back to top
Kamis, Februari 26, 2026

Hamim Ilyas: Tauhid Rahamutiyah sebagai Fondasi Akidah Muhammadiyah

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Dalam Pengkajian Ramadan PP Muhammadiyah yang digelar pada Rabu (25/2/2026) di Universitas Muhammadiyah Tangerang, Hamim Ilyas, selaku Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, memaparkan gagasan rekonstruksi akidah Islam berkemajuan sebagai upaya mengungkap dan merumuskan secara lebih eksplisit keyakinan yang telah hidup dalam tubuh organisasi serta warganya, dengan Tauhid Rahamutiyah sebagai inti utama dan fondasi utama dari seluruh akidah tersebut.

Ia menjelaskan bahwa Tauhid Rahamutiyah menjadi inti utama dari akidah Islam berkemajuan yang telah lama dianut Muhammadiyah. Tauhid Rahamutiyah menegaskan bahwa Allah Yang Maha Esa mewajibkan atas diri-Nya sendiri sifat rahmah sebagai pusat seluruh asma, sifat, dan af’al-Nya, sehingga rahmat-Nya yang tidak terbatas mendahului murka-Nya dan hadir secara fungsional di alam ciptaan.

Muhammadiyah, dalam ajaran resminya melalui putusan Tarjih, Tanwir, dan Muktamar, sebenarnya telah menganut akidah Islam berkemajuan yang berorientasi etis dan transformatif berbasis Tauhid Rahamutiyah. Namun, akidah ini belum secara formal dirumuskan sebagai “akidah”, sehingga sering muncul kesan bahwa Muhammadiyah belum memiliki rumusan akidah yang jelas. Karena itu, rekonstruksi yang sedang didiskusikan bukanlah penciptaan akidah baru, melainkan pengungkapan (eksposisi) dari akidah yang telah ada dan berfungsi dalam gerakan Muhammadiyah, dengan Tauhid Rahamutiyah sebagai fondasi utamanya.

“Rekonstruksi akidah Islam berkemajuan ini sebetulnya adalah pengungkapan akidah yang hidup dalam putusan-putusan organisasi, dan Tauhid Rahamutiyah adalah kuncinya,” ujar Dr. Hamim Ilyas.

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Kekuatan dan Amanah adalah Modal Utama

Pada masa kini, akidah yang populer di kalangan umat Islam Indonesia cenderung kurang memberikan dorongan langsung bagi kemajuan umat. Dr. Hamim membandingkan tiga sistem akidah utama yang dominan. Akidah Ash’ariyah lebih menekankan dimensi spiritual dan kerohanian, dengan ajaran dzikir, keyakinan akan karomah para wali, serta praktik ziarah ke makam-makam wali demi memperoleh berkah.

Akidah Wahhabi atau puritan menitikberatkan pada kemurnian Islam tanpa campuran bid’ah, sehingga menerapkan pembatasan ketat dalam mengikuti ajaran Nabi secara murni tanpa tambahan. Sementara akidah dalam tradisi modernisme dan neo-modernisme mengarahkan keimanan pada pencapaian kebahagiaan umat secara umum atau keadilan sosial bagi semua.

Berbeda dengan corak-corak tersebut, akidah Islam berkemajuan dalam Muhammadiyah memiliki inti utama berupa keyakinan bahwa Allah Yang Maha Esa hadir secara fungsional di alam ciptaan melalui rahmat-Nya yang tidak terbatas, yang dirumuskan pertama-tama dalam Tauhid Rahamutiyah. Tauhid Rahamutiyah menegaskan bahwa Allah mewajibkan atas diri-Nya sendiri sifat rahmah sebagai inti dari seluruh asma, sifat, dan perbuatan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-An’am ayat 12, sehingga rahmat-Nya selalu mendahului murka-Nya.

Tauhid Rahamutiyah ini melengkapi Tauhid murni, yaitu keimanan yang tidak tercampur dengan kezaliman (Al-An’am ayat 82), yang pada akhirnya melahirkan masyarakat yang aman dan damai serta senantiasa menempuh shirath mustaqim, jalan yang lurus, jelas, dan mudah—menuju ni’mat atau kebaikan di segala bidang kehidupan (Al-Fatihah ayat 6-7).

Baca Juga:  Konsep Tauhid Imam al-Junaidi al-Baghdadi

Akidah ini berpijak pada rukun iman dengan makna yang sangat fungsional dan menggerakkan, yang semuanya dijiwai oleh semangat Tauhid Rahamutiyah. Iman kepada Allah menjadi pangkal segala harapan. Iman kepada malaikat menjadikan manusia sebagai pembawa bala rahmat Allah di muka bumi. Iman kepada kitab suci menjadi landasan untuk membangun peradaban.

Iman kepada para nabi berfungsi membebaskan umat manusia dari segala bentuk kesengsaraan di dunia maupun akhirat. Iman kepada hari kiamat menanamkan moral tanggung jawab yang mendalam. Sedangkan iman kepada qadar mendorong usaha yang terukur dan sesuai dengan sunnatullah demi mewujudkan kehidupan yang baik dan berkemajuan.

Namun, menurut Dr. Hamim Ilyas, tantangan paling relevan hari ini bukan lagi konflik antar-aliran teologis klasik. Umat Islam kontemporer, khususnya generasi muda, tidak lagi sibuk mempertanyakan “Islam golongan mana”, kecuali dalam konteks politik identitas.

“Hari ini orang tidak lagi terlalu berdebat soal aliran. Tantangan akidah justru datang dari arus pemikiran global yang memengaruhi keimanan modern,” ungkap Hamim.

Ia menegaskan pentingnya pendekatan integratif sebagaimana dikembangkan Muhammadiyah, yaitu menggabungkan Tauhid Rahamutiyah yang fungsional dengan amal saleh yang menggerakkan kemajuan.

“Muhammadiyah percaya pada Tauhid Rahamutiyah yang etis sekaligus pada amal yang berkemajuan. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi dipadukan,” kata Hamim.

Ia menegaskan bahwa pertarungan akidah masa kini bergerak pada level yang berbeda dibanding masa lalu.

Baca Juga:  Mengurai Kontroversi Khilafah (1): Khilafah Bukan Ukuran Iman

“Pertarungan akidah hari ini bukan lagi terutama antar mazhab internal Islam, tetapi antara cara pandang keagamaan yang berkemajuan berbasis Tauhid Rahamutiyah dengan arus pemikiran modern yang sekuler atau materialis,” pungkas Hamim.

Karena itu, ia mendorong agar penguatan akidah umat diarahkan pada kemampuan membaca dan merespons tantangan ideologis kontemporer, sekaligus mengkodifikasi akidah Islam berkemajuan dengan Tauhid Rahamutiyah sebagai pondasi utama, agar menjadi landasan regenerasi gerakan Muhammadiyah, bukan semata mengulang pemahaman lama yang semakin kurang relevan dengan realitas zaman.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru