back to top
Senin, Maret 30, 2026

Dampak Perang Iran terhadap Energi Internasional

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Dampak Perang Iran semakin terasa seiring berlanjutnya konflik yang melibatkan Iran melawan agresi Amerika Serikat dan Israel. Meskipun negara-negara G7 tidak mendukung langkah AS, perang Iran justru menarik keterlibatan lebih banyak pihak. Houthi mulai melancarkan serangan, sementara Ukraina terlibat dalam kerja sama dengan negara-negara Teluk.

Dampak Perang Iran yang dipicu serangan AS dan Israel kini berpotensi meluas ke front baru setelah Houthi ikut terjun langsung. Selama sebulan terakhir, saling serang telah melebar ke kawasan Teluk, Lebanon, Israel, serta berbagai lokasi di Iran. Front baru ini dikhawatirkan akan memperdalam krisis minyak dan mengganggu stabilitas ekonomi global.

Perang Iran melawan agresi AS-Israel telah memasuki bulan kedua dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Justru konflik semakin memanas dengan bergabungnya kelompok Houthi. Hal itu ditandai dengan peluncuran rudal pertama dari Yaman ke Israel pada Sabtu (28/3/2026) pagi.

Militer Israel (IDF) mengklaim berhasil mencegat rudal tersebut. Serangan rudal Houthi menambah tekanan bagi Israel yang sejak Jumat (27/3/2026) malam terus menghadapi serangan rudal dari Iran dan Hizbullah.

Beberapa jam setelah serangan, Houthi mengonfirmasi aksi mereka. Mereka menyatakan serangan itu sebagai respons atas agresi Israel yang terus berlanjut di Iran, Lebanon, Irak, dan Tepi Barat.

Houthi memperingatkan bahwa operasi mereka akan terus berlanjut hingga tujuan tercapai. Seorang pemimpin Houthi yang berbicara secara anonim kepada Reuters mengatakan, “Hingga saat ini, Iran berkinerja baik dan mengalahkan musuh setiap hari, serta pertempuran berjalan sesuai keinginan kami. Jika ada perkembangan yang bertentangan, kami akan menilainya.”

Dalam pernyataan rekaman pada Jumat, juru bicara Houthi Brigjen Yahya Saree menyatakan bahwa kelompoknya siap bergabung dalam perang atas nama Iran.

Baca Juga:  Try Sutrisno, Serdadu Penjaga Stabilitas Orde Baru

“Kami menegaskan kesiapan untuk melakukan intervensi militer langsung jika eskalasi terhadap Republik Islam Iran dan poros perlawanan terus berlanjut,” ujarnya.

Dampak Perang Iran juga mendorong Ukraina untuk menawarkan keahliannya dalam menangkis serangan drone ke negara-negara Timur Tengah yang menjadi sasaran balasan Iran. Akhir pekan ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Sebagai imbalannya, Ukraina menyiratkan keinginan mendapatkan rudal pertahanan untuk menghadapi Rusia serta pasokan solar.

Zelenskyy menyatakan bahwa pengalaman perang Ukraina mulai diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan Uni Emirat Arab, dengan fokus utama memperkuat pertahanan udara dan melindungi infrastruktur kritis. Selama lebih dari empat tahun berperang melawan Rusia, Ukraina telah berpengalaman menghadapi serangan drone buatan Iran yang digunakan Rusia. Keahlian tersebut kini ditawarkan Kyiv kepada negara-negara Teluk.

Sikap Amerika Serikat mulai melunak setelah tidak mendapat dukungan dari sekutu G7 dalam perang melawan Iran. AS memperkirakan operasi militernya di Iran akan selesai dalam beberapa pekan, bukan beberapa bulan seperti rencana awal.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Washington berharap dapat menyelesaikan operasi militer lebih cepat dari yang direncanakan. Ia menyebut perang di Iran dapat diakhiri tanpa mengerahkan pasukan darat. Padahal sebelumnya, AS sempat mempertimbangkan dan menyiapkan pengiriman ribuan personel pasukan darat ke Iran.

Pernyataan itu disampaikan Rubio setelah bertemu dengan para menteri luar negeri G7 di Perancis pada Jumat (27/3/2026). Para menteri G7 berbeda pandangan dengan AS soal pengerahan kekuatan militer besar-besaran ke Iran. Mereka lebih menekankan pendekatan defensif dan solusi diplomatik.

Baca Juga:  Sudarnoto Abdul Hakim, Sosok Sentral Gerakan Pro Palestina di Indonesia

Salah satu isu yang dibahas adalah pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Sebelumnya, Trump meminta sekutu mengirimkan kapal perang ke selat tersebut, namun beberapa negara menolak karena tidak ingin terlibat langsung dalam perang.

“AS akan mencari kerja sama internasional untuk menjaga selat tetap terbuka setelah perang berakhir,” ujar Rubio.

Iran telah mengizinkan tanker dari berbagai negara melintas di Selat Hormuz, tetapi menutup akses bagi kapal AS, Israel, serta sekutu yang membantu perang melawan Iran.

Dampak Perang Iran terasa hingga ke sektor energi global. Menurut Rubio, AS dan sekutunya akan menghadapi berbagai tantangan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran kemungkinan akan menetapkan tarif di jalur vital yang dilewati 20 persen minyak dunia setiap harinya, yang dapat menyebabkan kerusakan ekonomi signifikan bagi banyak negara.

Dampak Perang Iran juga langsung dirasakan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai belahan dunia. Gangguan pada angkutan 20 persen pasokan minyak dan gas dunia yang melintasi Selat Hormuz menyebabkan distribusi ke negara-negara pengimpor tersendat.

Para pemilik kendaraan di banyak negara bergegas mengisi penuh tangki bahan bakar, bahkan membeli cadangan dalam jeriken. Di Australia, gelombang panic buying melanda pekan ini, menyebabkan ratusan SPBU kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar. Permintaan BBM di beberapa negara bagian meningkat hingga 300–400 persen.

Kepanikan serupa terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Antrean panjang terlihat di kota-kota besar seperti Bengaluru, Ahmedabad, Dhaka, dan Yangon. Sri Lanka dan Bangladesh memberlakukan pembatasan jumlah liter BBM yang boleh dibeli per kendaraan, serta membatasi pembelian dalam jumlah besar untuk mencegah penimbunan.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Mu'allimin-Mu'allimaat Lahirkan Generasi Berkemajuan

Di China, antrean pembelian BBM juga muncul, salah satunya di Suzhou, Provinsi Jiangsu. Pemerintah China melarang kilang minyak mengekspor hasil olahan untuk menjaga cadangan dalam negeri. Sementara di Manila, Filipina, Presiden Ferdinand Marcos mendeklarasikan keadaan darurat energi selama satu tahun.

Memasuki bulan kedua, semakin banyak pertanyaan muncul mengenai berapa lama perang ini akan berlangsung. Akibat durasi dan perluasan konflik, korban jiwa terus bertambah.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda perang akan segera berakhir. Meski demikian, upaya penghentian konflik terus dilakukan berbagai pihak di tengah pertempuran yang masih sengit.

Melihat perkembangan di lapangan dan tekanan dari sekutu, AS tampaknya mulai melunak. Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff mengungkapkan bahwa Iran mungkin akan berbicara dengan AS “dalam pekan ini” untuk mengakhiri perang.

Namun, para ahli kebijakan luar negeri menepis optimisme tersebut. Mereka memperingatkan bahwa kondisi diplomatik maupun militer saat ini tidak mendukung penyelesaian cepat.

Menurut mantan negosiator AS di Timur Tengah dan peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, Aaron David Miller, konflik Iran versus AS-Israel telah menjadi krisis internasional yang sulit diselesaikan hanya melalui diplomasi cepat atau jalur komunikasi tidak resmi.

Dengan taruhan perekonomian global yang semakin besar jika dampak Perang Iran terus berlanjut, hingga saat ini belum terlihat adanya terobosan signifikan dalam menyelesaikan konflik ini.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds