back to top
Minggu, April 5, 2026

Islam Mazhab Israel: Model Pembacaan Kelompok Salafi-Wahabi Terhadap Perang Iran-Israel

Lihat Lainnya

Sholikh Al Huda
Sholikh Al Huda
Direktur Institut Studi Islam Indonesia (InSID), Anggota Majelis Tabligh Muhammadiyah Jatim, Dosen Pascasarjana UMSurabaya

Ada yang aneh dalam cara sebagian umat membaca konflik global hari ini.

Ketika perang memanas antara Iran versus Israel yang disokong Amerika Serikat, fokus sebagian kita justru bukan pada siapa yang menjajah dan siapa yang melawan, melainkan pada satu pertanyaan usang: “Itu Syiah atau bukan?”

Pernyataan Khalid Basalamah (tokoh Salafi Indonesia) yang menyebut Iran dan Israel “sama saja” menjadi contoh paling telanjang dari cara berpikir ini.

Sekilas terdengar aman, bahkan seperti posisi netral. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, logika ini bukan netral, ia justru problematik, reduktif, dan berpotensi menyesatkan.

Mari kita bedah secara sederhana.

Israel adalah entitas yang selama puluhan tahun melakukan okupasi atas Palestina. Fakta ini bukan tafsir mazhab, tapi realitas politik global.

Sementara Iran terlepas dari segala kritik yang bisa diarahkan kepadanya secara konsisten mengambil posisi berseberangan dengan Israel, termasuk dalam dukungannya terhadap perjuangan Palestina.

Lalu di mana letak “sama”-nya?

Menyamakan Iran dengan Israel dalam konteks ini ibarat menyamakan penjajah dengan pihak yang menantangnya, hanya karena keduanya sama-sama tidak kita sukai. Ini bukan analisis, tapi simplifikasi malas.

Sebuah bentuk “kemalasan intelektual” yang dibungkus dengan retorika keagamaan.

Masalah utamanya ada pada cara berpikir yang mencampuradukkan teologi dengan geopolitik secara serampangan.

Dalam logika sebagian kalangan Wahabi-Salafi, perbedaan akidah terutama dengan Syiah ditempatkan sebagai ancaman utama.

Baca Juga:  Suharto: Dipuja Bapak Pembangunan, Dikritik Simbol Otoritarianisme

Akibatnya, musuh teologis terasa lebih berbahaya daripada musuh nyata yang sedang menjatuhkan bom.

Di titik ini, kita menyaksikan sebuah ironi yang nyaris absurd: ketika Palestina dibombardir, sebagian umat justru lebih sibuk memastikan bahwa mereka tidak “terkontaminasi” oleh dukungan terhadap Syiah.

Seolah-olah, dosa terbesar bukanlah membiarkan penjajahan, melainkan salah memilih sekutu.

Logika seperti ini bukan hanya keliru, tapi juga berbahaya secara politik. Ia memproduksi fragmentasi di tubuh umat Islam sendiri. Ketika seharusnya ada konsolidasi melawan ketidakadilan global, yang terjadi justru delegitimasi internal berbasis mazhab.

Dan mari kita jujur: siapa yang paling diuntungkan dari situasi ini? Jawabannya jelas: Israel.

Ketika umat Islam terpecah, sibuk dengan konflik identitas, maka tekanan terhadap Israel otomatis melemah.

Dalam bahasa yang lebih sinis, kita sedang membantu kerja-kerja geopolitik Israel tanpa perlu mereka bersusah payah. Divide et impera tidak lagi harus dijalankan dari luar cukup dipelihara dari dalam.

Tentu saja, kritik terhadap Iran tetap penting. Tidak ada negara yang suci. Tapi problemnya, kritik ala Khalid Basalamah tidak berhenti pada kritik ia melompat pada penyamaan yang tidak proporsional.

Dari “Iran punya masalah” menjadi “Iran sama saja dengan Israel”. Ini bukan lompatan logis, tapi salto intelektual tanpa matras.

Di sinilah kita perlu mengembalikan akal sehat dalam membaca konflik global. Ukuran dalam geopolitik bukanlah mazhab, melainkan posisi terhadap keadilan. Siapa yang menjajah? Siapa yang melawan? Siapa yang menindas? Siapa yang ditindas?

Baca Juga:  Rosyad Saleh: Sang Penjaga Administrasi Organisasi yang Telaten

Kalau pertanyaan dasar ini saja dikaburkan oleh sentimen sektarian, maka yang lahir bukanlah keberpihakan moral, melainkan kebingungan kolektif.

Lebih jauh lagi, cara berpikir seperti ini menunjukkan kegagalan membedakan antara “kemurnian akidah” dan “tanggung jawab kemanusiaan”.

Seolah-olah, menjaga batas teologis lebih penting daripada membela korban ketidakadilan.

Padahal, dalam banyak tradisi Islam sendiri, keadilan adalah nilai universal yang melampaui sekat-sekat identitas.

Akhirnya, kita perlu jujur pada diri sendiri: apakah kita benar-benar sedang membela kebenaran, atau hanya membela kenyamanan mazhab kita sendiri?

Jika logika seperti ini terus dipertahankan, jangan heran jika umat Islam akan terus menjadi penonton dalam panggung geopolitik global.

Bukan karena tidak punya daya, tapi karena gagal membaca mana musuh nyata dan mana sekadar bayangan yang diciptakan oleh ketakutan ideologis.

Dan di situlah, logika itu bukan hanya keliru tapi juga berbahaya.

Peristiwa

2 KOMENTAR

  1. sebuah logika yang sengaja di lestarikan sebagai sebuah upaya langkah awal untuk melakukan penjajahan terhadap palestina, propaganda semacam ini mestinya perlu disampakan sebagai langkah pencerahan pemikiran dan pendidikan politik bagi yang merasa Sunni

  2. karena anda melihatnya dari salah satu sudut, sedangkan pernyataan iran dan israel dari sudut pandang objektif akibat ketidaksepahaman dari kedua belah pihak.
    jadi narasi yang anda sampaikan pada artikel ini adalah nol besar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds