back to top
Rabu, Juni 3, 2026

Kebangkitan dari Simpul-simpul Literasi Kecil

Lihat Lainnya

Siti Aisyah
Siti Aisyah
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Besok kita kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Biasanya tanggal-tanggal seperti ini dipenuhi kalimat besar tentang persatuan, perubahan, dan masa depan bangsa. Namun semakin ke sini, saya justru merasa kebangkitan sering lahir bukan dari pidato yang megah, melainkan dari komunitas-komunitas kecil yang diam-diam bertahan menjaga harapan.

Belum lama ini saya kembali berkumpul dengan volunteer perpustakaan keliling di Karanganyar. Nama acaranya memang sarasehan dan halal bihalal, tetapi suasananya lebih mirip ruang pulang bagi orang-orang yang sama-sama percaya bahwa buku masih penting, di tengah dunia yang hari ini lebih sibuk menggulir layar.

Di sana saya kembali sadar: gerakan literasi tidak selalu diisi manusia-manusia yang tampak heroik dan serius sepanjang waktu. Justru banyak di antaranya sangat sederhana, dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang terasa begitu manusiawi. Ada yang gampang ketiduran di mana saja. Ada yang energinya langsung habis setelah terlalu lama bersosialisasi. Ada yang punya teori tentang tiga jenis suara manusia. Ada pula yang ke mana-mana suka membawa makanan kucing. Jadi kalau sedang santai di pinggir jalan atau nongkrong di suatu tempat lalu ada kucing mendekat, biasanya kucing itu langsung diberi makan.

Kalau dipikir-pikir, mereka jauh dari bayangan “aktivis perubahan sosial” yang sering kita romantisasi. Namun mungkin memang perubahan sosial kerap bertahan karena ada orang-orang biasa yang bersedia repot sedikit lebih lama daripada yang lain.

Di tengah obrolan santai dan permainan sederhana itu, kami juga membicarakan perjalanan perpustakaan keliling yang ternyata sudah bertahan sejak 2018. Berawal dari keresahan sederhana melihat anak-anak terlalu akrab dengan gawai, komunitas ini perlahan tumbuh menjadi ruang belajar bersama. Tidak ada mimpi besar waktu itu. Tidak ada target menjadi gerakan nasional. Hanya ada kegelisahan kecil: bagaimana supaya anak-anak tetap dekat dengan buku.

Baca Juga:  Haji Ramah Lansia dan Masa Depan Pelayanan Haji Indonesia

Dan seperti banyak komunitas akar rumput lainnya, perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Jumlah volunteer sering kali masih kurang. Buku kadang terbatas. Pernah juga ada calon donatur yang mundur karena merasa komunitas ini belum memiliki visi yang cukup jelas. Tetapi mungkin justru di situlah makna kebangkitan yang sebenarnya. Bahwa sesuatu tidak harus langsung besar untuk bisa berarti.

Kerja Sosial dan Orang-orang yang Tetap Mau Peduli

Yang menarik bagi saya, perpustakaan keliling ini juga memperlihatkan bahwa kerja sosial tidak selalu lahir dari orang-orang yang memiliki banyak waktu luang. Salah satu founder-nya, Aqlima Naili Salsabila, juga dikenal sebagai founder Coltura.id, brand kain tenun yang sudah cukup dikenal.

Di tengah kesibukan membangun usaha kreatif dan brand yang terus berkembang, ia masih menyempatkan diri memikirkan anak-anak, buku, dan ruang belajar kecil di kampung-kampung. Di situlah saya merasa kerja sosial sering kali memperlihatkan wajah manusia yang paling hangat.

Sebab hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba membangun personal branding sebagai sosok sukses. Namun tidak semua orang yang berhasil tetap mau turun mengurusi hal-hal kecil yang mungkin tidak mendatangkan keuntungan apa-apa. Padahal justru di situlah ukuran hati seseorang sering terlihat. Bahwa setelah bertumbuh secara personal dan profesional, seseorang masih merasa perlu bertumbuh bersama orang lain.

Baca Juga:  Prestasi Semu di Balik Nilai Tinggi

Dan mungkin itu pula yang membuat komunitas seperti perpustakaan keliling mampu bertahan cukup lama. Ia tidak berdiri di atas ambisi menjadi besar, melainkan di atas kesediaan untuk terus hadir. Ada yang menyumbang buku tanpa minta dikembalikan. Ada yang meluangkan tenaga mendampingi anak-anak membaca. Ada yang menulis. Ada yang mendongeng. Ada yang mendokumentasikan kegiatan. Semua bergerak dengan caranya masing-masing. Karena ternyata menjaga literasi memang membutuhkan banyak jenis manusia.

Merawat Harapan dari Komunitas Kecil

Menjelang akhir acara, obrolan mulai bergerak lebih serius. Tahun 2025 kemarin, perpustakaan keliling sempat mengadakan kegiatan yang dihadiri sekitar 700 anak. Jumlah volunteer sebenarnya masih jauh dari cukup. Buku yang tersedia pun belum selalu memadai.

Namun justru di situ saya melihat sesuatu yang menarik: komunitas kecil sering kali bertahan bukan karena semuanya sudah lengkap, melainkan karena banyak orang diam-diam ikut menopang dari arah yang tidak disangka-sangka. Ada yang meminjamkan buku lalu berkata, “Tidak usah dikembalikan saja.” Ada pula bantuan buku dari Sekar Krisnauli Tandjung, yang juga dikenal sebagai pengelola Rumah Budaya Kratonan di Solo.

Di titik itu saya sadar, orang-orang yang percaya pada buku ternyata memang punya cara sendiri untuk saling menemukan. Mereka datang dari latar yang berbeda-beda—komunitas, dunia usaha, ruang budaya, bahkan politik—tetapi dipertemukan oleh keyakinan sederhana bahwa anak-anak tetap perlu dekat dengan bacaan dan ruang belajar yang hangat.

Baca Juga:  Mesih Pasha, Saudara Kaisar Romawi yang Menjadi Wazir Utsmani

Di tengah kondisi minat baca yang masih sering dianggap memprihatinkan—terlihat dari data Badan Pusat Statistik tahun 2025 yang menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca Indonesia masih berada di angka 54,8 poin dan kebiasaan membaca harian belum menjadi rutinitas mayoritas masyarakat—saya kira yang perlu dirawat bukan cuma angka statistiknya, tetapi juga simpul-simpul kecil tempat orang masih percaya bahwa membaca bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Sebab anak-anak sering kali bukan tidak suka membaca. Mereka hanya belum pernah dipertemukan dengan lingkungan yang membuat buku terasa akrab. Dan komunitas-komunitas kecil seperti ini sedang berusaha menghadirkan ruang itu, walaupun perlahan dan seadanya.

Mungkin inilah bentuk kebangkitan yang jarang masuk pidato resmi: ketika masyarakat biasa memilih saling merawat dan bertumbuh bersama. Bukan lewat sesuatu yang spektakuler, tetapi lewat hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus. Menggelar buku di tikar. Mendongeng di depan anak-anak. Membawa kardus buku, Atau sekadar datang agar komunitas kecil itu tidak merasa berjalan sendirian.

Karena kadang bangsa ini tidak selalu kekurangan orang pintar. Yang sering kurang justru orang-orang yang mau tetap peduli ketika semuanya terasa melelahkan. Dan mungkin selama masih ada orang-orang seperti itu, harapan tentang masa depan literasi belum benar-benar padam.

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru