Ketegangan Amerika Serikat dengan Iran terus memuncak. Ketegangan yang sudah bertahun-tahun terjadi ini kembali meningkat ketika terjadi demonstrasi besar-besaran di seluruh provinsi di Iran. Iran menuduh AS berada di balik protes tersebut. Sementara AS terus mengancam Iran jika membunuh demonstran.
Meskipun demonstrasi di Iran sudah mereda, namun proses penangkapan demonstran masih terus berlangsung. Al Jazeera melaporkan bahwa di Gilan, 99 demonstran ditangkap pada hari Minggu (25/1/2026). Mereka dituduh merusak fasilitas umum dan menjadi pemimpin dari kericuhan, baik di jalanan maupun di media sosial.
Pemerintah Iran tidak mengumumkan angka orang-orang yang ditahan secara resmi, namun pekan lalu menyebut bahwa ada 3.117 jiwa yang terbunuh selama demonstrasi, termasuk 2.427 demonstran yang tidak bersalah dan anggota kepolisian.
Berbicara dalam pertemuan dengan para pejabat tinggi peradilan pada hari Senin (26/1/2026), Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei menegaskan kembali janjinya bahwa “tidak akan ada ampunan” yang ditunjukkan dalam penuntutan kasus-kasus terkait protes.
Ia juga menyatakan kekecewaannya atas seruan untuk bernegosiasi dengan AS di tengah apa yang disebutnya sebagai “perang habis-habisan dan blokade ekonomi” terhadap Iran. “Beberapa orang menganjurkan negosiasi dengan musuh yang berkhianat,” katanya.
Kapal Perang Amerika Bergerak ke Iran
Sementara itu, di tengah ketegangan dengan AS, kapal perang Amerika bergerak ke Iran. Para pejabat AS mengatakan bahwa kelompok serang kapal induk dan aset lainnya akan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.
“Kami mengawasi Iran. Kami memiliki kekuatan besar yang menuju ke Iran. Dan mungkin kita tidak perlu menggunakannya. … Kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu. Untuk berjaga-jaga, kami memiliki armada besar yang menuju ke arah itu, dan kita akan lihat apa yang terjadi,” ujar Trump.
Kapal induk Abraham Lincoln mengubah jalurnya dari Laut Cina Selatan lebih dari seminggu yang lalu menuju Iran. Kelompok serang kapal induknya termasuk kapal perusak kelas Arleigh Burke yang dilengkapi dengan rudal jelajah Tomahawk yang mampu menyerang target jauh di dalam Iran.
Kapal-kapal perang Amerika yang bergerak ke Iran tersebut juga dilengkapi dengan sistem tempur Aegis, yang menyediakan pertahanan udara dan rudal terhadap rudal balistik dan rudal jelajah serta ancaman udara lainnya.
AS juga sedang mempertimbangkan untuk menambah sistem pertahanan udara di kawasan, yang dapat menjadi pelindung pangkalan militer AS di kawasan Arab dari serangan Iran.
Untuk diketahui, AS telah mengoperasikan pangkalan militer di Timur Tengah selama beberapa dekade. Negara tersebut memiliki 40.000 hingga 50.000 tentara yang ditempatkan di sana. AS mengoperasikan jaringan luas situs militer, baik permanen maupun sementara, di setidaknya 19 lokasi di wilayah tersebut. Dari jumlah tersebut, delapan adalah pangkalan permanen, yang terletak di Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pengerahan tentara AS pertama di Timur Tengah terjadi pada Juli 1958 ketika pasukan tempur dikirim ke Beirut. Pada puncaknya, hampir 15.000 Marinir dan tentara Angkatan Darat berada di Lebanon.
Beberapa Maskapai Eropa Menghentikan Penerbangan di Kawasan
Hal yang membuat publik semakin khawatir adalah berita tentang penghentian penerbangan sipil oleh beberapa maskapai Eropa. KLM, maskapai milik Belanda pada 24 Januari menghentikan penerbangan ke Tel Aviv, Dubai, Riyadh, dan Dammam untuk menghindari kawasan Iran, Iraq, serta Israel. Hal yang sama juga dilakukan oleh Air France.
Sementara itu, Lufthansa, perusahaan penerbangan asal Jerman sejak 14 Januari sudah mengurangi penerbangan ke kawasan. Rute menuju Tel Aviv dan Amman di malam hari dihentikan, menyisakan rute siang hari. Beberapa maskapai lain yanng menghindari kawasan Arab dan Iran antara lain Wizz Air, Finnair, dan British Airways. Mereka menghindari untuk terbang di kawasan tersebut karena alasan keamanan. Mengingat ada kemungkinan eskalasi militer yang besar setelah kapal perang Amerika bergerak ke Iran.
Respon Republik Islam
Otoritas Iran terus memperingatkan konsekuensi serius jika terjadi serangan militer oleh Amerika Serikat. Pemerintah kota Teheran pada hari Minggu meluncurkan papan reklame raksasa di Lapangan Enghelab (Revolusi) di pusat kota, berisi peringatan terhadap pengerahan kapal induk super USS Abraham Lincoln dan pesawat tempur pendukungnya di dekat perairan Iran.
Gambar tersebut menunjukkan pemandangan dari atas sebuah kapal induk dengan jet tempur yang hancur di dek dan darah mengalir di air membentuk bendera AS.
“Jika kau menabur angin, kau akan menuai badai,” demikian bunyi pesan yang menyertainya dalam bahasa Persia dan Inggris.
Tokoh-tokoh militer terkemuka pada hari Senin (26/1/2026) menegaskan kembali kesiapan Iran untuk terlibat dalam perang lain dengan Israel dan AS jika terjadi serangan serupa dengan konflik 12 hari tahun lalu. Sementara Kementerian Luar Negeri menjanjikan “tanggapan komprehensif dan yang akan menimbulkan penyesalan”.
Juru bicara kementerian Esmaeil Baghaei juga memperingatkan “ketidakamanan yang dihasilkan oleh perang pasti akan memengaruhi semua orang”.
Saat Uni Eropa mempertimbangkan untuk memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi “teroris” setelah pemungutan suara di Parlemen Eropa. Baghaei mengatakan Teheran percaya bahwa “negara-negara Eropa yang lebih bijaksana harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam perangkap godaan jahat dari pihak-pihak non-Eropa”.
Sekutu-sekutu pemerintah Iran yang tersisa dalam apa yang disebut “poros perlawanan”, yang tidak melakukan tindakan apa pun selama perang Juni tahun lalu, juga telah memberi sinyal bahwa mereka mungkin akan menyerang kepentingan AS dan Israel kali ini jika konflik pecah.
Dilansir dari Al Arabiyya, Pemimpin Hizbullah Lebanon yang didukung Teheran, Naim Qassem, mengatakan pada hari Senin bahwa setiap serangan terhadap Iran juga akan menargetkan kelompoknya. Ia memperingatkan bahwa perang baru apa pun terhadap Republik Islam akan memicu konflik di kawasan tersebut.
“Kita menjadi sasaran setiap potensi agresi dan bertekad untuk membela diri,” kata Qassem dalam pidato yang disiarkan sebuah saluran televisi.
Iran adalah pendukung utama Hizbullah, yang menyediakan dana dan senjata sejak pembentukannya pada tahun 1980-an.
Kelompok Houthi di Yaman juga merilis video pada hari Senin yang menunjukkan kapal perang AS dan kapal dagang yang sebelumnya diserang. Hal itu mengindikasikan bahwa mereka dapat kembali menjadi sasaran meskipun ada kesepakatan gencatan senjata Gaza yang menghentikan serangan tersebut.
Respons Negara-negara Kawasan
Sementara itu, Uni Emirat Arab tidak akan mengizinkan serangan terhadap Iran dilancarkan dari wilayahnya, kata kementerian luar negeri dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.
Kementerian luar negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka “telah menegaskan kembali komitmen Uni Emirat Arab untuk tidak mengizinkan wilayah udara, wilayah, atau perairannya digunakan dalam tindakan militer yang bermusuhan terhadap Iran.”
UEA menampung ribuan personel AS di pangkalan udara al-Dhafra dekat ibu kota Abu Dhabi, salah satu dari beberapa situs militer Amerika di Teluk.
UEA juga menolak untuk memberikan dukungan logistik untuk serangan, kata pernyataan itu, menambahkan bahwa “dialog, de-eskalasi, kepatuhan terhadap hukum internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara” adalah cara terbaik untuk mengatasi krisis.
Negara-negara Teluk menentang serangan AS karena mereka khawatir akan terjebak dalam peperangan. Negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan UEA menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Serangan Amerika yang terjadi pada saat Republik Islam menghadapi gejolak internal dapat memicu respons yang lebih luas dan tidak terduga daripada serangan terencana Juni 2025 terhadap pangkalan udara al-Udeid di Qatar, setelah AS membom fasilitas nuklir Iran.
Seorang sumber dari Teluk mengatakan bahwa penentangan terhadap serangan, khususnya di Arab Saudi, melampaui penempatan taktis perangkat keras militer.“
Pertama, Iran tidak lagi dianggap sebagai ancaman. Kedua, ada peluang nyata untuk bernegosiasi dengan Iran karena mereka lemah. Trump pernah mengalami Venezuela. Yang dikatakan kepada Amerika adalah, ‘Ini adalah wilayah kami. Kita bisa membuat kesepakatan,’” kata sumber tersebut.

