back to top
Sabtu, Maret 7, 2026

Dampak Perang Iran vs AS-Israel terhadap Komoditas Ekspor Indonesia

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Dampak perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah mengguncang stabilitas perdagangan global, termasuk komoditas ekspor Indonesia. Komoditas ekspor daerah mana saja di Indonesia yang terdampak konflik Timur Tengah ini?

Dampak perang Iran yang semakin memanas menyebabkan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi masih akan terus mengguncang pasar keuangan global dalam beberapa pekan ke depan. Ketidakpastian ini membuat investor saham mengantisipasi risiko ekonomi yang dapat merembet ke perdagangan domestik Indonesia.

Pada perdagangan Selasa (3 Maret 2026), IHSG dibuka di level 8.059 setelah anjlok 2,65% pada Senin (2 Maret 2026) ke posisi 8.016 akibat net sell investor asing senilai Rp 631 miliar. Bahkan pada Rabu (4 Maret 2026), IHSG terkoreksi tajam hingga 4% ke level 7.600 di sesi pertama.

Penurunan IHSG tersebut sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Di saat bersamaan, Fitch Ratings memberikan outlook negatif terhadap ekonomi Indonesia, yang semakin membebani pergerakan indeks saham.

Dampak perang Iran juga terasa kuat pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mengalami tekanan berat. Pada Kamis (5 Maret 2026), rupiah melemah hingga menembus Rp16.896 per USD. Bahkan pada siang Rabu (4 Maret 2026), kurs sempat mencapai Rp16.900 per dolar AS di pasar spot.

Tekanan rupiah bermula sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Sejak dibuka kembali 2 Maret 2026, rupiah terus terdepresiasi selama tiga hari berturut-turut sebesar 0,77%. Secara year-to-date (YTD) 2026, mata uang Garuda telah melemah 1,42%.

Baca Juga:  Politik Anggaran Kebijakan Ketahanan Pangan Indonesia

Menurut ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada makroekonomi Indonesia melalui kenaikan harga minyak, gangguan pengiriman, dan kekhawatiran ketahanan energi.

Sejak serangan Israel yang didukung AS ke Iran pada Sabtu (28 Februari 2026), harga minyak dunia terus merangkak naik. Pekan lalu minyak Brent masih di level 71,24 USD/barel. Pada Senin (2 Maret 2026), harga Brent di pasar Asia langsung melonjak menjadi 80 USD/barel.

West Texas Intermediate (WTI) juga naik ke sekitar 72 USD/barel, atau meningkat 7,3% dari penutupan Jumat sebelumnya (67 USD/barel) berdasarkan data CME Group.

Analis Kpler, Amena Bakr, memperkirakan harga minyak mentah berpotensi terus naik hingga mencapai 99 dolar AS per barel.

Harga gas alam di Eropa melonjak lebih dari 39% setelah Qatar menghentikan produksi LNG.

Sementara itu, harga karet alam dunia justru turun akibat konflik Iran vs AS-Israel. Harga karet sempat meninggalkan level psikologis 200 sen USD/kg dan menyentuh 195 sen USD/kg — meskipun sebelumnya sedang dalam tren kenaikan panjang sejak awal 2026.

“Pasar karet diwarnai sentimen negatif dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz,” ujar Edy Irwansyah, Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumatera Utara (4 Maret 2026).

Sebelum konflik, harga TSR 20 sempat menyentuh 205 sen USD/kg akibat pasokan global yang menipis. Namun pasca perang pecah, harga langsung terkoreksi.

Baca Juga:  Melihat Peluang Amerika Ambil Alih Greenland, Bagaimana Respons Denmark?

Iran secara resmi menutup Selat Hormuz pada 28 Februari 2026. Penutupan ini berpotensi menghambat perdagangan Indonesia dengan negara-negara di sekitar Selat Hormuz dan Timur Tengah, baik sektor migas maupun nonmigas.

Dampak perang Iran yang berkepanjangan diperkirakan memberikan efek terbesar pada impor migas Indonesia karena status Indonesia sebagai net importer migas.

Menurut Deputi Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, perdagangan Indonesia dengan Iran, Oman, UEA, Arab Saudi, dan Qatar mencakup migas dan nonmigas. Namun besaran gangguan akibat penutupan Selat Hormuz masih perlu dikaji lebih lanjut (konferensi pers, 2 Maret 2026).

Pada Januari 2026, total impor migas Indonesia mencapai 891,8 juta USD. Impor dari Iran hanya 0,42 juta USD, sementara dari Arab Saudi 267,4 juta USD, UEA 200,6 juta USD, Qatar 1,8 juta USD, dan Oman 67,9 juta USD.

Untuk nonmigas (data 2025), ekspor ke Iran mencapai 249,1 juta USD dengan komoditas utama buah-buahan, kendaraan & bagiannya, serta lemak/minyak hewan-nabati. Impor dari Iran hanya 8,4 juta USD (buah-buahan, besi-baja, mesin & peralatan mekanis).

Jika konflik berlarut-larut, biaya logistik melonjak dan peluang ekspor tertekan. Beberapa daerah di Indonesia mulai merasakan dampaknya.

Kepala Karantina Lampung, Donni Muksydayan, menyatakan ekspor komoditas pertanian asal Lampung berpotensi terdampak mulai Maret 2026. Meski volume ke Timur Tengah tidak terlalu besar (tujuan utama China & AS), pada Januari–Februari 2026 tercatat 162 pengiriman, volume 41.372,8 ton, nilai Rp394,06 miliar.

Baca Juga:  Biografi Saif al-Islam Gaddafi, Putra Diktator Libya Muammar Gaddafi yang Tewas Terbunuh

Komoditas yang rutin diekspor ke Timteng: nanas segar & irisan kaleng, pisang, kopi, kayu manis, getah damar. Negara tujuan: UEA, Arab Saudi, Oman, Turki, Pakistan.

Menurut Kadin Jatim, konflik Timur Tengah berdampak langsung pada hubungan dagang Jatim. Tommy Kaihatu (Wakil Ketua Umum Kadin Jatim) menyebut ekspor Jatim mencapai ~30 miliar USD dengan surplus >800 juta USD, dan sekitar 10% di antaranya ditujukan ke kawasan Timur Tengah (3 Maret 2026).

Wanoja Coffee (Kabupaten Bandung) memutuskan menunda ekspor kopi arabika ke Timur Tengah sembari memantau situasi keamanan. Kenaikan harga minyak menyebabkan biaya logistik melonjak signifikan, yang berpengaruh pada permintaan konsumen.

Sebelum konflik, biaya logistik satu kontainer 20 feet sekitar 3.000–3.500 USD (Rp50–59 juta). Sepanjang 2025, Wanoja Coffee mengekspor 60 ton kopi arabika Kamojang ke Jepang, Belanda, Jerman, Arab Saudi, dan Amerika Serikat (wawancara Satrea Amambi, 4 Maret 2026).

Konflik geopolitik di Timur Tengah ini terus memengaruhi berbagai komoditas ekspor daerah di Indonesia, terutama melalui kanal harga minyak, biaya logistik, dan gangguan jalur perdagangan internasional.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru