Kapal induk USS Abraham Lincoln milik Amerika Serikat dan beberapa kapal perang pengawalnya sedang menuju Timur Tengah dari Laut Cina Selatan di tengah meningkatnya ketegangan AS dengan Iran.
Dilansir dari Al Arabiyya, mengutip dua pejabat yang berbicara dengan syarat anonim, publikasi tersebut melaporkan bahwa kapal induk Amerika dan pengawalnya dapat tiba di wilayah tersebut dalam waktu sekitar satu minggu.
Lebih lanjut, publikasi tersebut mengutip para pejabat yang mengatakan bahwa “sejumlah pesawat tempur, kemungkinan termasuk kombinasi jet tempur, pesawat serang, dan pesawat pengisian bahan bakar, diperkirakan akan segera mulai mengalir ke wilayah tersebut.”
Sementara itu, AS juga mengirimkan peralatan pertahanan udara ke wilayah tersebut, termasuk rudal pencegat. Pengiriman tersebut bertujuan untuk melindungi pangkalan di Timur Tengah dan Teluk, terutama pangkalan udara al-Udaid di Qatar.
“Dua pejabat AS mengatakan peningkatan persenjataan tersebut bertujuan untuk mencegah otoritas Iran melakukan kekerasan lebih lanjut terhadap para demonstran. Selain itu juga untuk memberi Trump lebih banyak pilihan dalam merencanakan serangan apa pun terhadap Iran,” menurut NYT.
Trump telah berulang kali mengancam kemungkinan tindakan militer jika penindakan brutal terhadap para demonstran terus berlanjut.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan militer apa pun terhadap Iran. Di sisi lain, seorang pejabat senior Saudi mengatakan pada hari Kamis (15/1/2026) bahwa Kerajaan Saudi, Qatar, dan Oman memimpin upaya untuk membujuk Trump agar tidak menyerang Iran. Mereka khawatir akan dampak buruk yang serius di kawasan.
Pejabat AS lainnya kemudian mengatakan bahwa Trump disarankan untuk tidak melakukan serangan skala besar. Karena kemungkinan besar tidak akan menjatuhkan rezim Iran dan justru dapat menyebabkan konflik yang lebih luas. Selain itu, AS membutuhkan lebih banyak aset militer di kawasan tersebut untuk dapat menangkis potensi respons dari Iran, termasuk terhadap pasukan AS di Timur Tengah dan Israel sendiri.
Awal pekan ini, AS menarik sebagian personelnya dari pangkalan udara Amerika terbesar di Timur Tengah, Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar. Departemen Luar Negeri juga telah memperingatkan warga untuk membatasi perjalanan yang tidak penting ke bagian-bagian tertentu di kawasan tersebut.
Meskipun Trump sejauh ini belum memutuskan untuk menyerang, para pejabat terus menekankan bahwa semua opsi tetap terbuka. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan Trump telah memperjelas bahwa semua opsi terbuka untuk menghentikan pembantaian di Iran.
Seorang pejabat senior PBB memperingatkan pada hari Kamis (15/1/2026) bahwa ancaman aksi militer terhadap Iran, seperti yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump, meningkatkan “volatilitas” di negara yang dilanda protes tersebut.
Iran diguncang selama pekan lalu oleh beberapa protes anti-pemerintah terbesar dalam sejarah republik Islam. Meskipun demonstrasi tampaknya telah mereda di tengah represi dan pemadaman internet selama seminggu.
Hingga hari Rabu, Amerika Serikat mengancam akan melakukan aksi militer terhadap Iran jika negara itu melaksanakan hukuman mati terhadap orang-orang yang ditangkap karena protes tersebut. Seorang utusan Washington untuk PBB mengatakan pada hari Kamis bahwa semua opsi masih “dipertimbangkan.”
“Kami mencatat dengan cemas berbagai pernyataan publik yang menunjukkan kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Dimensi eksternal ini menambah volatilitas pada situasi yang sudah mudah terbakar,” kata Asisten Sekretaris Jenderal PBB Martha Pobee.
“Semua upaya harus dilakukan untuk mencegah memburuknya situasi lebih lanjut,” imbuhnya.
Perwakilan Iran dalam pertemuan tersebut, Gholamhossein Darzi, menuduh Washington mengeksploitasi protes damai untuk tujuan geopolitik. Pernyataan Trump “bertujuan untuk kembali memicu kerusuhan,” katanya.
Jurnalis Iran-Amerika, Masih Alinejad, yang diundang untuk berbicara di Dewan oleh Washington, mengatakan “seluruh warga Iran bersatu” melawan sistem ulama di Iran.
“Jutaan warga Iran membanjiri jalanan menuntut agar uang mereka dihentikan pencuriannya dan dikirim ke Hamas, Hizbullah, dan Houthi,” katanya. Ia merujuk pada kelompok bersenjata yang didukung Teheran.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, mengatakan bahwa Amerika Serikat “mendukung rakyat Iran yang berani, titik.”
“Tingkat penindasan yang dilakukan rezim Iran terhadap warganya sendiri, rakyatnya sendiri, memiliki dampak bagi perdamaian dan keamanan internasional,” tambahnya.
(Yanuri)

