back to top
Rabu, Februari 25, 2026

Ahmad Muttaqin: Materialisme dan Sekulerisme adalah Syirik Modern

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, menyebut bahwa materialisme dan sekularisme adalah syirik era modern. Ia menyebut hal tersebut adalah pandangan dari Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah yang meninggal dunia pada 2020 silam.

Muttaqin memaparkan dinamika gagasan tauhid dalam tradisi intelektual Muhammadiyah melalui pembacaan terhadap sejumlah tokoh persyarikatan.

Paparan tersebut ia sampaikan dalam Pengajian Ramadan PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (21/2). Ia menegaskan bahwa tauhid dalam Muhammadiyah bukan konsep yang statis, melainkan berkembang sesuai konteks sejarah dan kebutuhan sosial umat.

Dalam paparannya, Muttaqin menjelaskan bahwa pemetaan tokoh dilakukan melalui bantuan kecerdasan buatan (AI) yang kemudian diverifikasi dengan berbagai literatur akademik.

“Sumbernya tadi adalah dari AI dan kemudian dari AI itu saya konfirmasi ke beberapa literatur yang saya punya. Saya banding-bandingkan kemudian saya pilih kira-kira mana yang paling mendekati,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pentingnya perspektif perempuan dalam diskursus keislaman Muhammadiyah setelah menyadari dominasi narasumber laki-laki dalam forum akademik. Hal itu, menurutnya, menjadi refleksi penting dalam pengembangan kajian tauhid ke depan.

Membahas pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, Muttaqin menggambarkan gagasan tauhidnya sebagai reformatif, purifikatif, sekaligus rasional dan empatik. Ia menjelaskan bahwa pemurnian akidah tampak dalam penolakan terhadap praktik tahayul, bid‘ah, dan khurafat, sementara dimensi empatik terlihat pada pembelaan terhadap kaum lemah melalui teologi Al-Ma’un.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih Soal Tambang: Boleh, Asal Tidak Eksploitatif

“Kesimpulannya Kiai Dahlan itu digambarkan gagasan tauhidnya bersifat reformatif dan purifikatif untuk membangun fondasi umat yang murni, rasional, dan empatik terhadap kaum lemah,” katanya.

Pembahasan kemudian beralih pada Siti Walidah. Menurut Muttaqin, gagasan tauhid Nyai Walidah menunjukkan corak egaliter dan emansipatoris yang menegaskan kesetaraan spiritual laki-laki dan perempuan.

“Laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah. Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab iman dan amal yang sama,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa perempuan berhak memahami agama secara langsung, bukan sekadar mengikuti tradisi.

Tokoh berikutnya, Mas Mansur, dipandang menghadirkan tauhid progresif yang berorientasi sosial. Menurutnya, tauhid harus melahirkan amal saleh dan pembebasan dari penindasan.

“Mengesakan Allah berarti menolak segala bentuk penindasan manusia atas manusia,” kata Muttaqin, menjelaskan dasar teologis perjuangan sosial Mas Mansur.

Pada sosok Hamka, ia menemukan corak tauhid moral-intelektual. Tauhid, menurutnya, menjadi pembentuk jiwa merdeka dan akhlak mulia.

“Tauhid itu membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, melahirkan akhlak mulia dan mendorong rasionalitas serta keterbukaan pada ilmu,” jelasnya.

Sementara itu, pemikiran AR Fachruddin digambarkan sebagai tauhid etis-organisatoris. Ia menekankan pentingnya integritas moral dan loyalitas organisasi.

“Yang penting di Muhammadiyah itu selain leadership, followership-nya juga penting. Taat organisasi itu bukan hanya ketika masih menjadi pimpinan,” ujarnya.

Mengenai Amien Rais, Muttaqin menilai konsep tauhid sosial yang diperkenalkannya menjadi energi perubahan struktural.

Baca Juga:  Lima Langkah Ampuh Kemenag Ini Permudah Lansia Laksanakan Ibadah Haji

“Tauhid sosialnya adalah tauhid sebagai teologi pembebasan, penolakan terhadap tirani dan ketidakadilan,” katanya, merujuk pada peran intelektual dan politik Amien Rais dalam era reformasi.

Adapun Yunahar Ilyas dipahami menghadirkan tauhid normatif-kontekstual yang menjaga kemurnian akidah sekaligus merespons tantangan modern.

“Tauhid sebagai penjaga kemurnian akidah di era modern,” ujar Muttaqin, seraya menyebut tantangan baru seperti materialisme dan sekularisme sebagai bentuk “syirik modern”. Syirik modern berarti menganut paham yang bertentengan dengan paham tauhid dalam Islam di era modern.

Ia juga menyoroti pemikiran Ahmad Syafii Maarif, yang menempatkan tauhid sebagai fondasi etika kemanusiaan dan kebangsaan. Menurutnya, tauhid dalam perspektif Buya Syafi’i mendorong dialog antaragama dan kritik terhadap politisasi agama, sehingga melahirkan sikap inklusif dalam ruang publik.

Sementara itu, konsep tauhid rahamutiyah yang dikembangkan Hamim Ilyas dipahami sebagai tauhid berbasis kasih sayang transformatif.

“Iman kepada Allah berarti meneladani ar-Rahman dan ar-Rahim dalam kehidupan,” kata Muttaqin, yang menekankan bahwa tauhid harus melahirkan keadilan sosial, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap kemajemukan.

Di akhir paparannya, ia menyimpulkan bahwa perkembangan gagasan tauhid Muhammadiyah menunjukkan kesinambungan antara pemikiran dan praksis sosial.

“Gagasan tauhid dari para tokoh Muhammadiyah itu bersifat dinamis dan berkembang sesuai konteks historisitasnya yang menunjukkan kesesuaian antara teologi dan teopraksi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tauhid dalam Muhammadiyah bukan sekadar konsep metafisik yang abstrak. “Tauhid dalam Muhammadiyah tidak hanya berbentuk konsep metafisik, tetapi menjadi gagasan fungsional, fondasi spiritual, etika sosial, dan energi pembaruan,” katanya.

Baca Juga:  Membaca Disertasi Amien Rais (1): Kritik atas Teori Sekularisasi

Karena itu, ia menyimpulkan, “tauhid-tauhid dalam Muhammadiyah mestinya adalah tauhid yang menggerakkan kehidupan.”

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru