back to top
Kamis, Februari 12, 2026

APEC: Ekonomi Asia-Pasifik Ditopang Investasi Teknologi

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Di tengah lanskap global yang kian terfragmentasi dan dibayangi meningkatnya hambatan perdagangan, kawasan Asia-Pasifik masih menunjukkan daya tahannya. Organisasi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) melihat fondasi ekonomi regional tetap kokoh, ditopang konsumsi domestik yang solid dan gelombang investasi di sektor-sektor berbasis teknologi tinggi.

Laporan terbaru Analisis Tren Kawasan APEC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan mencapai 3,2 persen pada 2025 dan sedikit melandai menjadi 3,1 persen pada 2026. Angka tersebut mencerminkan optimisme jangka pendek, terutama karena permintaan yang terus terjaga dan geliat investasi pada teknologi mutakhir seperti kecerdasan artifisial (AI).

“Prospek pertumbuhan jangka pendek telah meningkat, didukung oleh permintaan yang berkelanjutan, performa perdagangan yang baik, dan investasi di bidang kecerdasan artifisial yang kuat,” kata Direktur Satuan Dukungan Kebijakan APEC Carlos Kuriyama, menurut keterangan tertulis yang diterima di Jakarta oleh ANTARA, Kamis (12/2).

Perdagangan menjadi salah satu penopang utama optimisme tersebut. Di tengah dinamika geopolitik dan kecenderungan fragmentasi global, arus barang masih menunjukkan kinerja yang impresif. Dalam tiga kuartal pertama 2025, volume ekspor kawasan melonjak 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara impor tumbuh 7,6 persen. Sektor teknologi berperan besar dalam menjaga momentum ini.

Pada sisi jasa, pertumbuhan tetap berlanjut meskipun lajunya tidak secepat tahun 2024. Perlambatan pada jasa perjalanan sedikit menahan akselerasi, namun ekspansi di sektor transportasi serta jasa komersial lainnya membantu menjaga keseimbangan.

Baca Juga:  Nelayan Berdaya Masuk Agenda Nasional, MPM Muhammadiyah Dorong Perubahan

***

Sementara itu, tekanan inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada 2025, inflasi kawasan diperkirakan berada di angka 2,4 persen, turun dari 2,6 persen pada 2024. Penurunan harga energi, stabilitas pasokan, dan membaiknya harga pangan menjadi faktor penting yang menopang tren ini.

Namun, di balik prospek yang relatif cerah dalam jangka pendek, tantangan jangka menengah mulai mengemuka. Pada 2027, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat ke level 2,9 persen. Hambatan struktural, ketegangan geopolitik, dan meningkatnya pembatasan perdagangan menjadi faktor yang membayangi.

“Pembatasan perdagangan yang meningkat serta ketidakpastian kebijakan semakin menjadi beban bagi pertumbuhan jangka menengah,” kata Kuriyama.

Tarif dan berbagai langkah non-tarif yang kian intensif membuat dunia usaha harus terus beradaptasi. Meski pelaku usaha sejauh ini masih mampu menyesuaikan diri, tekanan yang semakin kuat dikhawatirkan akan mempersempit ruang adaptasi tersebut.

Di sisi lain, lonjakan perdagangan semikonduktor—yang didorong tingginya permintaan dari sektor AI—mendorong peningkatan produktivitas. Akan tetapi, konsentrasi investasi pada sektor dan rantai pasok tertentu memunculkan risiko baru, terutama terkait dominasi pasar dan kerentanan rantai distribusi global.

Melihat dinamika tersebut, APEC mendorong para anggotanya untuk memperkuat kredibilitas kebijakan dan memastikan investasi di bidang AI selaras dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Koordinasi kebijakan yang lebih erat juga dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan sekaligus meredam ketidakpastian yang dihadapi dunia usaha.

Baca Juga:  Purbaya Siapkan Dana Rp60 T untuk Pulihkan Bencana Sumatera

Dengan kombinasi peluang dan risiko yang berjalan beriringan, kawasan Asia-Pasifik kini berada di persimpangan: mempertahankan momentum pertumbuhan sambil menavigasi tantangan struktural dan geopolitik yang kian kompleks.

(MS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru