IBTimes.ID – Pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya mengandalkan keunggulan akademik, tetapi juga membutuhkan proses pembinaan nilai, kepemimpinan, dan ideologi. Dalam konteks tersebut, kaderisasi Muhammadiyah di UMS mendapat dukungan baru melalui peresmian gedung Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (24/10/2026).
Peresmian yang berlangsung dalam rangkaian Milad ke-68 UMS di Gedung Edutorium KH. Ahmad Dahlan itu dilakukan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama UMS. Kehadiran gedung baru ini menjadi penanda komitmen perguruan tinggi Muhammadiyah dalam memperkuat pembinaan kader di tengah perkembangan pendidikan tinggi.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan selamat atas usia ke-68 UMS sekaligus mengapresiasi berbagai capaian yang diraih kampus tersebut. Ia menilai prestasi UMS merupakan hasil dari perjalanan panjang dan dinamika yang terus berkembang.
“Selamat kepada UMS yang berusia 68 tahun dengan capaian prestasi yang luar biasa, bahkan masuk kepada ranking teratas universitas swasta di Indonesia. Tentu dengan proses panjang, dinamika yang terus tumbuh berkembang di UMS,” ujar Haedar.
Ia juga menyambut hadirnya gedung baru Pondok Shabran UMS yang telah lama diharapkan.
“Kita juga bersyukur, hadir bangunan yang representatif dan membanggakan. Bangunan Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran yang sudah lama di idam-idamkan,” ucap Haedar menambahkan.
Kaderisasi sebagai Investasi Jangka Panjang
Pentingnya kaderisasi Muhammadiyah turut disoroti Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq. Alumni Pondok Shabran tersebut mengingatkan bahwa lembaga ini memiliki sejarah panjang sejak dekade 1980-an, ketika pembangunannya diinisiasi oleh Rektor UMS saat itu, Djazman Al Kindi.
“Ini adalah representasi bagaimana UMS punya keberpihakan terhadap kaderisasi. Kita tahu Pondok Shabran ini awalnya telah dibangun dari zaman Pak Djazman Al Kindi. Ketika UMS ini membangun gedung baru, bagi saya pribadi ini adalah satu bentuk penghargaan terhadap pentingnya kaderisasi,” jelasnya.
Rektor UMS, Harun Joko Prayitno, menjelaskan bahwa pembangunan tersebut sejalan dengan Rencana Strategis UMS 2029. Kampus menargetkan penguatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS), sekaligus mendorong dosen dan lulusan menjadi penggerak perubahan pada tingkat nasional maupun global.
“Mari wujudkan Renstra secara bersama, UMS semakin modern, unggul yang seunggul-unggulnya, menjadi penggerak perubahan, penebar nilai-nilai kebaikan kebermanfaatan, tumbuh-kembang bermutu, netes dan netes berkemajuan, berkelanjutan,” ujar Harun.
Pengembangan fasilitas diharapkan berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan penguatan nilai Islam berkemajuan. Haedar juga berpesan agar sivitas akademika terus merawat nilai tersebut dalam pola pikir, sikap, dan tindakan.
Dengan demikian, kaderisasi Muhammadiyah bukan hanya bagian dari pengembangan kampus, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang berilmu, berintegritas, dan mampu berkontribusi bagi Persyarikatan, bangsa, serta kemanusiaan. (NS)


