IBTimes.ID – Demonstrasi di Iran yang telah memasuki hari kelima itu menelan lima korban jiwa sebagaimana dilaporkan BBC. Hengaw, komunitas pegiat hak asasi manusia di Iran menyebut dua orang meninggal dunia ketika terjadi bentrok antara demonstran dengan aparat di Lordegan. Hal yang sama dikonfirmasi oleh kantor berita Fars.
Sementara itu, tiga orang meninggal dunia di Azna, dekat provinsi Lorestan. Tidak diketahui apakah korban merupakan demonstran atau aparat penegak hukum.
Pada Kamis (1/1/2026), sebuah video yang tersebar luas di media sosial menunjukkan mobil-mobil terbakar ketika terjadi bentrokan.
Sebanyak 13 petugas polisi dan anggota Basij lainnya terluka akibat lemparan batu di daerah tersebut, menurut laporan media pemerintah. Sekolah, universitas, dan lembaga publik ditutup di seluruh negeri pada hari Rabu setelah pemerintah mengumumkan libur bank dalam upaya untuk meredam kerusuhan.
Hal itu konon untuk menghemat energi karena cuaca dingin, meskipun banyak warga Iran melihatnya sebagai upaya untuk menahan protes.
Protes dimulai di Teheran, dimulai oleh para pedagang yang marah karena penurunan tajam nilai mata uang Iran terhadap dolar AS di pasar terbuka.
Pada hari Selasa, sekelompok mahasiswa turut bergabung. Demonstrasi lalu menyebar ke beberapa kota di Iran. Tuntutan ditujukan kepada pemimpin negara yang diisi oleh para mullah.
Protes ini merupakan yang paling meluas sejak pemberontakan pada tahun 2022 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini dalam tahanan, seorang wanita muda yang dituduh oleh polisi moral karena tidak mengenakan jilbabnya dengan benar. Namun, skala protes kali ini tidak sebesar tahun 2022.
Untuk mencegah eskalasi, pengamanan ketat kini dilaporkan diberlakukan di wilayah Teheran tempat demonstrasi dimulai. Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan pemerintahnya akan mendengarkan “tuntutan sah” para demonstran.
Namun, jaksa agung, Mohammad Movahedi-Azad, juga memperingatkan bahwa setiap upaya untuk menciptakan ketidakstabilan akan ditanggapi dengan apa yang disebutnya sebagai “tanggapan tegas”.
Para demonstran menuntut berarkhirnya kekuasaan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei dan meminta kembalinya monarki yang runtuh pada tahun 1979.
(FI)

