Persoalan pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur sering kali dipandang melalui kacamata teknokratis yang kaku. Selama dekade terakhir, narasi besar pembangunan selalu berkisar pada minimnya modal, keterbatasan teknologi, dan isolasi geografis yang membebani akses pasar. Namun, ada satu dimensi yang sering terabaikan dalam diskursus pembangunan di bumi Flobamora, yaitu dimensi manusia sebagai pengambil keputusan ekonomi.
Dalam konteks pemberdayaan UMKM lokal, pendekatan ekonomi murni yang hanya berfokus pada asupan fisik sering kali menjerumuskan pelaku usaha ke dalam jebakan ketidakberdayaan yang dipelajari atau learned helplessness. Kondisi ini membuat pelaku usaha merasa bahwa kemajuan mereka bukan ditentukan oleh usaha sendiri, melainkan oleh faktor eksternal. Psikologi ekonomi hadir sebagai jembatan untuk memahami mengapa intervensi bantuan yang masif terkadang tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan kemandirian di lapangan.
Realitas yang sering kita temui menunjukkan kontradiksi yang nyata, di mana bantuan fisik disalurkan namun produktivitas segera stagnan saat pendampingan formal berakhir. Secara psikologis, fenomena ini terjadi karena bantuan yang diberikan secara paternalistik sering kali gagal menumbuhkan rasa memiliki secara mental atau psychological ownership. Tanpa rasa memiliki ini, inovasi tidak akan dianggap sebagai identitas diri pelaku usaha, melainkan hanya dianggap sebagai proyek pemerintah yang bersifat sementara.
Kondisi tersebut pada akhirnya membuat gerak UMKM menjadi pasif dan cenderung reaktif terhadap kebijakan. Fenomena ini jamak ditemui mulai dari daratan Timor, Alor, hingga Sumba, di mana pelaku usaha merasa bahwa keberlangsungan bisnis mereka bergantung pada belas kasihan kebijakan saja. Inilah beban mental yang harus segera diurai jika kita ingin UMKM di NTT benar-benar naik kelas secara ekonomi dan memiliki daya saing yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, rekayasa ulang model Hexa Helix yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan harus dimulai dengan menata ulang arsitektur pilihan bagi pelaku UMKM. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, sektor bisnis, masyarakat, media, dan lingkungan tidak boleh hanya berhenti pada seremoni penandatanganan kesepakatan formal saja. Tantangan riil di NTT saat ini adalah bagaimana kita membangun daya juang kewirausahaan atau entrepreneurial grit yang mampu melampaui sekadar strategi bertahan hidup.
Dalam upaya ini, teori dorongan halus atau nudging berperan penting untuk mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar penerima bantuan menjadi inovator ekonomi yang tangguh. Alih-alih memberikan subsidi murni yang berisiko mematikan inisiatif, pemerintah dan akademisi harus mendesain sistem insentif yang mampu memaksa secara edukatif. Bantuan teknologi, misalnya, sebaiknya hanya diberikan setelah pelaku usaha menunjukkan komitmen nyata dalam perbaikan manajemen atau standar kualitas produk mereka.
Langkah ini merupakan bentuk dukungan bersyarat yang bertujuan membangun harga diri ekonomi serta efikasi diri para pelaku usaha. Pelaku UMKM harus merasakan bahwa keberhasilan produk mereka, baik itu tenun ikat, kopi, maupun pangan lokal, adalah buah dari kompetensi mereka sendiri. Ketika mereka menyadari bahwa kesuksesan berada di tangan mereka, semangat untuk berinovasi akan muncul secara organik dan tidak lagi bergantung pada stimulus luar.
Pemanfaatan kearifan lokal seperti budaya Lopo di Timor atau semangat gotong royong di Flores juga dapat menjadi katalisator bagi penguatan modal sosial. Budaya kolektif ini adalah aset psikologis yang luar biasa besar jika dikelola dengan tepat. Namun, potensi ini sering kali terhambat oleh krisis kepercayaan akibat sejarah birokrasi yang kaku. Di sinilah akademisi dari berbagai lembaga Universitas memiliki peran krusial untuk hadir sebagai mitra yang setara.
Para akademisi tidak boleh hadir sebagai pengajar dari luar yang menggurui, melainkan sebagai rekan riset yang membantu memetakan berbagai bias kognitif yang selama ini menghambat inovasi di pedesaan. Kita harus mengakui bahwa kemiskinan di NTT bukan sekadar masalah kekurangan materi, tetapi juga merupakan beban kognitif yang berat. Kondisi yang serba terbatas sering kali memaksa orang terjebak dalam pengambilan keputusan jangka pendek yang merugikan masa depan usaha mereka.
Maka dari itu, intervensi di NTT harus mampu meringankan beban kognitif tersebut melalui penyederhanaan alur birokrasi dan pendampingan yang menyentuh aspek motivasi terdalam. Transformasi ini memerlukan napas panjang untuk mengubah perilaku ekonomi yang sudah mengakar selama puluhan tahun. Pemanfaatan media digital dalam ekosistem Hexa Helix pun harus diarahkan untuk membangun kebanggaan identitas produk lokal di mata pasar nasional maupun internasional.
Jika produk lokal NTT diposisikan sebagai produk yang eksklusif dan sarat nilai filosofis, maka rasa percaya diri pengusaha akan meningkat dengan sendirinya. Peningkatan harga diri ini secara otomatis akan memicu kreativitas serta keberanian pelaku UMKM untuk melakukan penetrasi pasar yang lebih luas secara konsisten. Transformasi ekonomi NTT pada akhirnya membutuhkan lebih dari sekadar suntikan modal finansial, melainkan sebuah restorasi modal psikologis yang mendalam.
Kita harus berani beralih dari model bantuan yang memanjakan menuju model pemberdayaan yang menantang martabat manusia sebagai subjek utama pembangunan. Dengan memahami mekanisme mental di balik keputusan ekonomi, kita tidak hanya sekadar memberikan alat pancing kepada masyarakat. Kita sebenarnya sedang merawat jiwa kewirausahaan mereka agar mampu berdiri tegak dan berdaulat di tengah persaingan pasar global yang semakin kompetitif dan dinamis.
Pembangunan ekonomi mungkin bisa dihitung dengan angka pertumbuhan, namun kemajuan yang berkelanjutan hanya bisa dijamin oleh ketangguhan manusia di baliknya. Menghidupkan ekonomi NTT berarti menghidupkan kembali kepercayaan diri kolektif masyarakatnya untuk menjadi pemenang di tanah mereka sendiri. Melalui kolaborasi yang menyentuh aspek psikologis ini, masa depan ekonomi NTT tidak lagi hanya menjadi sebuah harapan, melainkan sebuah kenyataan yang kita bangun bersama.
editor: Ikrima


