IBTimes.ID – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan digelar di Amerika Serikat (AS) diproyeksikan menitikberatkan pembahasan pada agenda ekonomi global, sementara isu-isu geopolitik tidak akan menjadi bagian dari diskusi para pemimpin negara.
Hal tersebut disampaikan Sherpa G20 Rusia, Svetlana Lukash, kepada RIA Novosti, Senin (2/1/26).
“Rekan-rekan Amerika kami telah menjelaskan bahwa G20 bukanlah forum untuk membahas isu-isu geopolitik,” katanya sebagaimana dilansir dari Antara.
Lukash mengatakan, pemerintah Amerika Serikat telah menegaskan bahwa forum KTT G20 AS difokuskan pada kerja sama ekonomi dan keuangan, bukan sebagai wadah untuk membahas dinamika geopolitik global.
Menurut dia, pembahasan isu-isu politik internasional hanya akan dilakukan dalam format terpisah, yakni pada pertemuan para menteri luar negeri negara-negara anggota G20.
Pernyataan itu sejalan dengan pendekatan yang diusung Washington dalam presidensi G20-nya, yang ingin mengembalikan fokus utama forum tersebut pada stabilitas ekonomi, pertumbuhan global, serta tantangan makro ekonomi pasca pandemi dan konflik internasional.
Sebelumnya, pada 15–16 Desember, Amerika Serikat telah menjadi tuan rumah pertemuan perdana perwakilan negara-negara G20 sejak dimulainya masa presidensi AS.
Pemerintah AS juga berencana menyelenggarakan KTT G20 tingkat pemimpin di Miami pada Desember 2026.
Namun, dinamika politik tetap membayangi presidensi AS di G20. Pada 3 Desember 2025, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan bahwa Washington tidak akan mengundang Afrika Selatan ke forum G20 selama masa kepemimpinan AS.
Rubio menuduh Pretoria melakukan kebijakan yang bersifat diskriminatif terhadap warga Afrikaner, kelompok etnis keturunan Belanda di Afrika Selatan.
Selain itu, Rubio juga mengkritik kepemimpinan Afrika Selatan sebelumnya di G20 yang dinilai terlalu menekankan isu perubahan iklim, keberagaman, dan inklusivitas, serta ketergantungan Afrika pada bantuan asing, tanpa mempertimbangkan kepentingan strategis Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut memicu beragam reaksi dari pengamat internasional yang menilai langkah AS berpotensi menambah ketegangan politik di dalam forum G20.
(MS)

