back to top
Rabu, April 8, 2026

Abdul Mu’ti: Halal Bihalal dan Mudik Jadi Jalan Menuju Hidup Sehat, Bahagia, dan Cerdas

Lihat Lainnya

IBTimes.IDTradisi halal bihalal kembali ditegaskan sebagai kekayaan budaya religius khas Indonesia yang tidak hanya memperkuat silaturahmi, tetapi juga membawa dampak positif bagi kesehatan mental, kebahagiaan, dan kecerdasan sosial. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut tradisi ini lahir dari pengamalan kreatif nilai agama yang dapat diterima lintas kalangan.

Pernyataan itu disampaikan dalam acara Halal Bihalal Nasional bertema Semangat Syawal Meningkatkan Mutu Pendidikan yang diikuti jajaran pimpinan dan pegawai Kemendikdasmen secara luring di Jakarta serta daring dari seluruh Indonesia, Selasa (30/3/2026).

Menurut Mu’ti, selain halal bihalal, tradisi lain yang sangat khas Indonesia adalah mudik, yang maknanya tidak sekadar perjalanan fisik pulang kampung, tetapi juga perjalanan spiritual kembali pada fitrah kemanusiaan.

“Saya termasuk mudiker militan, selalu mudik dan sudah harus berada di kampung halaman sebelum adzan magrib berkumandang”, tuturnya.

Ia lalu menguraikan filosofi halal bihalal dan mudik melalui konsep 3R, 3O, dan 3S sebagai rumus kehidupan sosial yang relevan dengan dunia pendidikan dan budaya organisasi.

Rumus 3R, 3O, dan 3S untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas

Pada tahap pertama, Mu’ti menjelaskan konsep 3R: Refreshing, Reunion, Recreation. Refreshing dimaknai sebagai penyegaran spiritual setelah Ramadan sekaligus penyegaran sosial melalui saling memaafkan. Setelah itu muncul reunion, yaitu penyatuan kembali hubungan yang sempat renggang.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti, Tokoh Muhammadiyah Inklusif, Jubir Islam Moderat di Dunia Internasional

Recreation menjadi fase ketika perjalanan mudik dan pertemuan sosial menghadirkan suasana segar yang memunculkan gagasan baru.

Tahap berikutnya adalah 3O: Open Mind, Open Heart, Open House. Menurutnya, pikiran terbuka akan memudahkan seseorang menerima perbedaan dan masukan baru.

“Saya kalau turun ke lapanan, banyak ide bagus saya peroleh dari mereka. mereka Yang tidak pernah kita kenal sebelumnya,” tutur Mu’ti.

Hati yang lapang menjadi fondasi penting dalam budaya memaafkan dan membangun relasi yang sehat. Sementara itu, open house memperluas ruang silaturahmi secara lebih hangat dan egaliter.

Abdul Mu’ti kemudian mengaitkannya dengan riset Susan Pinker dalam buku The Village Effect yang menunjukkan bahwa interaksi tatap muka dan komunitas terbuka dapat memperpanjang usia. Hal itu sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan kebahagiaan.

Ia menegaskan bahwa praktik halal bihalal yang memperkuat silaturahmi pada akhirnya bermuara pada 3S: Sejahtera, Sehat, Smart.

“Insyaallah dengan mengamalkan 3R kemudian 3O itu kita mencapai 3S. Inilah yang perlu kita bangun di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah rumah kita bersama”, imbau Mu’ti.

“Mari kita bangun relasi dimana kita ini memperkuat budaya ramah, memperkuat budaya dan tata kelola yang santun. Karena dengan itu insyaallah kita bisa mencapai keberhasilan dan kesuksesan bersama-sama,” pesan penutup Abdul Mu’ti. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru