Ada yang berubah dalam cara manusia membayangkan dirinya sendiri. Bukan sekadar perubahan gaya hidup atau preferensi budaya. Pertanyaan tentang siapa kita sebenarnya ketika mesin bisa berpikir, ketika algoritma bisa mendiagnosis kanker lebih akurat dari dokter terbaik. Dan ketika kecerdasan buatan bisa menulis puisi yang membuat pembacanya menangis. Di sinilah posthumanisme bukan lagi wacana kejauhan, melainkan tantangan nyata yang mengetuk pintu pendidikan tinggi.

Filsuf Prancis Michel Foucault pernah menyatakan bahwa manusia adalah sebuah “invention recent”. Temuan baru yang mungkin akan terhapus seperti wajah di pasir pantai. Pernyataan itu terasa provokatif ketika pertama kali ditulis dalam Les Mots et les Choses (1966). Namun hari ini ia terasa seperti ramalan.

Ketergantungan manusia terhadap teknologi digital bukan lagi sekadar kenyamanan, tapi menjelma menjadi struktur berpikir baru. Kita tidak hanya menggunakan teknologi, kita perlahan menjadi sebentuk entitas yang tidak bisa dipisahkan darinya.

Data menunjukkan betapa cepatnya perubahan itu berlangsung. Dalam survei terbaru dari Digital Education Council , aliansi global universitas dan perwakilan industri yang berfokus pada inovasi pendidikan. Mayoritas mahasiswa (86%) mengatakan mereka menggunakan kecerdasan buatan dalam studi mereka.

Di sisi lain. Laporan McKinsey Global Institute (2023) memproyeksikan bahwa sekitar 30 persen pekerjaan yang saat ini ada akan terautomasi pada tahun 2030. Ironi inilah yang menjadi inti paradoks. Bahwa universitas mendidik mahasiswa untuk dunia yang sedang dihancurkan oleh teknologi yang sama-sama mereka gunakan.

Yang menarik bukan angkanya, melainkan implikasinya. Jika mesin sudah bisa mensintesis pengetahuan, merumuskan argumen, bahkan menulis esai. Lalu apa yang tersisa sebagai tugas eksklusif manusia dalam proses pendidikan?

Ketika Humanisme Tidak Lagi Cukup

Pendidikan tinggi selama berabad-abad berdiri di atas fondasi humanisme. Bahwa manusia adalah pusat dari segala pengetahuan. Bahwa akal budi adalah mahkotanya, dan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk individu yang utuh secara intelektual dan moral.

Immanuel Kant, dalam Kritik der reinen Vernunft, menempatkan rasio sebagai hakim tertinggi atas segala klaim pengetahuan. John Dewey memperluas visi itu dengan menyatakan bahwa pendidikan bukan sekadar transmisi ilmu, melainkan rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus.

Baca Juga:  Setelah Mendapatkan Beasiswa, Berapa Biaya yang Harus Ditanggung Sendiri?

Namun posthumanisme, sebagaimana dirumuskan oleh N. Katherine Hayles dalam How We Became Posthuman (1999), menantang asumsi dasar itu. Bagi Hayles, batas antara manusia dan mesin tidak lagi jelas, dan yang lebih penting, kekaburan itu bukanlah ancaman. Melainkan realitas baru yang perlu dipahami. Posthumanisme bukan anti-manusia. Ia adalah undangan untuk mendefinisikan ulang apa artinya menjadi manusia dalam era ketika kognisi tidak lagi bersifat eksklusif biologis.

Di sinilah pendidikan tinggi menghadapi krisis identitasnya. Jika mahasiswa bisa menggantikan kerja kognitif dengan AI Generatif, lalu apa yang sebenarnya sedang dididik? Jika analisis data bisa dikerjakan lebih cepat oleh mesin. Apakah universitas masih relevan menawarkan kurikulum yang berpusat pada penghafalan dan reproduksi informasi? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan retorika. Mereka adalah diagnosa.

Paradoks Ketergantungan

Teknologi digital menciptakan apa yang oleh filsuf Andy Clark disebut sebagai “extended mind”. Gagasan bahwa pikiran manusia tidak terbatas pada tengkorak, melainkan meluas ke alat-alat yang kita gunakan.

Smartphone adalah ekstensi memori. Mesin pencari adalah ekstensi penalaran asosiatif. AI generatif adalah ekstensi kreativitas. Clark dan Chalmers mengajukan argumen ini sejak 1998, namun implikasinya baru terasa penuh hari ini. Lalu saat alat itu dicabut, seberapa besar kapasitas kognitif yang tersisa?

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology (2021) menemukan bahwa ketergantungan pada mesin pencari. Secara signifikan menurunkan kemampuan seseorang untuk membentuk ingatan jangka panjang atas informasi yang diperoleh.

Fenomena ini disebut sebagai “cognitive offloading” dan meskipun efisien. Ia datang dengan harga: otak yang semakin jarang melatih proses penyimpanan dan retrieval mandiri. Dalam konteks pendidikan tinggi, ini berarti mahasiswa mungkin mahir menavigasi informasi, tetapi lemah dalam membangun pengetahuan yang menetap dan struktural.

Di sinilah paradoks yang sesungguhnya muncul. Teknologi membantu mahasiswa mengakses pengetahuan lebih cepat, tetapi juga berisiko mengikis kapasitas berpikir mandiri mereka. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Computers & Education pada 2024 menemukan adanya korelasi negatif. Antara ketergantungan tinggi pada AI dalam mengerjakan tugas akademis dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang diukur secara independen.

Baca Juga:  Jadi Islam Tak Perlu Jadi Arab!

Artinya, semakin sering mahasiswa mendelegasikan proses berpikir kepada mesin. Semakin lemah pula otot intelektual yang mereka butuhkan untuk hidup sebagai warga negara yang reflektif dan bertanggung jawab.

Posthumanisme sebagai Pedagogi

Jelas bahwa solusinya bukan pada penolakan teknologi, itu naif dan tidak mungkin. Juga bukan pada penyerahan penuh terhadapnya, sebab bahayanya tak terkira. Jalan tengah yang lebih bertanggung jawab adalah menjadikan posthumanisme sebagai kerangka pedagogis yang sadar diri.

Rosi Braidotti, salah satu teoretikus posthumanisme terkemuka. Berargumen dalam The Posthuman (2013) bahwa subjek manusia harus dipahami dalam relasionalitas dan keterkaitan dengan yang bukan-manusia. Termasuk teknologi. Ia tidak menyerukan kepatuhan pasif. Melainkan apa yang ia sebut sebagai “critical posthumanism”: kemampuan untuk berada dalam relasi dengan teknologi sambil tetap mempertahankan kapasitas kritis.

Dalam kerangka ini, pendidikan tinggi perlu melakukan pergeseran fundamental. Dari kurikulum yang berpusat pada konten menuju kurikulum yang berpusat pada kesadaran. Ini berarti tidak sekadar mengajarkan apa yang diketahui, tetapi bagaimana cara mengetahui. Termasuk mengetahui batas-batas dari alat yang kita gunakan untuk mengetahui. Mata kuliah tentang etika AI, literasi algoritmik, filsafat teknologi, dan epistemologi kritis. Bukan lagi pilihan tambahan melainkan inti dari pendidikan abad ke-21.

Filsuf pendidikan Gert Biesta menawarkan kerangka yang berguna di sini. Dalam The Beautiful Risk of Education (2013). Biesta berargumen bahwa pendidikan sejati selalu mengandung risiko. Yakni risiko menjadi subyek yang berbeda, Yang tidak terduga, yang tidak bisa dikalkulasi sebelumnya.

Membetuk subjek adalah satu-satunya yang tidak bisa dilakukan oleh AI. AI bisa mensimulasikan jawaban. Tetapi tidak bisa menghadirkan kegagalan yang mengubah, kebingungan yang mendewasakan, atau keberanian untuk mengambil posisi di tengah ketidakpastian. Pendidikan tinggi yang sehat justru harus menempatkan pengalaman-pengalaman itu sebagai intinya.

Baca Juga:  Sekolah Muhammadiyah di Australia Kembangkan Lahan Hingga 1,3 Hektar

Beberapa universitas telah mulai bergerak ke arah ini. MIT dan Stanford misalnya, telah memasukkan modul “AI and Society” sebagai mata kuliah wajib lintas program studi sejak 2022. Di Indonesia, beberapa perguruan tinggi terkemuka mulai mengintegrasikan literasi digital kritis ke dalam kurikulum inti. Meski skalanya masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan.

Manusia yang Selesai dengan Dirinya Sendiri

Pada akhirnya, apa yang dipertaruhkan dalam debat posthumanisme dan pendidikan tinggi bukan sekadar relevansi institusional. Yang dipertaruhkan adalah pertanyaan tentang apa jenis manusia yang ingin kita bentuk untuk masa depan. Apakah manusia yang efisien secara teknis tetapi miskin secara eksistensial? Atau manusia yang mampu menavigasi kompleksitas relasi antara dirinya, sesamanya, dan mesin-mesin yang ia ciptakan?

Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar bukan kejahatan yang dilakukan oleh orang jahat. Melainkan ketidakberpikiran “the banality of evil” yang dilakukan oleh orang-orang biasa yang tidak lagi mau berpikir. Di era AI, ketidakberpikiran itu bisa berwajah produktivitas: kita menyerahkan lebih banyak keputusan kepada mesin. Bukan karena terpaksa, tetapi karena nyaman.

Dalam dunia yang semakin dihuni oleh agen-agen non-manusia yang cerdas. Pertanyaan terbesar bukan lagi “apa yang bisa diajarkan mesin kepada manusia”. Melainkan “apa yang hanya bisa tumbuh dari pertemuan antarmanusia, dari pengalaman nyata. Dari pergumulan dengan ketidakpastian.” Menjaga ruang untuk pertanyaan itulah, barangkali, tugas paling mendasar dari pendidikan tinggi di era posthuman ini.

Pendidikan tinggi posthumanis yang sejati adalah pendidikan yang mengajarkan mahasiswanya untuk gelisah. Dengan cara yang produktif untuk tidak menerima begitu saja jawaban yang diberikan mesin, dan untuk terus bertanya apakah pertanyaan yang diajukan kepada mesin itu sudah tepat.

Bukan melawan teknologi, melainkan berdialog dengannya secara setara. Karena manusia yang selesai dengan dirinya sendiri adalah manusia yang tahu kapan harus memilih untuk tidak mendelegasikan kesadarannya pada mesin. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026!

(Nashuha)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini