IBTImes.iD – Anak-anak dengan kecerdasan luar ”Gifted” biasa atau bakat khusus memerlukan strategi pendidikan dan pendampingan yang inovatif agar mereka mampu mengoptimalkan potensi mereka dan mencapai prestasi tinggi sesuai dengan keunggulan yang dimiliki sejak lahir.
Anak-anak yang dikategorikan sebagai gifted atau cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CI+BI) memiliki kapasitas intelektual serta kemampuan spesifik yang signifikan di atas rata-rata anak seusia mereka. Berbeda dengan anggapan populer bahwa anak gifted akan dengan mudah meraih keberhasilan besar berkat bakat alaminya, fakta menunjukkan bahwa banyak dari mereka justru mengalami kesulitan dan tidak berkembang optimal, bahkan sering “tenggelam” dalam lingkungan pendidikan standar.
Perkiraan global menyatakan bahwa sekitar 2 persen populasi termasuk dalam kelompok ini. Di Indonesia, dengan sekitar 65,29 juta anak berusia 4–19 tahun, jumlah anak CI+BI diperkirakan mencapai 1,3 juta jiwa.
Identifikasi gifted biasanya mengacu pada skor IQ di atas 130, tetapi ukuran ini bukan satu-satunya kriteria. Faktor seperti kreativitas, ketekunan, rasa ingin tahu ekstrem, serta bakat domain-spesifik juga sangat menentukan. Keberadaan anak-anak berbakat ini seharusnya menjadi aset berharga bagi kemajuan bangsa. Talenta unggul di berbagai bidang dapat meningkatkan daya saing nasional dan menghasilkan inovasi yang berdampak luas dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan.
Namun, di Indonesia, topik anak CI+BI sering dibahas dengan nada suram. Banyak anak gifted kesulitan mengakses pendidikan yang sesuai dengan karakteristik unik mereka: pemikiran kompleks dan mendalam, curiosity yang sangat tinggi, perfeksionisme, serta sensitivitas emosional yang kuat. Mereka kerap dianggap “aneh” oleh teman dan guru, sehingga merasa terasing di tengah kelas atau sekolah yang ramai.
Tidak jarang, fokus intens mereka pada satu subjek membuat adaptasi di kelas inklusi menjadi sulit, misalnya, anak yang sangat antusias terhadap topik pesawat terbang atau seni rupa hingga kesulitan beralih ke aktivitas lain seperti anak biasa. Hal ini sering memicu bullying, kesulitan berteman, atau isolasi sosial.
Kurangnya pemahaman dari guru, teman sebaya, dan keluarga memperburuk situasi. Anak gifted akhirnya kesulitan belajar dan bersosialisasi, prestasi menurun, bahkan dicap sebagai pengganggu. Dampaknya meluas ke kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, atau depresi, yang menghambat ekspresi kecemerlangan bawaan mereka.
Dalam diskusi “Membangun Ekosistem Pendidikan Gifted di Indonesia” yang diselenggarakan Noble Academy, Fakultas Psikologi UKRIDA, dan Harian Kompas di Jakarta pada 19 Februari 2026, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Surabaya Evy Tjahjono menyoroti miskonsepsi global tentang definisi gifted.
Identifikasi dini sangat penting untuk pendampingan yang tepat. Ada anak CI+BI yang prestasinya langsung terlihat menonjol, tetapi ada juga yang rentan salah diagnosis, yaitu twice-exceptional, di mana keunggulan tertutup oleh hambatan seperti learning disability atau kondisi lain, sehingga tes IQ tidak optimal.
Evy menekankan perlunya penelitian berkelanjutan atas keragaman anak gifted agar stimulasi dari keluarga dan guru bisa disesuaikan. Di Indonesia, kelas akselerasi pernah ada tapi ditutup tahun 2015/2016; meski memungkinkan lompat kelas, model itu dinilai kurang tepat karena terlalu fokus pada percepatan tanpa mempertimbangkan aspek emosional-sosial.
Jajak pendapat menunjukkan model akselerasi sering dilihat sebagai drilling berlebihan, anak lulus cepat tapi belum matang secara sosial-emosional. Alternatif termasuk akselerasi parsial pada bidang minat atau kelompok khusus untuk subjek tertentu.
Menurut Evy, anak gifted butuh pendamping (orang tua, guru, mentor) yang bisa membantu merapikan pemikiran kompleks mereka agar terstruktur dan tidak membingungkan.
Penelitian dari RPTU Kaiserslautern-Landau di Jerman (jurnal Science, Desember 2025) mengungkap asumsi lama pengembangan bakat keliru. Prestasi elit diasumsikan dari performa awal kuat plus kemampuan khusus, yang memerlukan latihan intens dan spesialisasi dini.
Arne Güllich menjelaskan program bakat sering mendeteksi talenta muda dan memaksakan spesialisasi cepat. Tim menganalisis data 34.839 individu elite dunia: Nobel sains, medali Olimpiade, grandmaster catur, komposer klasik, untuk pertama kalinya membandingkan lintas disiplin.
Salah satu kesimpulan yang paling mencolok ialah pemain elite mengikuti jalur perkembangan yang berbeda dari asumsi yang telah lama dipegang.
”Dan, pola umum muncul di berbagai disiplin ilmu,” ujar Güllich.
Temuan lain: yang terbaik di usia muda jarang tetap terbaik di dewasa; puncak prestasi datang dari perkembangan bertahap, bukan dominasi awal; sukses dunia tidak dari spesialisasi dini, melainkan eksplorasi luas berbagai bidang.
Rekomendasi baru: anak CI+BI perlu paparan beragam disiplin untuk menemukan kecocokan terbaik. Pembelajaran lintas bidang memperkuat kapasitas belajar keseluruhan, memudahkan puncak di bidang terpilih. Selain itu, mereka juga perlu diajak terlibat dalam berbagai disiplin ilmu guna mengurangi kemungkinan kemunduran, seperti kelelahan, ketidakseimbangan kerja-istirahat yang tak sehat, kehilangan motivasi, ataupun cedera fisik dalam disiplin psikomotorik (olahraga, musik).
”Mereka yang menemukan disiplin optimal untuk diri mereka sendiri, mengembangkan potensi yang ditingkatkan untuk pembelajaran jangka panjang, dan mengurangi risiko faktor penghambat karier, memiliki peluang lebih baik mengembangkan kinerja kelas dunia,” ucap Güllich.
Güllich menyarankan hindari spesialisasi dini; dorong eksplorasi beberapa bidang dengan dukungan di 2–3 area (tidak harus terkait, seperti bahasa-matematika atau geografi-filsafat). Einstein contoh nyata: fisikawan hebat yang juga pemain biola sejak kecil.
Penelitian ini mendorong reformasi program talenta berbasis bukti, meningkatkan peluang lahirnya elite dunia di berbagai bidang sambil menjaga kesejahteraan holistik.
(Assalimi)


