindakan peresapan air hujan ke dalam tanah, menyabari cuaca ektrem dapat dilakukan melalui do’a. Salah satu contoh doanya termaktub dalam shahih Al-Bukhari.

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ  اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Baca Juga  Generasi Penanam vs Generasi Penebang

Artinya: “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.

Semoga sekelumit tulisan ini bermanfaat.

Wa Allah a’lamu bi al-shawab

(YY)

Avatar
38 posts

About author
Staf Pengajar UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Sains dan Teknologi. Santri Pondok Pesantren Islam al-Mukmin Ngruki Tahun 1991-1997.
Articles
Related posts
Opini

Jadi Benteng Penjaga Nyawa Rakyat Aceh, UIN Ar-Raniry Buka Prodi Mitigasi Bencana

4 Mins read
Aceh adalah wilayah yang hidup berdampingan dengan risiko. Bencana di Aceh bukanlah peristiwa insidental, melainkan realitas yang terus berulang. Dalam konteks ini,…
Opini

Titik Beda Konsep Bid'ah: Antara Muhammadiyah dan Salafisme

2 Mins read
Konsep bid‘ah merupakan salah satu isu paling sensitif dalam wacana keislaman kontemporer. Di Indonesia, perbedaan pemahaman tentang bid‘ah tidak hanya menjadi perdebatan…
Opini

Beda Metodologi Tafsir Quran Antara Manhaj Salafisme dan Muhammadiyah

2 Mins read
Perbedaan antara Salafisme dan Muhammadiyah tidak berhenti pada soal simbol, seperti jenggot, celana cingkrang, atau istilah “bid‘ah”. Akar persoalan yang lebih mendasar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *