back to top
Selasa, Februari 24, 2026

Puasa Hijau: Saat Ramadhan Menjadi Jalan Sunyi Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Bumi kita sedang lelah. Suhu global terus naik, cuaca makin sulit ditebak, krisis pangan mengintai, sampah menumpuk, dan udara di kota-kota besar kian sesak. Semua ini bukan terjadi tiba-tiba. Ia lahir dari cara hidup manusia modern yang rakus energi, boros sumber daya, dan gemar mengonsumsi jauh melampaui kebutuhan. Karena itu, banyak negara—termasuk Indonesia—mulai mendorong ekonomi hijau (green economy) sebagai arah baru pembangunan.

Ekonomi hijau lazim dipahami sebagai ekonomi yang ramah lingkungan: energi terbarukan, kendaraan listrik, pengelolaan sampah, dan industri berkelanjutan. Namun, sering luput disadari bahwa krisis ekologis bukan semata persoalan teknologi, melainkan krisis etika konsumsi. Di sinilah puasa Ramadhan menemukan relevansinya yang tak terduga—sebagai laku spiritual yang diam-diam mengajarkan prinsip-prinsip ekonomi hijau.

Ekonomi Hijau dan Akar Masalahnya

Menurut UNEP, ekonomi hijau bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial, sekaligus menurunkan risiko kerusakan lingkungan. Artinya, ekonomi hijau tidak cukup hanya “hijau” secara teknologi, tetapi juga harus “hijau” secara perilaku.
Ekonom lingkungan Herman Daly sejak lama mengingatkan bahwa krisis ekologi bersumber dari overconsumption. Bumi rusak bukan karena manusia kekurangan teknologi, tetapi karena manusia gagal membatasi hasratnya. Daly bahkan menyebut ekonomi modern menderita penyakit growthism—keyakinan bahwa pertumbuhan tanpa batas adalah solusi segala masalah.

Pandangan ini diperkuat oleh Nicholas Georgescu-Roegen yang menjelaskan bahwa setiap aktivitas ekonomi pasti menguras energi dan material. Jika konsumsi terus digenjot tanpa kendali, kehancuran ekologis hanya soal waktu. Singkatnya, ekonomi hijau menuntut satu hal yang sering dihindari manusia modern: kesediaan untuk merasa cukup.

Baca Juga:  Batin yang Retak di Jerebuu: Sebuah Kritik Sosial dari Tepian Negeri

Puasa dan Latihan Merasa Cukup

Di titik inilah puasa Ramadhan menjadi sangat relevan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan menunda keinginan. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dimakan harus dimakan, tidak semua yang diinginkan harus dipenuhi.
Al-Qur’an mengingatkan dengan bahasa yang sederhana namun tegas:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A‘raf: 31)

Dalam bahasa ekonomi hijau, puasa adalah praktik konsumsi berkelanjutan (sustainable consumption) yang berbasis kesadaran moral. Ia membentuk manusia yang mampu membedakan kebutuhan dan nafsu. Padahal, kegagalan membedakan keduanya adalah penyebab utama ledakan sampah, pemborosan pangan, dan krisis lingkungan.
Ironisnya, Ramadhan sering justru identik dengan meja makan yang berlimpah dan sampah makanan yang meningkat. Di sinilah puasa perlu dibaca ulang. Bukan puasanya yang keliru, melainkan cara kita merayakannya.

Puasa Hijau dan Jejak Karbon

Dalam diskursus ekonomi hijau, dikenal konsep low-carbon economy—ekonomi yang berupaya menekan emisi karbon. Industri pangan adalah salah satu penyumbang emisi terbesar, dari pertanian intensif hingga distribusi yang boros energi. Setiap makanan yang terbuang berarti jejak karbon yang sia-sia.

Puasa, jika dijalani secara sadar, berpotensi menurunkan jejak ekologis individu: makan secukupnya, memilih pangan lokal, dan mengurangi pemborosan. Ini bukan kebijakan negara, melainkan disiplin personal yang dilakukan serentak oleh jutaan orang.
Dalam istilah ekonomi lingkungan, puasa adalah voluntary demand reduction—pengurangan konsumsi secara sukarela. Kekuatan utamanya bukan pada sanksi, melainkan pada makna.

Baca Juga:  Profil Alumni Ramadan, Seperti Apa?

Dari Lapar ke Solidaritas Sosial

Ekonomi hijau tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga keadilan sosial. Pertumbuhan hijau yang hanya dinikmati segelintir orang justru menciptakan ketimpangan baru. Karena itu, konsep inclusive green growth menekankan pentingnya distribusi dan solidaritas.
Puasa Ramadhan secara alami menghubungkan pengendalian diri dengan kepedulian sosial. Zakat, infak, sedekah, dan fidyah memastikan bahwa pengalaman lapar tidak berhenti pada refleksi pribadi, tetapi diterjemahkan menjadi aksi nyata. Ini sejalan dengan prinsip circular economy, di mana sumber daya terus berputar dan memberi manfaat, bukan menumpuk pada satu titik. Al-Qur’an merumuskan prinsip ini dengan sangat jernih:

“…agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. al-Hasyr: 7)

Dalam konteks krisis pangan global, puasa mengajarkan bahwa pengendalian konsumsi individu harus berjalan beriringan dengan distribusi sosial.

Puasa Hijau sebagai Gerakan Budaya

Kebijakan ekonomi hijau bisa dirancang di ruang-ruang rapat, tetapi budaya hijau hanya lahir dari kesadaran kolektif. Puasa Ramadhan memiliki kekuatan budaya yang luar biasa: massal, lintas kelas, dan berulang setiap tahun.

Jika dimaknai secara ekologis, Ramadhan bisa menjadi:
 bulan pengurangan sampah,
 bulan konsumsi bijak,
 bulan solidaritas pangan,
 bulan rekonsiliasi manusia dengan alam.

Dalam bahasa pembangunan, puasa adalah infrastruktur lunak ekonomi hijau—tanpa anggaran besar, tetapi berdampak jangka panjang.

Baca Juga:  Doa Malam Lailatul Qadar dari Rasulullah Saw

Di tengah dunia yang bising oleh iklan dan hasrat belanja, puasa menawarkan jeda. Ia mengajarkan bahwa menyelamatkan bumi tidak selalu dimulai dari teknologi canggih, tetapi dari kemampuan manusia berkata: cukup.

Mungkin, di tengah krisis ekologis global, yang paling kita butuhkan bukan hanya ekonomi hijau, tetapi puasa hijau—sebuah laku sunyi yang menyehatkan jiwa, menenangkan bumi, dan mengembalikan makna hidup pada kesederhanaan.

(FI)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru