IBTimes.ID – Meskipun perundingan tak langsung antara Amerika Serikat dan Iran sedang berlangsung, hal tersebut tak berarti ketegangan di kawasan mereda. AS tampak terus memprovokasi dan unjuk kekuatan. Pada Kamis (12/2/2026), seorang elit militer AS menyebut bahwa kapal induk Gerald R. Ford milik AS sedang berlayar dari Laut Karibia menuju perairan Iran. Untuk diketahui, kapal induk tersebut merupakan kapal perang terbesar di dunia.
Dilansir dari Al Arabiyya, dengan adanya USS Gerald R. Ford, AS menempatkan dua kapal induk dan kapal perang pendampingnya di wilayah tersebut. Di tengah negosiasi, Trump terus meningkatkan tekanan pada Iran untuk membuat kesepakatan mengenai program nuklirnya. Kapal induk USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak rudal berpemandu telah tiba di Timur Tengah lebih dari dua minggu yang lalu.
Kapal perang USS Ford sebelumnya dikirim Trump dari Laut Mediterania ke Karibia Oktober lalu ketika AS membangun kekuatan militer besar-besaran menjelang serangan mendadak bulan lalu yang menangkap Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro.
Pada hari Kamis, Trump memperingatkan Iran bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dengan pemerintahannya akan “sangat traumatis.” Iran dan Amerika Serikat mengadakan pembicaraan tidak langsung di Oman pekan lalu.
“Saya kira dalam sebulan ke depan. Kurang lebih seperti itu,” kata Trump menanggapi pertanyaan tentang jangka waktunya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran mengenai program nuklirnya. “Itu harus terjadi dengan cepat. Mereka harus setuju dengan sangat cepat.”
Trump mengatakan awal pekan ini bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengirim kelompok serang kapal induk kedua ke Timur Tengah. Ia mengadakan pembicaraan panjang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Rabu dan mengatakan ia bersikeras kepada pemimpin Israel bahwa negosiasi dengan Iran perlu dilanjutkan.
Netanyahu mendesak AS untuk menekan Teheran agar mengurangi program rudal balistiknya dan mengakhiri dukungannya terhadap kelompok militan seperti Hamas dan Hizbullah sebagai bagian dari kesepakatan apa pun.
Trump juga mengingatkan kembali serangan militer AS yang diperintahkannya terhadap fasilitas nuklir Teheran selama perang 12 hari Israel dengan Iran pada Juli tahun lalu.
“Kita akan lihat apakah kita bisa mencapai kesepakatan dengan mereka. Dan jika tidak, kita harus melanjutkan ke fase kedua. Fase kedua akan sangat sulit bagi mereka,” kata Trump.
Netanyahu telah melakukan perjalanan ke Washington untuk mendorong Trump mengambil sikap yang lebih keras dalam pembicaraan nuklir Iran. Khususnya mengenai dimasukkannya persenjataan rudal balistik Republik Islam.
Ia juga meminta Trump agar bersikap skeptis terhadap Iran dalam kesepakatan apapun.
“Saya tidak akan menyembunyikan dari Anda bahwa saya menyatakan skeptisisme umum mengenai kualitas kesepakatan apa pun dengan Iran. Kesepakatan apa pun harus mencakup unsur-unsur yang sangat penting dari perspektif kami,” ujar Netanyahu.
Ia menyebut program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata seperti gerakan Palestina Hamas, milisi Houthi Yaman, dan Hizbullah di Lebanon harus dihentikan.
“Ini bukan hanya masalah nuklir,” katanya.
Terlepas dari perbedaan mereka tentang Iran, Trump memberi sinyal dukungan pribadi yang kuat untuk Netanyahu. Ia mengkritik Presiden Israel Isaac Herzog karena menolak permintaannya untuk mengampuni perdana menteri atas tuduhan korupsi.
“Anda memiliki presiden yang menolak untuk memberikan pengampunan kepadanya. Saya pikir orang itu seharusnya malu pada dirinya sendiri,” kata Trump pada hari Kamis.
Sejauh ini, Iran telah menolak untuk memperluas pembicaraan baru di luar masalah program nuklirnya. Teheran membantah berupaya memiliki senjata nuklir, dan mengatakan tidak akan menyerah pada “tuntutan berlebihan” mengenai masalah tersebut.
Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, menuduh Israel berupaya menyabotase negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai program nuklir Teheran, agar dapat memicu perang baru yang akan menggoyahkan stabilitas kawasan.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera selama kunjungannya ke Doha, Qatar, di mana ia bertemu dengan para pejabat tinggi pada hari Rabu, Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan Israel telah mengarang dalih untuk mencoba menggagalkan negosiasi dengan Washington. Karena pembicaraan yang diperbarui berada pada tahap yang sensitif.
“Negosiasi kami secara eksklusif dengan Amerika Serikat. Kami tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Israel,” katanya.
“Namun, Israel telah ikut campur dalam proses ini. Dengan niat mereka untuk merusak dan menyabotase negosiasi ini.”
Ia mengatakan strategi Israel adalah “untuk menggoyahkan stabilitas kawasan”, dan bahwa agendanya “melampaui kekhawatiran yang diduga tentang Iran”, seperti yang dibuktikan oleh serangannya terhadap ibu kota Qatar yang menargetkan pejabat Hamas pada bulan September.
“Mereka berjudi bukan hanya dengan Iran. Tetapi juga Qatar, Arab Saudi, dan Turki,” katanya, seraya menyerukan para pemimpin regional untuk “menyadari hal ini.”
Serangan Israel terhadap Iran pada bulan Juni tahun lalu terjadi ketika Teheran dan Washington sedang terlibat dalam pembicaraan dan secara efektif menggagalkan negosiasi yang telah berlangsung beberapa putaran.
(YY)


