back to top
Jumat, April 10, 2026

Busyro Muqoddas Tegaskan Peran Politik Muhammadiyah Sudah Terang Sejak Era Kemerdekaan

Lihat Lainnya

IBTimes.ID Peran politik Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ditegaskan telah hadir secara nyata sejak masa awal berdirinya organisasi. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Busyro Muqoddas menyebut jejak tersebut sudah “cetho welo-welo”, atau terang dan gamblang, terutama dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Busyro saat mengisi Pengajian Karyawan PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Kamis (9/4). Dalam paparannya, ia menekankan bahwa Muhammadiyah sejak awal tidak hanya bergerak di bidang dakwah dan sosial, tetapi juga memainkan peran strategis dalam politik kebangsaan.

Busyro menyebut sejumlah tokoh besar Muhammadiyah yang menjadi bagian penting dari sejarah bangsa, seperti KH Ahmad Dahlan, Jenderal Sudirman, Ki Bagus Hadikusumo, Ahmad Muzakkir, hingga Kasman Singodimedjo.

Menurutnya, kiprah tokoh-tokoh tersebut membuktikan bahwa kontribusi Muhammadiyah terhadap republik tidak dapat dipisahkan dari proses lahirnya Indonesia modern.

“Kebesaran Muhammadiyah itu sangat banyak. Secara internal, Muhammadiyah mampu mengantarkan dirinya sendiri, bahkan pada puncaknya turut mengantarkan bangsa ini menuju Proklamasi Kemerdekaan 1945,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam istilah Jawa, peran itu dapat disebut cetho welo-welo karena rekam jejak politik kebangsaan Muhammadiyah terlihat jelas dari berbagai fase sejarah.

Peran Politik dan Fondasi Akhlak Kebangsaan

Sebagai contoh, Busyro menyoroti keterlibatan tokoh Muhammadiyah dalam proses perumusan dasar negara. Ia mengungkap bahwa Presiden pertama RI Soekarno meminta pandangan Ki Bagus Hadikusumo yang saat itu bersama Ahmad Muzakkir dan Kasman Singodimedjo aktif memberi kontribusi penting.

Baca Juga:  Tanggap Darurat MDMC Hadapi Erupsi Merapi

“Saya sering menyebut mereka sebagai tiga pendekar politik utama dari Muhammadiyah. Dari situ terlihat bahwa peran politik Muhammadiyah sejak dulu memang sudah cetho welo-welo,” jelasnya.

Selain refleksi sejarah, Busyro juga menekankan bahwa kekuatan Muhammadiyah hingga hari ini bertumpu pada fondasi akhlak. Baginya, akhlak perorangan memiliki dampak luas dalam membentuk kualitas keluarga, masyarakat, hingga kehidupan politik dan ekonomi bangsa.

“Akhlak perorangan yang baik akan membentuk rumah tangga yang baik, dan dari situ akan lahir kehidupan sosial, politik, dan ekonomi yang baik pula,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa sifat kikir dan serakah menjadi sumber kerusakan sosial maupun politik yang dapat melemahkan bangsa.

“Maka jangan bersifat kikir dan serakah. Sifat itulah yang menjerumuskan. Sebaliknya, rasa syukur harus terus ditumbuhkan karena akan membawa pada kesejahteraan, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa dan bernegara,” pesannya.

Melalui penegasan sejarah dan nilai moral tersebut, Busyro menilai Muhammadiyah perlu terus menjaga perannya sebagai kekuatan moral, intelektual, dan kebangsaan. Peran ini penting agar tetap relevan dalam menjawab berbagai tantangan zaman yang terus berkembang.

(NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru