IBTimes.ID – Pilar ekonomi Muhammadiyah mengalami transformasi penting seiring perjalanan panjang persyarikatan. Jika pada masa awal gerakan dakwah persyarikatan banyak ditopang oleh pengusaha perorangan, kini semangat kewirausahaan tersebut dilembagakan secara lebih sistematis dan berkelanjutan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa perubahan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi organisasi. Hal itu ia sampaikan dalam peringatan Milad ke-10 sekaligus Kick Off Pembangunan Gedung Kantor PT MPN di Yogyakarta, Jumat (30/1/2026).
“Kemandirian Muhammadiyah sejak awal ditopang oleh para pengusaha, khususnya pengusaha muslim batik,” ujar Haedar. Ia menjelaskan bahwa sejarah pertumbuhan Muhammadiyah di sejumlah daerah memiliki irisan kuat dengan komunitas pengusaha batik yang kemudian terhimpun dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) sejak 1948.
Namun, dinamika ekonomi nasional dan global membawa tantangan besar. Pada era Orde Baru, banyak pengusaha muslim yang menjadi tulang punggung ekonomi Muhammadiyah harus berguguran akibat persaingan pasar yang semakin keras, terutama dengan masuknya kekuatan ekonomi raksasa global ke Indonesia.
Dari Amal Usaha ke Pelembagaan Ekonomi
Berbeda dengan sektor pendidikan, kesehatan, dan sosial yang sejak awal telah terinstitusionalisasi dalam bentuk Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), gerakan ekonomi persyarikatan sempat berjalan lebih sporadis. Baru pada periode 1980–2000-an, AUM mulai dikelola secara profesional dan terlembaga sesuai bidang masing-masing.
“Baru pada tahun 2000-an ke atas amal-amal usaha ini bisa bertumbuh, berkembang, dan bahkan juga membuat unit-unit usaha atau orang menyebut sebagai unit bisnis,” kata Haedar.
Menurutnya, setiap AUM memiliki dua dimensi yang tidak bisa dipisahkan. Dimensi pertama bersifat sakral karena berakar pada nilai-nilai teologis dan misi dakwah. Dimensi kedua bersifat profan karena berhubungan dengan aktivitas usaha dan ekonomi.
“Yang satu sakral yang satu profan, Muhammadiyah secara organik memadukan dua dimensi itu menjadi satu kesatuan,” tegasnya. Usaha ekonomi Muhammadiyah, lanjut Haedar, harus selalu berpijak pada trilogi iman, ilmu, dan amal.
Sejak 2015, PP Muhammadiyah secara sadar menjadikan pengembangan ekonomi dan bisnis sebagai gerakan prioritas. Pelembagaan ekonomi ini tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan tetap berkarakter amal dan berorientasi pada kemaslahatan.
Haedar optimistis pelembagaan ekonomi persyarikatan akan mampu menjadi kekuatan yang memimpin. Dengan dukungan sumber daya manusia yang kuat dan tata kelola keuangan yang sehat, ekonomi kelembagaan Muhammadiyah diyakini mampu memberi dampak luas.
“Dan semuanya tidak lain untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat, kesejahteraan umat, kesejahteraan bangsa,” pungkasnya.
(NS)

