back to top
Sabtu, Februari 21, 2026

Haedar Nashir Tegaskan Kekhasan Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah membedah perjalanan tajdid yang khas sebagai landasan gerakan Muhammadiyah secara kronologis. Ia mulai dari Ibnu Taimiyah, yang pembaruannya muncul pasca-kekalahan Baghdad oleh Mongol. Saat itu, tradisi Islam dipengaruhi elemen mitologis Mongol, ditambah pengagungan kuburan tokoh berpengaruh yang dianggap menyimpang.

“Ibnu Taimiyah menulis Kitabul Iman untuk memurnikan ajaran Islam, sebagai respons terhadap konteks sosial-politik masa itu,” jelas Haedar dalam kesempatan Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diselenggarakan Pada 20 Februari 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Haedar juga menambahkan jika gerakan ini memperkuat semangat salafi awal dalam memurnikan akidah.

Ratusan tahun kemudian, Kitabul Iman menginspirasi Muhammad bin Abdul Wahab untuk menyusun Kitabut Tauhid pada abad ke-18. Buku ini menjadi rujukan utama kelompok Salafi hingga kini, termasuk di Indonesia, India, dan Pakistan. Perbedaan corak terlihat dari latar belakang: Muhammad bin Abdul Wahab menghadapi maraknya syirik, tabarruk, dan penyimpangan akidah di masyarakat Arab saat itu.

Selanjutnya, Haedar menyoroti Muhammad Abduh, yang pemikirannya bersentuhan langsung dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Majalah Urwatul Wustha (1884), yang diterbitkan Abduh bersama Jamaluddin Al-Afghani, menjadi bacaan penting tokoh pergerakan Islam dunia, termasuk Indonesia. Konteksnya adalah penjajahan Barat yang mengungkung dunia Islam.

“Api pembaruan Islam dari Abduh menyebar luas, termasuk ke Indonesia, sehingga Muhammadiyah kerap dihubungkan dengan semangatnya,” tambah Haedar.

Baca Juga:  Ini Doa dan Dzikir Setelah Shalat Witir

Ia mengingatkan agar tidak memperlakukan tokoh-tokoh ini secara peyoratif atau meremehkan peran mereka.

“Pengaruh pembaruan ini tidak bisa dinafikan terhadap berbagai gerakan Islam, termasuk di Indonesia,” tegas Haedar.

Gerakan Muhammadiyah: Institusionalisasi Pemberdayaan dan Amal Usaha

Meski memiliki mata rantai genealogis, Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki distingsi yang tidak dimiliki gerakan pembaruan sebelumnya. Kekhasan paling mencolok adalah perhatian pada gerakan perempuan melalui ‘Aisyiyah. Mengutip tesis Prof. Mukti Ali, Haedar menjelaskan bahwa perhatian terhadap perempuan memang ada dalam pemikiran Islam sebelumnya, tetapi baru sebatas wacana dan diskusi. Muhammadiyah melembagakannya menjadi gerakan Perempuan Islam Berkemajuan yang berkelanjutan.

Kekhasan kedua adalah lahirnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) beretos Surat Al-Ma’un, yang fokus pada pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.

“Tidak ada gerakan pembaruan Islam sebelumnya yang memiliki jejak institusional dalam bentuk pelayanan nyata dan kesetaraan gender seperti ini,” pungkas Haedar.

Kedua elemen ini menjadi gagasan baru di dunia Islam, tanpa akar langsung dari pemikiran pembaru sebelumnya.

Islam Berkemajuan sebagai Manifestasi Tajdid Kontemporer

Pidato Haedar selaras dengan konsep Islam Berkemajuan yang menjadi visi Muhammadiyah. Tajdid bukan sekadar pemurnian akidah, melainkan pembaruan holistik yang adaptif terhadap zaman. Muhammadiyah menerjemahkan tauhid dalam bentuk amal nyata, pemberdayaan masyarakat, dan kontribusi peradaban. Di tengah tantangan era digital dan globalisasi, Haedar mengajak kader Muhammadiyah memperkuat literasi, dialog intelektual, dan amal usaha untuk mewujudkan khairu ummah—umat terbaik yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Kebencian Merebak di Media Sosial tanpa Panduan Moral

Pengajian Ramadan ini digelar pasca-penetapan 1 Ramadan 1447 H oleh Muhammadiyah pada 18 Februari 2026. Pidato Haedar menjadi pengingat bagi umat untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum tajdid diri dan sosial. Dengan teguh pada prinsip tauhid murni namun fleksibel dalam metode, Muhammadiyah terus menjadi pilar peradaban Islam yang progresif.

Haedar menutup dengan pesan: Ada kesinambungan dengan pembaru sebelumnya, namun kekhasan gerakan Muhammadiyah terletak pada institusionalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.

“Muhammadiyah bukan hanya berbicara tajdid, tapi mewujudkannya melalui gerakan yang terorganisasi dan berdampak luas,” tutup Haedar.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru