TAMAT, kata terakhir penutup novel “Tentang Kamu” karya Tere Liye itu. Menandakan telah tamat pula perjalanan kita diajak menyusuri lorong waktu liku perjalanan seorang wanita tangguh. Novel yang khatam dalam waktu tiga hari, mengisi sela kesibukan yang lain, tapi justru sela itu mengajarkan begitu banyak pelajaran yang coba diejawantahkan lewat tulisan singkat ini.
Jika membaca ataupun mendengar judulnya, “Tentang Kamu”, mungkin kalian akan mengira ini novel romance; kisah romantisme perjalanan seorang kekasih yang diejawantahkan melalui puisi, sajak indah, atau bahkan buku yang kemudian diberi judul “Tentang Kamu”. Maka, kupastikan kalian keliru menilai hanya dengan melihat dari dua kata yang ada di sampulnya. Apalagi bagi kalian yang kurang suka dengan genre novel romantis ala-ala remaja, jangan terkecoh dulu. Memanglah benar pepatah mengatakan; “jangan menilai buku dari sampulnya“.
Menjelang bagian akhir menamatkan buku ini, saya mengunggah foto tengah membaca buku ini di WhatsApp story. Seseorang membalas, “tentang warisan”. Betul jika novel ini berkisah tentang warisan. Tapi rasanya ada diksi yang lebih tepat untuk merepresentasikan isi buku ini dalam dua kata: “wanita tangguh”.
Lewat tulisan ini, saya tidak ingin mendikte kalian tentang semua pelajaran dan pesan moral yang terkandung dalam novel ini. Coretan singkat ini hanya berupa secuil poin menarik yang saya tangkap ketika membaca novel ini dan semoga bisa jadi pengantar buat kalian tertarik menyelami karya Tere Liye ini secara langsung.
Novel ini bercerita tentang perjalanan panjang seorang wanita tangguh, yang kusebut demikian pada awal tulisan ini. Sri Ningsih, nama sosok wanita tangguh yang dimaksud. Cerita ini berjalan dengan berpusat pada Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara muda di London asal Indonesia yang mendapatkan tugas dari perusahaan tempatnya bekerja, Firma Hukum London Thompson & Co., untuk menangani harta warisan bernilai satu miliar poundsterling atau triliunan dalam hitungan rupiah, yang ditinggalkan oleh Sri Ningsih.
Sekali lagi, saya tidak akan menceritakan detail ceritanya kepada kalian. Kalian bisa membalik tiap halaman dan lembar novel ini secara langsung. Coretan ini setidaknya akan membahas sedikit pesan dari perjalanan kisah hidup seorang wanita tangguh itu. Tanpa petunjuk selain diari dan beberapa catatan dari Sri Ningsih, Zaman terpaksa menyusuri tiap kepingan hidup Sri Ningsih dari awal hingga akhir, demi menyelesaikan tugasnya menangani harta warisan peninggalan Sri Ningsih dengan jumlah yang tidak sedikit. Kita akan memetik beberapa pesan dan pelajaran itu dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Zaman.
Penguasaan Terhadap Diri Sendiri
Berbicara masalah diri sendiri, betapa banyak orang yang tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Bergulat dengankejujuran, harapan, ekspektasi, rasa takut, dan berbagai hal yang sebenarnya berhubungan dengan diri kita sendiri.
Lanskap yang ditampilkan dalam novel ini menggambarkan bagaimana sosok Sri Ningsih mempunyai penguasaan penuh terhadap dirinya ketika dilanda berbagai rintangan hidup yang silih berganti pada awal babak kehidupannya. Ia harus kehilangan ayahnya. Kemudian, harus menjalani hari-hari tinggal bersama ibu tiri yang awalnya sangat menyukai dirinya. Namun, setelah kejadian itu, sang ibu tiri menyalahkan Sri Ningsih. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan mencapnya sebagai anak terkutuk. Ia diperlakukan sebagai seorang babu, persis seperti bagaimana konotasi negatif selama ini tentang ibu tiri. Detailnya bisa kalian baca sendiri.
Yang pada kenyataan, tidak sedikit orang yang jika mengalami hal demikian, memilih melarikan diri dari kenyataan. Kesedihan sudah pasti menyelimuti hati Sri Ningsih, tetapi hal itu tidak membuatnya larut dalam kesedihan, melainkan mencoba berdamai dengan keadaan.
Teringat ungkapan seorang Haruki Murakami, “sakit itu pasti menderita itu pilihan”.
Jangan Sibuk Membangun Citra tentang Diri Sendiri
Memasuki bab tiga pada cerita perjalanan hidup Sri Ningsih, Zaman bertemu dengan Ode, teman masa kecil Sri Ningsih di Pulau Bungin. Ode adalah salah satu orang yang berperan besar membantu Zaman memahami sosok Sri Ningsih. Ia menceritakan betapa luar biasanya sosok wanita tangguh itu sepanjang penyaksian Ode.
Menariknya, Sri tidak pernah sibuk dan berisik menceritakan tentang dirinya, berat hidupnya, dan seberapa perih penderitaannya. Justru orang lainlah yang menceritakan bagaimana kebaikan-kebaikan yang ia ciptakan menapaki setiap jejak langkah yang telah diukirnya.
Ada orang yang sunyi dari membicarakan tentang dirinya, tetapi meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang di sekitarnya.
Jika Kita Gagal 1000 Kali, Maka Pastikan Kita Bangkit 1001 Kali – Sri Ningsih
Menurut saya, ini adalah salah satu part paling berkesan dalam pelajaran perjalanan seorang Sri Ningsih. Ia memberanikan diri untuk menapaki kota Metropolitan, Jakarta. Ia bukan orang kaya. Ia tidak bermodalkan uang banyak. Bermodalkan tekad, anak desa itu berjuang keras menerjang kerasnya tuntutan kota Jakarta demi mendapatkan pekerjaan dan menyambung hidup.
Saya tidak akan menceritakan bagaimana susah payah luar biasa yang dijalani Sri Ningsih selama menempa hidup di kota Jakarta, kalian bisa membacanya sendiri. Namun, pesan yang ingin Sri Ningsih sampaikan lewat kisah hidupnya adalah untuk terus mau belajar, mau mulai dari bawah, berani mencoba, tidak gampang menyerah, dan yang menarik yaitu tidak menjadikan kekayaan sebagai identitas. Ini kemudian jawaban kenapa Sri mempunyai warisan yang begitu besar, tapi tidak ada yang mengetahui.
Nilai manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia genggam dan miliki, tetapi oleh bagaimana ia menggunakan apa yang ia miliki.
Jangan Biarkan Perilaku Buruk Seseorang Menghentikan Langkahmu
Dengan begitu banyak liku kehidupan yang ia lalui, tentu Sri Ningsih tidak selalu dikelilingi oleh orang baik. Di Jakarta, Sri bertemu ragam karakter manusia: ada orang yang membantu, ada yang meremehkan, memanfaatkan, ada yang menghargai, tapi ada juga yang mengkhianati.
Bagi Sri ini adalah gambaran yang sangat realistis dari kehidupan, tidak semua orang yang kita temui akan baik kepada kita. Tetapi itu tidak menghentikan niatnya untuk terus berbuat baik, atau berhenti melangkah hanya karena bertemu orang jahat.
Kalau ada orang merendahkanmu, itu urusan mereka. Kalau ada orang yang membencimu, itu pilihan mereka. Yang menjadi tanggung jawab dan berada dalam genggamanmu adalah untuk terus menjadi manusia yang baik.
Kesadaran bahwa Manusia adalah Makhluk Sosial
“Enam belas tahun beliau tinggal di panti ini, sejatinya, kamilah yang harus berterima kasih banyak. Ibu Sri Ningsih membawa semangat baru, kegembiraan, suka cita. Dia adalah penghuni paling riang, paling aktif, dan humoris. Akulah yang harusnya berterima kasih dengan karakter yang begitu memesona..” – Aimee
Sri Ningsih bukan hanya berhasil menjaga hubungan baik dengan orang lain, tapi ia selalu menjadi berkesan bagi setiap orang yang ditemuinya. Menjaga hubungan baik, menginspirasi, dan membangkitkan semangat orang lain yang ada di sekelilingnya. Itulah yang dilakukan oleh Sri Ningsih, sang wanita tangguh itu.
Sri menyadari betul hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Manusia berhubungan dan membutuhkan manusia lain. Kedermawanan dan murah hati yang penuh membuatnya terkenang dan menginspiratif banyak orang. Setidaknya salah satu contoh ketika dia mendapatkan penghargaan sopir terbaik kota London empat kali berturut-turut.
Cinta Tidak Perlu Ditemukan, Cinta yang Menemukan Kita
“Sungguh terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, Sri. Itu adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cinta-lah yang menemukan kita.” – Hakan Karim
Perjalanan panjang yang dijalani oleh Sri membawanya pada cinta yang layak ia dapatkan. Terkadang memang cinta tidak perlu ditemukan, tapi dia akan menemui caranya sendiri untuk menemukan kita. Cinta sejati tidak lahir dari pencarian yang tergegas atau paksaan emosi, melainkan bergerak secara alami sesuai garis takdir yang telah ditentukan.
Kita tidak perlu cemas untuk terlalu lelah mengejar, sebab ketika saatnya tiba, cinta itu sendiri yang akan menemukan jalan pulang menuju hati yang siap menerimanya.
Jangan Menangis Karena Sesuatu telah berakhir, Tapi Tersenyumlah Karena Sesuatu Itu Pernah Terjadi
Hakan sambil tersenyum bilang, “aku tidak akan menangis sedih karena semua berakhir, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi”.
Terkadang orang sibuk menyalahkan dan mengutuk mengapa sesuatu harus berakhir. Bukankah sesuatu yang ada awal pasti ada akhir? Bukankah pertemuan itu ada untuk kemudian perpisahan? Namun mereka lupa untuk tersenyum untuk sesuatu yang pernah terjadi itu.
Memang, hidup tidak menjanjikan akan selalu sesuai dengan apa yang kita senangi, tapi bukankah hikmah mengajarkan kita banyak hal? Setiap liku hidup yang kita jalani mungkin tidak mudah, tapi bukankah esoknya kita menjadi lebih dewasa? Menjadi tangga pengantar agar kita lebih siap menghadapi dunia.
Di Balik Wanita Tangguh Ada Laki-laki Yang Teduh
Yang terakhir ini adalah poin bonus. Setelah kita berbicara panjang lebar tentang sosok Sri Ningsih, sang Wanita Tangguh. Sejak kecil ia menghadapi kekerasan, kehilangan, kemiskinan, perjuangan, kesendirian, hingga berbagai kegagalan. Tangguh bukan berarti tidak membutuhkan cinta dan dukungan.
Ialah Hakan Karim, sang kekasih teduh, yang menjadi judul pada bab 27. Hakan adalah satu-satunya orang yang membuat Sri memikirkan dirinya sendiri. Hakan berhasil membuat Sri merasa bahwa ternyata ia telah lalai atas apa yang telah ia berikan untuk suaminya itu. Jika sepanjang perjalanan hidup Sri selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya, maka untuk pertama kali dalam hidupnya Sri merasakan ketulusan yang dalam. Hakam selalu menempatkan kebahagiaan Sri Ningsih diatas kepentingan dan kebahagiaannya sendiri.
Di balik perempuan tangguh, terkadang ada laki-laki hebat yang tidak berdiri di depannya untuk menghalangi, ataupun berdiri diatasnya untuk menguasai, tetapi berdiri disampingnya untuk menemani.
Terakhir, mengapa di awal saya menyoroti ini bukan sekedar buku yang dapat dinilai dari judul pada sampulnya? Bukan buku romantisme kisah cinta remaja yang jatuh cinta, ataupun bagi yang sudah sedikit mendengar atau membaca sepenggal bagian buku ini, bukan sekedar tentang harta warisan. Tapi lebih dalam dari itu, buku ini menyoroti nilai-nilai kehidupan seperti perjuangan, kesabaran, keteguhan hati, keikhlasan, persaudaraan, dan persahabatan. Atau bahkan lebih dari itu, kalian dapat menyelaminya sendiri dalam tiap babak yang tertuang dalam halaman dan lembar buku ini.
Selamat membaca.
Tentang Buku:
Judul Buku: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Penerbit: Republika Penerbit
Tahun Terbit: Oktober 2016
Jumlah Halaman: 524 halaman (edisi standar)
ISBN: 978-602-0822-34-1
Editor: Ikrima


