Opini

Kesempatan Kedua: Tentang Hidup, Kendali, dan Rasa Syukur

4 Mins read

Pagi ini saya kembali mulai bisa menghirup angin segar. Walaupun belum benar-benar pulih, tapi patut disyukuri. Saya duduk santai di teras kontrakan sederhana di daerah Colomadu, “Pesma Usman” Namanya. Sudah lama tidak berjemur, sekalian hunting vitamin D yang sudah asing di kulit. Bibir masih diperban, jari manis sebelah kanan pun iya. Ditemani air putih dan 4 balok oreo untuk cemilan.

Hari ini, tepat satu minggu lalu. Saya mengalami kejadian kecelakaan tabrak lari. Mengapa saya ingin sekali menuliskan cerita yang saya alami? Ini menarik dan banyak hikmah yang bisa diambil. Keep in touch!

Berawal dari keinginan empat orang yang hendak pergi ke Lawu. Saya adalah tipikal orang yang suka diajak daripada mengajak. Dalam momen ini, saya adalah last person yang diajak oleh teman saya, sebut saja B.

Awalnya B ini sudah ada rencana dengan 2 teman lainnya yang sama-sama kuliah di Jogja (seinget saya), kebetulan saya sendiri yang domisili di Solo. Nah, singkat cerita saya mengiyakan karena niat hati remedi Lawu karena pendakian sebelumnya ngos-ngosan dan dengkul geter.

“Oke, saya ikut!” Respon saya di chat WA.

Seperti pada umumnya, dalam kelompok-kelompok entah apa itu tujuannya, pasti ada dinamika. Ganti-ganti tanggal. Seinget saya awalnya adalah weekend. Dengan alasan ini itu, akhirnya di geser 4 hari setelahnya, yaitu tepat tanggal 31 Desember 2025.

Saya kira tanggalnya saja yang ganti, tapi ternyata 2 orang temannya B ini, mendadak cancel. Saya tidak tahu persis alasannya, yang jelas gak jadi. Akhirnya saya dan B tetap bertekad tetap naik ke Lawu karena sudah well-prepared dan juga sudah menyewa alat pendakian untuk Tektok. Rasanya sayang sekali kalo gak jadi. Temen-temen pun akan demikian kalo jadi saya.

Saya berangkat tepat pukul 01.50 WIB dari kos saya menuju basecamp Lawu via Cemoro Sewu. Sudah saya pastikan persiapan pendakian tektok dan outfit sudah siap menghalang dinginnya jalan dan track pendakian.

‘Dessss….’ ‘Makkk slaraakkkk’

Kejadian tak terduga terjadi. Kecelakaan tabrak lari terjadi.

Baca Juga  Tafsir al-Muyassar: Panduan Praktis Memahami Al-Qur’an untuk Kalangan Awam

Saya akan bercerita dari sudut pandang saya dulu. Saya ingat betul, saya menyusuri jalan Adi Sucipto dan belok ke arah Tirtonadi. Tetapi, ingatan saya hanya sampai pada Lampu Merah Girimulyo sebelah utara Lampu Merah Tugu Manahan.

Saya sudah merasa hati-hati pada saat itu. Awalnya lampu merah, tentu saya berhenti. Lampu hijau, saya gas. Sudah. Ingatan saya hanya sampai di titik itu. Yang saya rasakan adalah seperti mimpi (alam bawah sadar saya) bahwa saya merasa ada benturan yang sangat keras di sebelah kanan mengenai saya. Bagian kepala yang paling kencang.

Saya tidak tahu betul pukul berapa saat itu, tapi dari cerita orang sekitar saya pukul 02.00 WIB-an. Ketika sadar, saya sudah di ambulan, pun di posisi itu saya tidak merasa bagaimana-bagaimana, hanya perih dan pusing. Saya pingsan lagi. Sadar-sadar sudah ditangani di IGD. Saya ingat persis, saya disuruh bangun oleh dokter dan perawat yang menangani saya.

“Mas! Mas! Bangun! Sadar!”

Kemudian saya akan bercerita versi orang sekitar saya. Kecelakaan ini terjadi karena saya ditabrak oleh mobil berwarna putih dari belakang, tapi yang kena saya dulu. Saya dan B terpental dan tergelincir. Bedanya B ini sadar dan bisa roll depan, sehingga ia tidak separah saya.

Katanya jatuhnya saya itu, “ahh gabisa dijelasin, ngeri pokoknya, apalagi mukamu itu berlumuran darah.”

Ternyata saya jatuh di pintu utara Balekambang. Posisi motor dan orang itu beda jauh lokasinya. Berarti kenceng banget.

Kembali ke IGD. Saya sadar, tentu saya meringih kesakitan disekujur tubuh, khususnya muka. Muka saya parah, parah sekali katanya. Karena jujur saya tidak bisa melihat diri saya sendiri pada saat itu. Saya dijahit di bagian bibir dan jari manis sebelah kanan, karena sobek dan darah bocor. Selebihnya luka-luka beragam macamnya.

Saya diminta untuk CT scan (computerized tomography scan) di bagian kepala, karena memang benturan yang sangat keras. Hasilnya, saya mengalami pembengkakan di otak. Syukurnya tidak sampai pada pendarahan. Patut saja, saya masih merasa pusing-pusing sampai detik ini. Ada beberapa pesan dari cerita saya yang menurut saya ini menjadi alarm penting buat diri saya pribadi dan mungkin teman-teman sekalian yang membaca tulisan ini.

Baca Juga  Dyah Respati: Guru, Relawan, dan Cahaya Kemanusiaan

Pertama, keselamatan sebagai etika. Banyak orang menyepelekan aturan berkendara. Kecepatan, jarak aman, helm, dan rambu lalu lintas jadi formalitas, bukan kesadaran. Contoh hal kecil yang saya alami, yaitu helm. Saya tidak membayangkan jika tidak pake helm. Mungkin sampun seda. Pake helm pun yang SNI dan perlu ada kacanya. Kesalahan saya adalah tidak ada kaca pada helm yang saya pake, jadi morat-marit muka saya.

Setelah itu, saya sadar aturan berkendara mestinya bukan kewajiban administrasi menghindari tilang. Tetapi menjadi bentuk peduli dan hormat terhadap hidup. Jika satu pengendara acuh, imbasnya tidak cuma pada dirinya, tapi orang sekitarnya dan masa depan orang lain turut kena. Keselamatan menjadi bagian dari etika. Etika tentang lebih waspada, lebih pelan, dan lebih peduli terhadap sesama.

Kedua, ilusi kendali. Manusia perlu sadar, ranah yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan. Boleh jadi kita sudah mempersiapkan apapun hari ini untuk rencana di masa yang akan datang. Tapi kuasa Allah SWT menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan kendali.

Hilangnya kesadaran yang saya alami pada saat kecelakaan berada diluar kendali. Ada jeda hidup yang tak bisa kuingat. Di titik itu, saya hanya bisa pasrah, kendali hilang dari diri ini. Poinnya adalah tidak semua yang terjadi pada hidup sepenuhnya bisa dikendalikan. Namun, justru itu yang menandakan kita harus lebih sadar dan rendah hati.

Ketiga, tepa selira dan tanggung jawab. Jalan raya adalah bukan milik pribadi. Lampu lalu lintas bukan sekadar ornament. Berkendara di jalan bukan seenaknya sendiri. Tetapi, semua itu adalah ruang perjumpaan, ruang hidup bersama-sama. Pada saat itulah tepa selira seharusnya terpatri dalam diri, bahwa hidup di jalan raya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi bersandingan dengan orang lain.

Baca Juga  Makna Ummi: Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?

Peristiwa tabrak lari mengingatkan soal tanggung jawab. Pergi meninggalkan korban tidak hanya sekadar melanggar hukum, gagal tanggung jawab, bahkan hilang rasa kemanusiaannya. Tanggung jawab seyogyanya ada pada benak setiap manusia. Tidak berhenti pada aturan atau formalitas hidup, tapi berakar pada nurani. Tentang menolong, hadir, dan peduli. Kemanusiaan selalu menuntut keberanian.

Keempat, kesempatan kedua. IGD bukan hanya tempat penyelamatan, tapi juga tentang diberi kesempatan. Tidak semua yang kecelakaan dikasih ruang kembali untuk membuka mata dan menarik napas.

Rasa syukur, berkat Allah saya diberi kesempatan kedua. Boleh jadi hidup hari ini adalah bonus untuk saya refleksi dan muhasabah. Diberi waktu lebih untuk hidup, untuk lebih hati-hati, dan menghargai keberadaan.

Kesempatan kedua tidak selalu hadir. Maka dari itu, jangan sampai disia-siakan untuk terus berperilaku baik antar sesama. 

Kelima, empati. Kecelakaan yang saya alami menjadikan saya berada pada kondisi paling lemah. Dari tidak sadar sampai susah mau ngapa-ngapain. Manusia tidak bisa berdiri sendiri. Saya ditolong oleh orang yang tidak saya kenal. Mereka menjadi alarm bahwa kepedulian masih ada pada manusia.

Tenaga medis yang peduli merawat dan mengobati. Keluarga, kerabat, dan teman-teman yang menjenguk dan mendoakan. Empati lahir dengan menghapus jarak antara “aku” dan “kamu”.  Merasakan apa yang dirasa oleh orang lain. Peduli dan saling membantu.

Mungkin itu saja yang bisa saya tuliskan. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang berbahaya dan membahayakan. Berhati-hati dan bijak dalam berkehidupan. Sehat selalu.

Puji Syukur saya dirawat di RS Bhayangkara Surakarta, Manahan dapat penanganan yang sangat baik. Saya merasa banyak kemajuan kesehatan yang saya alami sampai hari ini. Mohon doanya agar cepat kembali pulih seperti sedia kala dan mampu menebar lebih banyak kebaikan-kebaikan lainnya. Wallahu ‘alam.

Editor: Ikrima

Avatar
2 posts

About author
Ketua PW IPM Jawa Tengah
Articles
Related posts
Opini

Perokok di Jalan Raya: Mengapa Pelanggar Lebih Galak Dari Korbannya?

4 Mins read
Di banyak persimpangan jalan, kita menyaksikan pemandangan yang paradoksal: seorang pengendara merokok sambil menyetir, asapnya mengepul ke wajah pengguna jalan lain, puntungnya…
Opini

TKA Membuka Borok Pendidikan yang Lama Ditutup: Kekosongan Akuntabilitas Akademik

3 Mins read
Rerata nasional hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menampilkan gambaran yang mencengangkan. Pada kelompok mata pelajaran wajib jenjang SMA dan sederajat, Bahasa…
Opini

Pidana Kerja Sosial: Solusi atau Sekadar Ilusi

3 Mins read
Mulai 2 Januari 2026 KUHP Nasional akan mulai diterapkan dalam sistem hukum pidana di Indonesia. Terlebih telah hadir UU Nomor 25 Tahun…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *