Opini

Haji Yunus Jamaludin: Konsul Muhammadiyah Bengkulu Pertama, Penyambung Lidah Rakyat

5 Mins read

Relasi antara Bengkulu dan Minangkabau sejak lama telah terbangun. Dapat kita baca dalam Tambo Bangkahulu seorang Minangkabau dari Pagarruyung bernama Baginda Maharaja Sakti didapuk menjadi penguasa negeri yang kemudian bernama Sungai Lemau untuk mengisi kekosongan kekuasaan.Relasi tersebut menempatkan Bengkulu sebagai salah satu daerah tujuan rantau atau perdagangan.

Pijper, seorang pemerhati Islam dari Kantoor voor Indlandsche Zaken menemukan hubungan yang erat Bengkulu dan Minangkabau. Orang Bengkulu yang ingin memperdalam Islam akan pergi ke Minangkabau untuk belajar fiqh, tasawuf dan lain sebagainya. Hal tersebut dikarenakan Inggris memutus hubungan antara Bengkulu dan Banten yang juga merupakan titik sentral penyebaran agama Islam.

Demikian eratnya hubungan tersebut, sehingga apa yang terjadi di Minangkabau akan merambat pula ke Bengkulu seperti gerakan reformasi Islam di awal abad ke 20. Taufik Abdullah menuliskan dalam tesisnya bahwa pertemuan antara islam reformis dan kemajuan yang dibawa oleh barat menjadikan sebuah tipe Islam yang menolak tradisionalisme dan kekolotan.

Selanjutnya muncullah sebutan kaum muda yang progresif dan kaum tua yang lebih berpihak pada status Quo. Kaum Muda yang merantau dan banyak berprofesi sebagai pedagang mulai mengajarkan keyakinannya tersebut dengan orang-orang di perantauan. Di Bengkulu, seorang pedagang yang banyak bertemu dengan mereka terpengaruh kuat dengan ajaran kaum muda tersebut. Namanya, Haji Yunus Jamaludin.

Siapakah Yunus Jamaludin?

Haji Yunus Jamaludin (dalam ejaan lama: Joenoes Djamaloedin) adalah seorang pedagang. Alfian dalam bukunya “Muhammadiyah : The Political Behaviour of Muslim Modernist organization under Dutch Colonialism” mengidentifikasi Yunus sebagai penduduk asli Bengkulu yang terpengaruh kuat oleh gerakan kaum muda di Minangkabau.

Belum kami temukan sumber riwayat hidupnya saat masih kecil dan remaja bahkan keluarganya di Bengkulu sendiripun susah untuk dilacak. Namun, menimbang Bung Karno pernah memanggilnya dengan sebutan “kakanda” dapat diduga bahwa usianya lebih tua dari Bung Karno. Untuk itu penulis menaksir beliau lahitr pada tahun 1880 an atau 1890 an.

Yunus memang bukan berasal dari keluarga terpandang ataupun berasal dari aristocrat Bengkulu. Namun, diduga kuat ia lahir dari keluarga pedagang yang cukup kaya. Hal tersebut tampak dari gelar “Haji” yang disandangnya dimana pada tahun-tahun awal abad ke 20 dapat dihitung jari orang yang bergelar demikian.

Baca Juga  Membaca Sekilas Takwil Syihabuddin al-Alusi

Bahkan tokoh yang bergelar “Pasirah” ataupun “Demang” sekalipun belum tentu mampu melakukan ibadah haji yang memerlukan harta yang banyak dan fisik yang prima. Jika kita melihat pelaksanaan ibadah haji yang sulit pada masa kolonial, tentu saja dapat kita simpulkan bahwa Yunus melaksanakan ibadah hajinya saat usianya masih muda.

Selain itu, figure sebagai pedagang sukses di Bengkulu dapat dilihat dari pinjamannya kepada Muhammadiyah Cabang Curup dalam membeli hotel milik orang Tionghoa untuk dijadikan pusat Muhammadiyah setempat.

Yunus, yang kemudian lebih dikenal sebagai Haji Yunus, namanya muncul sebagai promotor koran Soeling Hindia yang terbit di Bengkulu pada tahun 1926. Posisinya sebagai bagian periklanan membuat koran ini dapat bertahan lebih lama.

Koran Soeling Hindia mengajak pada “kemajuan: dan “Indonesia Raya” sebuah ajakan yang berani dengan menantang bukan hanya pemerintah kolonial namun juga kaum adat dan Islam tradisional. Soeling Hindia pernah melabrak kebiasaan makan dan minum di rumah orang yang meninggal. Nuansa pemikiran kaum muda demikian terasa dalam koran tersebut, sehingga secara tidak langsung turut pula melambungkan nama Haji Yunus.

Tidak diketahui apa pendidikan formal yang ia dapatkan. Namun dapat diduga, Yunus mampu menggunakan bahasa Melayu, bahasa Belanda dan mampu menulis dalam huruf latin maupun Arab Jawi. Bisa jadi kemampuannya didapat bukan dari pendidikan formal, namun didapat secara otodidak.

Menjadi Konsul Muhammadiyah Bengkulu

Yunus juga tergabung dalam perkumpulan Muhibul Ihsan, sebuah perkumpulan kaujm reformis dan modernis Islam di Bengkulu yang didominasi oleh orang-orang Minangkabau.

Yunus menunjukkan kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang mumpuni sehingga ketika Muhibul Ihsan menginisiasi hadirnya Muhammadiyah di Bengkulu pada tahun 1928, Yunus ditunjuk sebagai ketuanyan dan untuk selanjutnya menjadi konsul Muhammadiyah Bengkulu yang pertama pada 1930 (pasca kongres Muhammadiyah di Bukit Tinggi).

Kepemimpinannya disambut dengan banyaknya hambatan yang ditemukan seperti penggeledahan kantor oleh polisi pemerintah kolonial, larangan bertabligh, konflik antar anggota Muhammadiyah dan golongan adat serta banyaknya mata-mata Belanda yang berkeliaran di Muhamadiyah sehingga antar anggota muncul rasa tidak saling percaya.

Apalagi pemerintah kolonial masih “trauma” dengan pemberontakan komunis tahun 1926/1927, sehingga pergerakan rakyat dicurigai mengarah pada garis radikal termasuk Muhammadiyah Bengkulu. Walaupun demikian karena kuatnya kepemimpinan dan manajerial Yunus, Muhammadiyah justru tidak bubar tapi malah makin berkembang hingga pelosok desa.

Baca Juga  Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan: Catatan Singkat Hari Santri

Pemerintah kolonial khawatir melihat perkembangan Muhammadiyah yang begitu pesat. Dalam memorie Van Overgave Residen W.J.R. Zieck, tahun 1930 saja tercatat beberapa organisasi yang berafiliasi dengan Muhammadiyah di Bengkulu seperti Aisyiyah, Penolong Kesengsaraan Oemom, Hizbul wathan dan Muhammadiyah itu sendiri.

Belum lagi melihat fakta bahwa Muhammadiyah berkembang dengan baik di daerah pesisir selatan Bengkulu maupun daerah pedalaman di utara. Kekhawatiran itu disokong pula oleh fakta bahwa Muhammadiyah adalah salah satu organisasi bersifat nasional yang tidak memandang suku bangsa. Hal tersebut menjadikan pemerintah kolonial gerah dan berasumsi bahwa Muhammadiyah suatu saat bisa saja berbalik melawan pemerintah kolonial.

Groeneveldt, adalah residen yang paling membenci Muhammadiyah Bengkulu. Selama kepemimpinanya, beberapa kali ia meminta Hoofdbestuur Muhammadiyah datang ke Bengkulu karena dinilai telah keluar dari garis kooperatifnya. Haji Mukhtar sebagai sekretaris HB Muhammadiyah turun langsung ke Bengkulu.

Residen meminta Haji Yunus Jamaludin sebagai konsul Muhammadiyah dipecat serta diganti oleh tokoh yang lebih kooperatif. Maka pada konferensi daerah selanjutnya, Haji Yunus Jamaludin terpaksa untuk meletakkan jabatannya. Kedudukannya digantikan oleh Hassan Din, seorang yang dinilai lebih kooperatif dengan pemerintah kolonial.

Walaupun demikian, hal tersebut tidak berlangsung lama. Hassan Din dinilai lemah kepemimpinannya sehingga masih diperlukan kepemimpinan gaya Yunus Jamaludin. Kembali dalam konferensi daerah selanjutnya, ia dipilih sebagai konsul Muhammmadiyah Bengkulu.

Sewaktu Bung karno di buang ke Bengkulu, Yunus Jamaludin menjadi tameng Bung karno dari segala isu dan pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Bung Karno yang makin aktif di Muhammadiyah membuat Residen kurang nyaman, bagaimana bisa seorang interniran aktif dalam sebuah organisasi. Yunus sebagau ketua pun dipanggil. Ia menjamin bahwa Bung karno tidak akan melakukan hal yang macam-macam di Muhammadiyah.

Begitu pula ketika Bung karno menuliskan pikiran kontroversialnya tentang tabir, banyak surat yang masuk ke meja tugas Yunus mempertanyakan hal tersebut. Ia berani menjamin bahwa Bung Karno tidak memiliki maksud yang buruk. Bahkan, ia yang sudah mulai sepuh harus mendamaikan Hizbul Wathan pemuda Muhammadiyah dan Suryawirawan yang bentrok karena menilai Suryawirawan menistakan agama Islam.

Baca Juga  Kritik Ivan Illich Terhadap Pendidikan Masa Kini

Keaktifannya di Muhammadiyah harus terhenti karena penyakit stroke yang ia derita. Sesuai dengan semangat berdemokrasi di Muhammadiyah, tak hendak ia menunjuk siapa yang akan menggantikannya sebagai konsul karena ia yakin warga Muhammadiyah akan memilih sendiri pemimpin yang terbaik untuk mereka. Sakit stroke inilah yang mengantarkan ia pada akhir hayatnya.

Penyambung Lidah Rakyat Bengkulu

Kabar tentang akan hadirnya Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer ke Bengkulu mendapat perhatian khusus dari seluruh warga Bengkulu. Laporan dari koran Pertja Selatan mengabarkan bahwa Parindra (Partai Indonesia Raya) cabang Bengkulu membentuk sebuah komite bernama “Persatoean Soeara Boemi Poetra kota Benkoelen” yang melibatkan beberapa pergerakan pada 20 September 1938.

Dikabarkan hampir seribu orang hadir dalam pertemuan tersebut. Hasil pertemuan adalah komite meminta waktu khusus perwakilan rakyat Bengkulu beraudiensi langsung dengan Gubernur Jenderal menyampaikan beberapa tuntutan.

Perdebatan kemudian muncul tentang siapa yang akan menyampaikan aspirasi tersebut langsung dihadapan Gubernur Jenderal. Pertemuan tersebut akhirnya berakhir dengan ditunjuknya aktivis tua yang masih bertaji, Yunus Jamaludin secara aklamasi. Yunus sendiri tahu apa konsekuensi menjadi juru bicara rakyat kepada Gubernur jenderal. Salah-salah ia bisa masuk ke bui dengan alasan mengganggu kondisi “Rust en Orde”.

Bulan Oktober 1938, Gubernur Jenderal Tjarda Van Starkenbourgh Stachouwer tiba di Bengkulu. Ia mengunjungi beberapa tempat startegis nasional seperti Lebong Tandai, pertambangan emas yang utama di keresidenan Bengkulu.

Setelah itu, baru rombongan tiba ke kota Bengkulu. Di saat pertemuan dengan Gubernur jenderal itulah Yunus Jamaludin menyampaikan tiga tuntutan penduduk Bengkulu.

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie teranggal 12 Oktober 1938 memberitakan tiga tuntutan warga Bengkulu tersebut. Pertama, masyarakat Bengkulu ingin adanya sebuah dewan dengan nama apapun yang diberi wewenang untuk ikut serta dalam pemilihan Volksraad. Kedua, meminta pada pemerintah agar wilayah Bengkulu memiliki wakil di Volsraad. Ketiga, meminta agar Raad hakim kecil dinaikkan statusnya sebagai Raad agama yang dapat mengajukan banding ke pengadilan tinggi agama (Islam).

Editor: Soleh

Avatar
12 posts

About author
Direktur Sekolah Langit Biru. Anggota Muhammadiyah Bengkulu.
Articles
Related posts
Opini

Indonesia Gabung Board of Peace, Langgengkan Status Quo di Palestina

3 Mins read
Indonesia akhirnya masuk Board of Peace. Dewan perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bagi sebagian orang, BoP ini berpotensi…
Opini

Jangan Sembarangan dalam Berfatwa!

3 Mins read
Di ruang publik Indonesia hari ini, agama semakin sering hadir bukan sebagai cahaya penuntun, melainkan sebagai arena perdebatan tanpa ujung. Mimbar, layar…
Opini

Indonesian Invited Disaster

3 Mins read
Bencana kini tidak lagi sekadar fenomena alam yang tak terelakkan. Di Indonesia, negeri dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan hutan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *