In-Depth

Melihat Peluang Amerika Ambil Alih Greenland, Bagaimana Respons Denmark?

5 Mins read

Minggu lalu, dunia dikejutkan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh Amerika Serikat. Penangkapan itu disebut oleh banyak pihak sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional. AS berdalih melakukan penegakan hukum melawan peredaran narkoba. Namun, penegakan hukum itu dilakukan di luar wilayahnya, yang dalam kajian politik disebut dengan ekstrateritorial.

Tak lama setelah serangan di Caracas, ibukota Venezuela, Katie Miller, istri dari pejabat tinggi Amerika Stephen Miller memposting foto peta Greenland dengan warna bendera Amerika, dengan caption “Soon”. Pada Senin (5/1/2026), Stephen Miller menyebut bahwa mengambil alih Greenland telah menjadi pandangan resmi AS. Dengan angkuh ia mengatakan, “tidak akan ada yang melawan Amerika terkait dengan masa depan Greenland”.

Dilansir dari BBC, Presiden Amerika Donald Trump telah mendiskusikan beberapa pilihan dalam melakukan proses ambil alih Greenland, termasuk menggunakan militer. Menurut Gedung Putih, mengambil alih kawasan tersebut merupakan bagian dari prioritas keamanan nasional.

Pernyataan tersebut dikeluarkan beberapa jam setelah beberapa pemimpin Eropa mengeluarkan pernyataan untuk mendukung Denmark. Sebagaimana diketahui, Greenland memiliki pemerintahan semi otonom yang menginduk ke Denmark.

Cara Amerika Ambil Alih Greenland dengan Cara Halus

Di sisi lain, tampak ada upaya-upaya yang lebih halus untuk mengambil alih Greenaland. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada para anggota parlemen dalam sebuah pengarahan rahasia di Capitol Hill pada hari Senin (5/1/2026) bahwa pemerintahan Trump tidak berencana untuk menginvasi Greenland. Ia malah menyebutkan kemungkinan membeli pulau itu dari Denmark, seperti yang dilaporkan oleh Wall Street Journal dan media AS lainnya.

Di hari Selasa setelahnya, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa AS sangat ingin membangun hubungan komersial yang langgeng yang menguntungkan warga Amerika dan rakyat Greenland. “Musuh bersama kita semakin aktif di Arktik. Itu adalah kekhawatiran yang dimiliki bersama oleh Amerika Serikat, Kerajaan Denmark, dan sekutu NATO,” ujarnya.

The Guardian menulis sebuah jajak pendapat yang menunjukkan bahwa perasaan warga Greenland tentang janji Trump untuk menginvestasikan miliaran dolar di wilayah tersebut tidak jelas, dengan populasi hampir terbagi rata antara melihatnya sebagai ancaman dan sebagai peluang.

Baca Juga  Trump: Perang di Gaza Resmi Berakhir

Langkah pertama Amerika untuk ambil alih Greenland secara halus, yang sudah berjalan, adalah kampanye untuk memenangkan hati dan pikiran, investasi dalam pembangunan ekonomi dan pendidikan pulau tersebut dan memperkuat hubungan diplomatik. Konsulat AS di Nuuk dibuka kembali pada tahun 2020 dan seorang utusan khusus untuk Greenland ditunjuk bulan lalu.

Denmark juga mencurigai Washington melakukan taktik yang lebih terselubung, termasuk dugaan kampanye untuk mengubah pendapat publik. Kopenhagen percaya ini dimaksudkan untuk mendorong gerakan kemerdekaan pulau tersebut.

Jika nanti referendum kemerdekaan dimenangkan dan disetujui oleh parlemen Denmark, pembuatan kesepakatan kerjasama dengan AS dapat dimulai dengan lebih mudah. Dalam kunjungan ke Nuuk pada bulan Maret 2025, wakil presiden AS, JD Vance, mengatakan dia berharap warga Greenland yang merdeka akan “memilih untuk bermitra dengan Amerika Serikat”.

Para pejabat AS dilaporkan telah bekerja selama berbulan-bulan untuk kemungkinan kesepakatan “pakta asosiasi bebas” (Cofa) yang mirip dengan pengaturan yang dimiliki AS dengan sejumlah negara kecil di Pasifik Selatan, termasuk Kepulauan Marshall.

Di bawah pakta tersebut, negara yang lebih kecil mempertahankan kemerdekaannya dan mendapatkan jaminan perlindungan dari AS, serta melakukan kesepakatan perdagangan bebas bea yang menguntungkan, sementara militer AS dapat beroperasi hampir tanpa batasan di wilayah-wilayah tersebut.

Banyak analis melihat ini sebagai hasil jangka panjang yang paling masuk akal, dengan para pemimpin Greenland akan melihat Cofa atau bentuk perjanjian bilateral lainnya sebagai cara untuk menggabungkan kemerdekaan dengan keuntungan ekonomi. Hal ini akan terjadi jika Greenland sudah sepenuhnya merdeka dari Denmark pasca referendum.

Respon Denmark, Greenland, dan Eropa

Greenland dan Denmark sebelumnya mengatakan bahwa mereka telah meminta untuk segera bertemu Rubio untuk membahas klaim AS atas pulau tersebut. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan bahwa berbicara dengan diplomat tertinggi Amerika akan menyelesaikan polemik tentang Amerika yang ingin ambil alih Greenland. Pada hari Selasa, enam sekutu Eropa menyatakan dukungan untuk Denmark.

“Greenland adalah milik rakyatnya, dan hanya Denmark dan Greenland yang dapat memutuskan hal-hal yang menyangkut hubungan mereka,” kata para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Denmark dalam pernyataan bersama.

Baca Juga  KTT G20 di AS: Fokus Bahas Ekonomi, bukan Geopolitik

Menekankan bahwa mereka sama antusiasnya dengan AS dalam keamanan Arktik, para penandatangan Eropa mengatakan bahwa hal ini harus dicapai oleh sekutu NATO, termasuk AS secara kolektif. Mereka juga menyerukan peneguhan prinsip-prinsip Piagam PBB, termasuk kedaulatan, integritas teritorial, dan tidak dapat diganggu gugatnya perbatasan.

Mengenal Greenland

Sebagaimana diketahui, Greenland merupakan pulau es di kawasan Arktik, antara Samudra Arktik dan Atlantik Utara. Pulau tersebut memiliki pemerintahan semi otonom dari Denmark. Pemerintahan domestik mengatur urusan domestik, sedangkan urusan luar negeri dan pertahanan diatur oleh Denmark. Mayoritas partai politik Greenland sebenarnya ingin merdeka dari Denmark. Namun mereka belum bersepakat terkait waktunya.

Pulau yang penuh es tersebut bertetangga dengan Kanada di sebelah barat dan Islandia di sebelah timur. Dua pertiga kawasannya berada di lingkaran Arktik. AS memiliki minat yang tinggi terhadap pulau ini karena nilai ekonomi dan militernya. Pencairan lapisan es akibat perubahan iklim akan membuka jalur pelayaran baru dan peluang untuk mengakses mineral penting. Selain itu, pendapatan dari hasil laut juga sangat besar.

Pulau ini dihuni oleh sekitar 57,000 ribu penduduk, mayoritas suku Inuit. Mereka hidup secara berpencar-pencar. Mayoritas berada di selatan dan barat, dekat dengan ibukota Nuuk. Gelombang migrasi ke pulau tersebut dari Eropa juga terjadi beberapa waktu terakhir.

Ekonomi Greenland sangat bergantung pada industri perikanan. Beberapa tahun terakhir, minat terhadap penggalian sumber daya alam mulai tumbuh, termasuk pertambangan logam tanah jarang, uranium, dan besi.

Perjanjian Militer AS-Greenland yang Sudah Ada

Saat ini, Greenland menjadi markas militer Denmark dan AS. Kehadiran militer AS membuat perebutan atas pulau tersebut menjadi semakin tegang. Washington setidaknya telah hadir di Greenland sejak tahun 1951, ketika AS menandatangani perjanjian kerjasama dengan Denmark. Dalam perjanjian tersebut, Amerika berhak untuk membangun, memasang, memelihara, dan mengoperasikan pangkalan militer di seluruh wilayah.

Perjanjian tersebut, yang diperbarui pada tahun 2004 dan melibatkan pemerintahan semi-otonom Greenland, juga memungkinkan AS untuk “menampung personel, mengendalikan pendaratan, lepas landas, penambatan, pergerakan, dan pengoperasian kapal dan pesawat terbang”.

Baca Juga  Arifi Saiman: Kebijakan Biden untuk Muslim Amerika

Kopenhagen telah berulang kali mengisyaratkan kesediaannya untuk mengizinkan AS memperluas kehadiran militernya secara signifikan di Greenland, yang saat ini terbatas pada pangkalan ruang angkasa Pituffik di utara, tempat sekitar 500 personel dilaporkan ditempatkan.

Perjanjian lain, yang ditandatangani pada Desember 2023 dan berlaku sejak tahun lalu, memberi AS akses tanpa hambatan ke pangkalan udara Denmark dan memungkinkannya untuk melakukan aktivitas militer di dan dari Denmark. AS memiliki perjanjian serupa dengan Swedia, Finlandia, dan Norwegia.

Kemungkinan Amerika Ambil Alih Greenland dengan Militer

Dengan kehadiran kekuatan Amerika di kawasan tersebut, proses ambil alih Greenland secara militer tidak akan sulit. Greenland tidak memiliki tentara. Sedangkan kapal, pesawat, dan helikopter dioperasikan oleh Komando Denmark di Nuuk hanya untuk kebutuhan penelitian.

Beberapa analis menyebut bahwa AS bisa mengambil alih Nuuk hanya dalam hitungan menit lalu mendeklarasikan Greenland sebagai bagian dari negara Amerika Serikat. Namun, dalam praktiknya, para analis Denmark mengatakan bahwa hal itu tidak akan mudah – terutama dalam kondisi cuaca Greenland yang terkenal sulit.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, mengatakan pekan ini bahwa serangan AS terhadap Greenland, yang dilindungi oleh keanggotaan NATO Denmark, akan berarti berakhirnya aliansi militer tersebut. Hal itu juga akan menghancurkan keamanan pasca-Perang Dunia Kedua. Selain sepenuhnya ilegal, para analis juga mengatakan bahwa operasi militer AS akan langsung menghilangkan kepercayaan sekutu Washington. Serangan tersebut juga membuat Amerika berpotensi kehilangan jaringan intelijen yang vital.

Jacob Kaarsbo, mantan analis di badan intelijen pertahanan Denmark, mengatakan bahwa serangan AS akan menghadapi perlawanan. Sebuah pekerjaan cepat dan kotor, merebut menara kontrol dan situs-situs strategis, mungkin bisa dilakukan pada tahun 2025, katanya. Tetapi Denmark telah meningkatkan kehadirannya. Cuaca musim dingin juga akan membuat operasi apa pun sangat sulit, katanya.

“Saya berharap orang Eropa dapat meyakinkan AS bahwa kami memang akan membalas tembakan. Tentara AS akan kembali ke AS dalam kantong mayat,” ujarnya.

(Yusuf Yanuri)

Related posts
In-Depth

Mengapa Nadiem Dituding Rugikan Negara Triliunan?

3 Mins read
Setelah beberapa kali ditunda, sidang perdana akhirnya digelar pada Senin, 5 Januari 2026, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Mantan Menteri…
In-Depth

Konflik Amerika VS Venezuela, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

6 Mins read
Dunia dikagetkan dengan langkah Amerika yang secara tiba-tiba menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Pada Sabtu (3/1/2026) dinihari, Amerika melancarkan serangan udara di…
In-DepthPerspektif

Soal Covid-19, Media Jangan Nakut-nakutin Masyarakat

1 Mins read
Virus Corona (Covid-19) yang diketahui bersama berasal dari Kota Wuhan, China, yang menyebar akhir tahun lalu, kini tak tanggung-tanggung menyebar ke-200 negara…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *