back to top
Selasa, Februari 24, 2026

Imajinasi dan Kecintaan Abduh pada Mesir

Lihat Lainnya

Muhamad Bukhari Muslim
Muhamad Bukhari Muslim
Bendahara Umum DPD IMM DKI Jakarta 2024-2026

Malam ini aku menyusuri Kairo yang ramai dan bising. Ini adalah tipikal yang khas dari masyarakatnya. Mereka sepertinya bangsa yang tidak mencintai keheningan. Teriakan motor dan mobil angkot bersahut-sahutan dengan meriah. Namun di tengah kebisingan itu, pandanganku jatuh pada satu toko buku di area pasar tradisional Khan Khalili. Tidak terlalu besar dan hanya memiliki beberapa koleksi kitab. Namun di antara kitab itu, ada satu gambar tokoh yang begitu kukenal sejak di Indonesia. Ia menjadi inspirasi banyak gerakan modernis di Indonesia, termasuk Muhammadiyah.

Tokoh itu adalah Muhammad Abduh. Aku membeli buku biografinya yang ditulis Abdul Halim Jundi. Sepanjang yang kubaca, penulis ini memang banyak menulis soal tokoh-tokoh Islam. Penulisan biografi ini, sebagaimana diterangkan pada pengantar, adalah bagian dari mega proyek penulisan yang ia namai sebagai Silsilah A’lām al-Islāmī (Rangkaian Panji-Panji Islam). Abduh dipilih sebagai tokoh pertama yang diulas.

Pada buku ini digambarkan dengan terang bagaimana kecintaan Abduh pada Mesir. Kecintaan itu setidaknya terlihat dalam beberapa hal. Di antaranya ialah melalui majalah yang ia terbitkan bersama Jamaluddin al-Afghani, Al-Urwatul Wutsqa. Edisi awal dari majalah ini memuat kritik-kritik Abduh atas masalah yang mendera bangsa Mesir. Salah satu masalah yang disorotnya secara tajam adalah kolonialisme Inggris yang masih bercokol di Mesir. Di edisi ketiga dari majalah ini ia juga menyampaikan harapannya tentang Mesir di masa depan.

Hal yang menarik dari Abduh, protesnya atas Inggris tidak hanya disampaikan melalui tulisan. Ia juga datang ke London untuk bertemu Menteri Urusan Perang Lord Herrington dan para pejabat di sana. Di sini terjadi debat yang sengit antara Abduh dan sang menteri. Sang menteri masih terus mencari alasan untuk membenarkan tindakan kolonial mereka. Salah satu alasan yang mengerutkan dahi ialah saat mereka menjadikan alasan buta huruf yang menyebar di seantero Mesir untuk melakukan penjajahan. Bahkan dengan percaya diri mereka mengatakan bahwa rakyat Mesir sebenarnya aman-aman saja dengan kehadiran mereka.

Baca Juga:  Saleh Digital Juga Bagian dari Ketakwaan Kita

Pandangan ini dibantah oleh Abduh. Baginya tidak ada pembenaran bagi penjajahan. Sebagai seorang manusia, apalagi muslim, mereka pasti menolak tunduk pada kekuatan luar yang menindas. Hal ini, kata Abduh, menjadi kesadaran kolektif bangsa Mesir, tak terkecuali mereka yang buta huruf. Karena itu ketika pihak London mengatakan bahwa bangsa Mesir sepakat dengan penjajahan, mereka hakikatnya sedang menghayal. Tak ada satu pun manusia yang setuju pada penjajahan.

Tipe kolonial di berbagai zaman dan tempat memang selalu sama. Mereka mencoba mencari alasan dan pembenaran atas tindakan terkutuk mereka. Cara yang paling umum dilakukan ialah melakukan pembalikan narasi seolah-olah apa yang mereka lakukan cukup masuk akal. Mereka, demi kepentingan imperialistik, membangun logika yang rapuh demi bisa memperdaya masyarakat yang dijajahnya. Logika yang sering dibangun ialah kehadiran mereka adalah untuk memajukan dan menyelamatkan bangsa yang dijajah dari keterbelakangan.

Satu hal yang menarik dicatat, keterlibatan Abduh dalam urusan kebangsaan dan kenegaraan Mesir memperlihatkan bahwa ulama tidak hanya sibuk pada urusan pengajaran dan pendidikan semata. Lebih dari itu, ia memiliki kepekaan terhadap masalah yang dihadapi bangsanya. Seorang ulama tidak boleh tinggal diam dan harus aktif melibatkan diri pada perkacapan-percakapan rasional tentang solusi yang harus ditempuh.

Dalam hal ini metode dan cara yang ditempuh Abduh cukup kontras dengan Jamaluddin Al-Afghani. Menurut Abduh, sang guru adalah tipe aktivis (siyāsiyyun) yang sering kali terburu-buru dalam menentukan arah gerak. Bahkan di titik ekstrem, mereka tidak segan-segan melakukan penghancuran. (Jundi, 1987: 40-42).

Baca Juga:  Mengkritik Feminisme Islam: Apakah Islam Agama Patriarki?

Seperti yang kita tahu, revolusi selalu menjadi pilihan terakhir saat benar-benar tak ada pilihan. Sebab pada revolusi banyak hal yang mesti dikorbankan. Dengan revolusi, kita mengandaikan suatu perubahan total. Tidak hanya sistem politik, tapi juga ekonomi dan kebudayaan. Atas alasan inilah Indonesia pada tahun 1998 tidak memilih revolusi dan lebih condong pada reformasi. Sebab harga yang harus dibayar untuk revolusi terlalu tinggi. Reformasi adalah pilihan rasional. Jalan perubahan yang ditempuh berangsur dan bertahap. (Rais, 1987: 142).

Pelajaran yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad juga menampilkan semangat serupa. Nabi tidak menempuh cara revolusi dan mengubah sistem seluruhnya dalam sekejab. Barang kali inilah alasan di balik suksesnya karir kenabian Muhammad. Sebab ia tidak memaksakan kehendak dan punya pertimbangan matang atas situasi zaman. Ajaran-ajaran Islam yang kita terima melalui proses semacam ini.

Dulu bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang mengakui adanya perbudakan. Namun ketika Islam hadir, ajaran ini pelan-pelan mengalami perubahan format hingga kemudian dihapus. Begitupun dengan kasus poligami. Sebelumnya masalah ini menjadi hal yang lumrah di bangsa Arab. Mereka memiliki simpanan lebih dari satu. Wanita hanya dipandang sebagai pemuas hawa nafsu. Saat Islam tiba, penghormatan atas perempuan kian naik. Laki-laki tidak diperbolehkan memiliki istri lebih dari empat. Hal inilah yang menarik dari Islam. Ia tidak langsung menghantam dan menghapus ajaran terdahulu. Tapi mengubahnya pelan-pelan. Sekali lagi pelan-pelan.

Baca Juga:  Buya Hamka & Siti Raham Vol II: Perjuangan Penuh Cinta dan Kedamaian

Saat ajaran Islam mulai diterima secara masif, seruan-seruan Nabi pada pemuliaan perempuan mulai digencarkan. Bahkan dalam kasus poligami, Nabi menekankan betul tentang pentingnya berlaku adil dan mengingatkan bahwa berbuat adil kepada perempuan sangatlah berat. Hanya segelintir saja yang mampu melakukannya. Ini adalah isyarat penting agar umat Islam tidak mendekati poligami dengan mudah.

Dakwah reformatif yang menapaki proses berjenjang dan bertahap seperti inilah yang diinginkan oleh Muhammad Abduh. Menempuh perjuangan politik hanya akan melahirkan kecurigaan dan pengawasan. Akhirnya kerja-kerja islāh (reformasi) terhambat. Atas alasan ini juga Abduh mengimajinasikan bahwa dirinya lebih senang membimbing umat, menanamkan kesadaran pada mereka dan dengan sendirinya perubahan akan terwujud melalui skema bottom up, dari bawah ke atas.

Aku bersyukur diberi kesempatan melihat langsung tempat ide Abduh tumbuh dan dibentuk. Meski arah negara yang dibayangkannya belum terwujud secara sempurna, tapi ide-ide reformasi dan membumi seperti yang pernah dilontarkannya harus terus menjadi pegangan bersama. Usaha-usahanya untuk mendekatkan bangsa dan negara muslim pada kemajuan harus terus diterjemahkan. Mimpi Abduh tentang negara muslim yang berdaulat, terbebas dari penjajahan dan berkontribusi di panggung global tidak boleh lekang dari benak umat.

Editor: Soleh

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru