back to top
Rabu, Maret 18, 2026

Apa Motif di Balik AS-Israel Serang Iran?

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – As-Israel Serang Iran dengan dalih utama menghancurkan kemampuan senjata nuklir Teheran, sebagaimana diklaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, sejumlah indikasi kuat menimbulkan kecurigaan bahwa ada motif lain yang lebih mendalam di balik operasi militer ini.

As-Israel Serang Iran dan Trump secara resmi mengonfirmasi pelaksanaan serangan tersebut. Sementara Iran menyatakan kesiapan melakukan pembalasan. Pengakuan Trump disampaikan pada Sabtu dini hari (28 Februari 2026) waktu Washington DC melalui pidato yang disiarkan di media sosial.

“Beberapa saat lalu, militer AS telah memulai operasi tempur skala besar di Iran,” ujarnya.

Pidato tersebut tayang tak lama setelah ledakan mengguncang Teheran dan beberapa kota besar lainnya di Iran. Trump menegaskan, “Kami akan memusnahkan rudal mereka dan meratakan seluruh industri rudal.” Ia juga menyerukan agar seluruh personel bersenjata Iran menyerah, sekaligus mengancam akan terus menghantam markas Garda Revolusi Islam (IRGC) serta angkatan bersenjata reguler Iran (Artesh).

“Tidak ada yang boleh menantang kekuatan Angkatan Bersenjata AS,” tegasnya.

As-Israel Serang Iran tanpa menyebut nama operasi secara spesifik kali ini. Sebagai perbandingan, pada Juni 2025 serangan serupa diberi nama Operasi Godam Tengah Malam (Midnight Hammer) oleh AS dan Singa Bangkit (Rising Lion) oleh Israel. Kali ini, AS menyebutnya Operasi Epic Fury (Kemarahan Besar), sementara Israel menamainya Operasi Singa Mengaum.

Baca Juga:  Logo Muhammadiyah dan Aisyiyah 2020: Apa Makna dan Filosofinya?

Menurut Trump, serangan dilancarkan karena Teheran mengancam pangkalan-pangkalan militer AS di sekitar Iran, tempat ribuan tentara AS dan berbagai peralatan perang telah ditempatkan selama puluhan tahun. Serangan ini terjadi kurang dari seminggu setelah Trump mengklaim Iran akan segera memiliki rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu menjangkau AS. Klaim tersebut dinilai tidak terbukti atau bahkan palsu menurut laporan The New York Times.

As-Israel Serang Iran juga disertai tuduhan bahwa Teheran telah mengaktifkan kembali program nuklirnya dan bisa memproduksi bom nuklir dalam hitungan hari. Pernyataan ini pun dibantah oleh sumber intelijen AS yang dikutip Reuters dan The New York Times. Beberapa sumber bahkan merujuk penilaian dari China dan Korea Utara, sekutu dekat Iran, bahwa Iran paling cepat baru bisa memiliki ICBM delapan tahun lagi.

Yang mengejutkan, As-Israel Serang Iran terjadi tepat di tengah proses perundingan yang sedang berjalan, menunjukkan bahwa diplomasi sepertinya tidak pernah benar-benar diutamakan. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menyebut perundingan AS-Iran hanya sebagai pengalihan.

“Si pembawa damai sekali lagi memperlihatkan tabiat aslinya. Semua pembicaraan dengan Iran hanyalah operasi pengecohan. Tidak ada keraguan lagi,” tulisnya di media sosial pada hari yang sama.

Serangan terbaru ini mengulang pola Juni 2025, di mana aksi militer dilancarkan saat negosiasi masih berlangsung. Pada Kamis sebelumnya, delegasi AS dan Iran bertemu di Jenewa, Swiss. Salah satu hasilnya adalah rencana pertemuan tim teknis di Wina, Austria, pada Senin berikutnya bersama Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk membahas pengawasan program nuklir Iran.

Baca Juga:  Milad 100 Tahun TK ABA Berkhidmat untuk Negeri

Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi, selaku mediator, sempat ke Washington DC dan bertemu Wakil Presiden AS JD Vance untuk membahas de-eskalasi. Ia juga menyatakan kepada CBS News,

“Kesepakatan damai masih dalam jangkauan jika kita memberi ruang bagi diplomasi. Tidak ada alternatif lain selain diplomasi untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya.

Namun, tak lama berselang, As-Israel Serang Iran kembali terjadi. Iran segera membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di kawasan.

Sebelum serangan, petinggi militer AS dan Israel menggelar pertemuan tertutup di Pentagon pada Jumat (27 Februari 2026). Pertemuan dihadiri Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir, di tengah eskalasi ketegangan.

Di Teheran, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa serangan AS akan memicu perang regional di Timur Tengah. Ia menuduh AS mengincar sumber daya alam Iran seperti minyak, gas, dan mineral, serta berambisi menguasai negara itu seperti di masa lalu.

Iran tidak tinggal diam. Teheran melancarkan serangan rudal ke pangkalan AS di berbagai negara Teluk pada Sabtu (28 Februari 2026). Seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Al Jazeera bahwa semua aset AS dan Israel di kawasan menjadi target sah, dan respons Iran akan kompleks tanpa batas waktu.

AS memiliki kehadiran militer besar di Timur Tengah dengan 40.000–50.000 personel di 19 lokasi, termasuk Bahrain, UEA, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Ledakan terdengar di Manama (menyasar Armada Ke-5 AS), Abu Dhabi (satu korban tewas setelah rudal dicegat), Kuwait, dan Doha. Beberapa negara menutup wilayah udaranya.

Baca Juga:  Buya Syafii Maarif Raih Penghargaan 'International Man of Peace 2019'

As-Israel Serang Iran berpotensi mengacaukan pasokan minyak global melalui Selat Hormuz. Distribusi minyak dari Timur Tengah bisa terganggu, memicu lonjakan harga minyak dunia. Beberapa perusahaan besar menangguhkan pengiriman melalui selat tersebut. Iran berpotensi menutup Selat Hormuz sementara, jalur yang dilewati sekitar 20 juta barel minyak per hari (hampir 20% konsumsi global menurut EIA AS).

Secara keseluruhan, meski alasan resmi berpusat pada ancaman nuklir dan rudal, serangan yang dilakukan di tengah perundingan semakin memperkuat kecurigaan bahwa tujuan sebenarnya melampaui itu, mungkin termasuk perubahan rezim atau pengamanan kepentingan strategis AS-Israel di kawasan.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds