back to top
Rabu, Juni 24, 2026

Mengubah Manusia tanpa Mempermalukannya: Pelajaran dari Al-Qur’an

Lihat Lainnya

Erna Suryandari
Erna Suryandari
Seorang guru Bahasa Inggris di SMK N 1 Juwiring, Klaten. Senang dengan dunia tulis menulis terutama sastra dan esai yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan sosial

Di tengah riuhnya media sosial, kita sering menyaksikan sebuah paradoks. Semakin banyak orang berbicara, semakin sedikit yang benar-benar mendengarkan. Kritik bertebaran di mana-mana, tetapi tidak selalu melahirkan perubahan. Sebaliknya, kritik sering berujung pada pertengkaran, saling menyalahkan, dan polarisasi. Banyak orang merasa bahwa kritik yang baik adalah kritik yang keras. Semakin tajam kata-katanya, semakin dianggap berani dan jujur.

Padahal, sejarah komunikasi manusia menunjukkan hal yang berbeda. Tidak semua kritik yang keras mampu mengubah perilaku. Sebaliknya, banyak perubahan besar justru lahir dari pertanyaan sederhana yang membuat seseorang merenung.

Dalam ilmu linguistik, khususnya pragmatik, dikenal konsep implikatur yang diperkenalkan oleh H. P. Grice. Teori ini menjelaskan bahwa makna tidak selalu terletak pada apa yang diucapkan secara langsung. Sering kali makna yang paling penting justru tersembunyi di balik kata-kata. Manusia tidak hanya memahami bahasa dari bunyi kalimatnya, tetapi juga dari konteks, tujuan, dan pesan yang tersirat.

Karena itu, komunikasi yang efektif tidak selalu berbentuk perintah atau larangan. Kadang-kadang sebuah pertanyaan, sindiran halus, atau perumpamaan justru lebih kuat pengaruhnya karena mengajak lawan bicara untuk berpikir sendiri.

Fenomena ini menarik untuk dibaca dalam perspektif Al-Qur’an. Ketika menuntun manusia menuju kebenaran, Al-Qur’an tidak selalu menggunakan bahasa yang menggurui. Sebaliknya, Al-Qur’an sangat sering menggunakan pertanyaan.

“Apakah mereka tidak berpikir?”

“Apakah mereka tidak memperhatikan?”

“Apakah mereka tidak mengambil pelajaran?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tersebar di berbagai surah. Jika diperhatikan, Allah SWT sebenarnya tidak sedang mencari jawaban. Allah SWT tentu mengetahui segala sesuatu. Pertanyaan tersebut bukan untuk memperoleh informasi, melainkan untuk menggugah kesadaran manusia.

Baca Juga:  Untuk Para Mufassir, Jadilah Penafsir Al-Qur'an yang Inklusif

Di sinilah letak keunikan bahasa Al-Qur’an. Wahyu tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan. Tujuannya bukan sekadar membuat manusia tahu, melainkan membuat manusia sadar.

Perbedaan antara tahu dan sadar sering kali luput dari perhatian. Banyak orang tahu bahwa berbohong itu salah, tetapi tetap melakukannya. Banyak orang tahu bahwa korupsi merugikan masyarakat, tetapi masih terlibat di dalamnya. Banyak orang tahu pentingnya menjaga lingkungan, tetapi tetap membuang sampah sembarangan.Masalahnya bukan pada kurangnya informasi. Masalahnya adalah belum lahirnya kesadaran.

Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya memberikan jawaban. Al-Qur’an juga mengajarkan manusia untuk bertanya. Pertanyaan memiliki kekuatan yang unik. Ketika seseorang dipaksa menerima sebuah kesimpulan, ia mungkin akan patuh untuk sementara. Namun ketika seseorang menemukan kesimpulan itu melalui proses berpikirnya sendiri, kesadaran yang lahir biasanya lebih mendalam dan lebih bertahan lama.

Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan seperti ini dikenal sebagai pembelajaran reflektif. Guru yang baik tidak selalu memberikan jawaban. Ia sering mengajukan pertanyaan yang membuat murid berpikir. Tujuannya bukan sekadar memperoleh jawaban yang benar, melainkan melatih kemampuan bernalar. Menariknya, metode yang sama dapat ditemukan dalam Al-Qur’an.

Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim berdialog dengan kaumnya yang menyembah berhala. Beliau tidak memulai dengan caci maki. Beliau tidak berkata, “Kalian bodoh karena menyembah patung.” Sebaliknya, beliau bertanya, “Apakah berhala-berhala itu mendengar ketika kamu berdoa? Apakah mereka memberi manfaat atau mudarat kepadamu?” (QS. Asy-Syu’ara: 72–73).

Secara bentuk, itu hanyalah pertanyaan. Namun secara substansi, itu adalah kritik yang sangat mendalam. Nabi Ibrahim tidak memaksa kaumnya menerima pandangannya. Ia mengajak mereka menggunakan akal yang mereka miliki.

Baca Juga:  Meluruskan Narasi “Sekolah itu Scam”

Kritik yang disampaikan melalui pertanyaan memiliki karakter yang berbeda dari kritik yang disampaikan melalui kemarahan. Kemarahan sering memancing perlawanan. Sebaliknya, pertanyaan membuka ruang perenungan. Orang tidak merasa diserang, tetapi diajak berpikir.

Selain pertanyaan, Al-Qur’an juga sering menggunakan perumpamaan. Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 5, misalnya, orang-orang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya diibaratkan seperti keledai yang memikul kitab-kitab tebal. Perumpamaan ini sangat tajam. Namun ketajamannya tidak muncul dari kata-kata kasar, melainkan dari kekuatan gambaran yang dibangun.

Dalam kajian linguistik, penggunaan metafora dan perumpamaan bukan sekadar hiasan bahasa. Metafora membantu manusia memahami gagasan yang abstrak melalui pengalaman yang konkret. Karena itu, pesan yang disampaikan melalui perumpamaan sering lebih mudah diingat dibandingkan perintah yang panjang.

Al-Qur’an tampaknya memahami cara kerja pikiran manusia. Manusia tidak hanya belajar melalui aturan, tetapi juga melalui cerita, simbol, dan imajinasi. Oleh sebab itu, Al-Qur’an menghadirkan kisah para nabi, perumpamaan, dan pertanyaan reflektif sebagai sarana pendidikan moral.

 Hal lain yang menarik adalah bahwa banyak kritik Al-Qur’an tidak diarahkan kepada individu tertentu. Al-Qur’an lebih sering mengkritik perilaku, bukan menyerang identitas pelakunya.

Ketika mengkritik orang yang lalai terhadap kaum miskin, misalnya, Al-Qur’an tidak menyebut nama seseorang. Dalam Surah Al-Ma’un, yang disorot adalah perilakunya: menghardik anak yatim, enggan membantu orang miskin, dan beribadah hanya untuk pamer. Dengan cara ini, pesan Al-Qur’an menjadi universal. Kritiknya tidak berhenti pada satu orang atau satu kelompok, tetapi dapat menjadi cermin bagi siapa saja.

Baca Juga:  Inilah Fungsi Fitrah Akliyah dalam Pendidikan Islam

Pendekatan ini terasa sangat relevan untuk kehidupan hari ini. Di media sosial, kritik sering berubah menjadi serangan personal. Orang lebih tertarik membongkar siapa yang salah daripada memahami mengapa kesalahan itu terjadi. Akibatnya, kritik kehilangan fungsi edukatifnya dan berubah menjadi alat penghukuman sosial.

Al-Qur’an menawarkan jalan yang berbeda. Kritik tetap disampaikan, tetapi dengan tujuan memperbaiki, bukan mempermalukan. Kesalahan tetap diingatkan, tetapi tanpa menghilangkan martabat manusia. Di sinilah kita menemukan pelajaran penting tentang etika berbahasa. Bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pikiran. Bahasa juga membentuk hubungan sosial. Cara seseorang berbicara dapat menentukan apakah pesannya diterima atau ditolak.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an lebih sering mengajak manusia berpikir daripada sekadar memarahi mereka. Sebab perubahan yang sejati tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari kesadaran. Dan kesadaran biasanya tumbuh ketika seseorang mulai berdialog dengan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan yang diajukan Al-Qur’an bukan hanya ditujukan kepada masyarakat Arab pada abad ketujuh. Pertanyaan itu juga ditujukan kepada kita hari ini. Apakah kita sudah berpikir? Apakah kita sudah mengambil pelajaran? Apakah kita sudah menggunakan akal yang diberikan Allah?

Barangkali di situlah letak keindahan bahasa Al-Qur’an. Ia tidak memaksa manusia untuk berubah. Ia mengajak manusia menemukan alasan mengapa mereka perlu berubah. Dan perubahan yang lahir dari kesadaran seperti itulah yang paling kuat, paling tulus, dan paling bertahan lama.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru