back to top
Senin, April 20, 2026

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus Berteknologi Italia, Perkuat Kemandirian Industri Kesehatan

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Muhammadiyah terus memperluas kiprahnya di sektor industri kesehatan dengan merancang pembangunan pabrik infus berteknologi tinggi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk memperkuat kemandirian layanan kesehatan sekaligus mengoptimalkan ekosistem ekonomi internal Persyarikatan.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa pabrik tersebut akan menggunakan teknologi asal Italia yang dipilih karena kualitas dan daya tahannya yang dinilai lebih unggul. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (18/4).

Rencana pembangunan pabrik infus ini dijadwalkan dimulai melalui peletakan batu pertama pada Mei 2026 di Mojokerto. Selain memproduksi cairan infus, fasilitas tersebut juga akan mengembangkan produksi alat kesehatan lain, seperti jarum medis dan produk sekali pakai lainnya.

Muhadjir menjelaskan, kebutuhan akan fasilitas ini sangat relevan mengingat Muhammadiyah memiliki jaringan layanan kesehatan yang luas, mencakup sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 400 klinik di seluruh Indonesia.

“Daripada membeli dari luar, lebih baik kita produksi sendiri agar bisa menekan biaya operasional rumah sakit Muhammadiyah. Kita ingin membangun sistem close loop di seluruh amal usaha,” ujar Muhadjir.

Strategi Kemandirian dan Efisiensi Layanan Kesehatan

Pembangunan pabrik infus ini menjadi langkah strategis dalam menciptakan sistem produksi internal yang terintegrasi. Dengan memproduksi kebutuhan medis secara mandiri, Muhammadiyah berharap dapat mengurangi ketergantungan pada produk impor sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional layanan kesehatan.

Baca Juga:  Lazismu PP Muhammadiyah Bersama Lazismu Sudan Akan Bangun Sumur di Sudan

Dalam aspek pembiayaan, proyek ini akan didukung melalui skema investasi berbasis saham yang melibatkan jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Model ini mencerminkan kolaborasi antarunit amal usaha untuk memperkuat keberlanjutan ekonomi organisasi.

Muhadjir menegaskan bahwa penggunaan teknologi dari Italia memang membutuhkan biaya besar, namun memberikan keuntungan jangka panjang dari sisi kualitas dan efisiensi.

“Teknologinya langsung dari Italia. Walaupun mahal, daya tahannya tinggi. Dari sisi kemasan juga lebih baik, sehingga berdampak pada efisiensi operasional,” jelasnya.

Meski menggunakan teknologi berstandar tinggi, Muhammadiyah tetap berkomitmen menghadirkan produk dengan harga yang kompetitif. Orientasi bisnis yang diusung tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Kita sudah hitung dengan matang agar harga tetap lebih terjangkau. Tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” tambahnya.

Proyek ini ditargetkan mulai dibangun pada akhir Mei 2026, rampung sebelum Muktamar Muhammadiyah ke-49 pada 2027, dan mulai beroperasi secara penuh pada 2028. Kehadiran pabrik infus ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam penguatan industri kesehatan berbasis organisasi keagamaan di Indonesia. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru