back to top
Kamis, Februari 5, 2026

Menelaah “Turun Gunung” nya Jokowi di PSI

Lihat Lainnya

Pada Sabtu, 31 Januari 2026, Hotel Claro di Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi saksi momen politik yang cukup langka sejak Joko Widodo (Jokowi) menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia. Mantan presiden yang biasanya tampil dengan gaya sederhana dan kalem itu tampil energik, mengenakan passapu hitam khas Bugis-Makassar, Jokowi berpidato di hadapan ribuan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) partai tersebut.

Suasana ruangan langsung bergemuruh ketika Jokowi muncul. Ribuan peserta meneriakkan namanya berulang-ulang, menciptakan atmosfer seperti reuni besar pendukung setia. Di barisan paling depan, Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi yang menjabat sebagai Ketua Umum PSI duduk tenang, mendengarkan setiap kata ayahnya dengan penuh perhatian. Pidato Jokowi bukan sekadar sambutan formal; ia menjadi deklarasi komitmen personal yang sangat jelas untuk membantu membesarkan partai yang dipimpin anaknya menjelang Pemilu 2029.

Jokowi membuka pidatonya dengan nada militan yang jarang terdengar darinya belakangan ini. Ia berulang kali menegaskan bahwa dirinya “masih sanggup” turun ke lapangan, berkeliling ke seluruh daerah, bahkan hingga ke tingkat kecamatan.

“Kita punya 38 provinsi, saya masih sanggup,” teriaknya keras, disambut sorak sorai dan tepuk tangan meriah dari para kader.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Jokowi secara eksplisit menyatakan kesiapannya untuk berkeliling ke seluruh Indonesia guna membantu penguatan struktur partai. Menurutnya, kekuatan sebuah partai politik terletak pada struktur yang kuat dan hidup hingga ke tingkat paling bawahn desa, kelurahan, hingga RT/RW.

“Kita perlu mesin besar karena target PSI adalah target besar. Targetnya tinggi, maka mesinnya harus besar,” ujar Jokowi, mengutip pengalamannya sendiri yang dibesarkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) selama puluhan tahun.

Baca Juga:  Hyung Jun Kim: Perubahan Gaya Kepemimpinan Muhammadiyah

Ia menekankan dua pilar utama yang harus dikuatkan PSI: jaringan daring dan jaringan luring. Di jagat maya, partai harus aktif menyapa netizen, memperbesar jangkauan, dan membangun narasi yang menarik bagi generasi muda. Di lapangan, kader harus turun langsung bertemu masyarakat, mendengar keluhan, dan membangun kepercayaan secara tatap muka. Kombinasi keduanya, menurut Jokowi, adalah kunci untuk mencapai target ambisius yang dicanangkan partai.

Target yang dimaksud adalah lolos ke parlemen pada Pemilu 2029 melewati parliamentary threshold sehingga PSI bisa memperoleh kursi di DPR RI. Jokowi tampak sangat optimistis terhadap kemungkinan tersebut.

“Kalau saya lihat, dengan struktur yang ada, targetnya masuk ke Senayan. Insya Allah,” kata Jokowi dengan tegas.

Namun, kalimat selanjutnya langsung memicu rasa penasaran di kalangan wartawan dan pengamat yang hadir.

“Tapi, targetnya bukan itu,” tambah Jokowi sambil tertawa kecil ketika ditekan untuk menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “target utama” tersebut. Sikap tertawa dan enggan menjelaskan itu justru membuat pernyataan tersebut semakin menarik perhatian.

Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni menanggapi antusias kehadiran Jokowi. Menurutnya, pidato tersebut menjadi suntikan energi baru yang sangat dibutuhkan kader-kader muda PSI. Meskipun secara formal Jokowi belum masuk ke dalam struktur kepengurusan partai, Antoni menilai arahan dan imbauan Jokowi sudah setara dengan deklarasi dukungan terbuka.

“Beliau telah mengimbau para pendukung dan simpatisan bergabung ke partai,” ujar Antoni.

Dari sisi akademik, pengamat politik Sukri Tamma dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin menilai kehadiran Jokowi di Rakernas ini menandai pergeseran sikap yang signifikan. Jika selama ini dukungan Jokowi terhadap PSI lebih bersifat tidak langsung atau di belakang layar, kini ia tampil secara terbuka di panggung partai.

Baca Juga:  Buya Syafii Sarankan Jokowi Keluarkan Perppu Pengganti UU KPK Terbaru

“Ini adalah pernyataan lugas bahwa Jokowi masih ada dan siap bertarung di arena politik,” kata Sukri.

Sementara itu, Andi Luhur Prianto, Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar, melihat langkah Jokowi sebagai upaya mempertahankan pengaruh politik pasca-kekuasaan dalam konteks dinamika politik Indonesia saat ini. PSI dipandang sebagai kendaraan politik yang paling sesuai mengingat hubungan keluarga yang dekat, basis anak muda yang dominan, serta fleksibilitas partai yang relatif belum terikat pada konflik sejarah partai-partai besar.

PSI sendiri tidak tinggal diam. Sejak beberapa bulan terakhir, partai berlambang gajah itu telah meluncurkan strategi agresif yang disebut “kandang gajah”. Istilah ini digunakan untuk menandai ambisi merebut basis suara di berbagai wilayah yang selama ini dikuasai partai lain.

Kaesang Pangarep secara terbuka menyuarakan target tersebut dalam berbagai Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali. Di Jawa Tengah misalnya, PSI menargetkan perolehan signifikan kursi DPRD provinsi dan kabupaten/kota pada 2029,daerah yang selama puluhan tahun menjadi basis kuat PDIP.

Strategi itu diiringi tren perpindahan kader senior dari partai lain ke PSI. Banyak pengamat menilai faktor Jokowi menjadi salah satu pemicu utama migrasi politik tersebut. Kehadiran mantan presiden di Rakernas semakin memperkuat persepsi bahwa PSI sedang berada di jalur percepatan.

Meski demikian, respons dari partai-partai yang sudah mapan di parlemen relatif tenang. Mereka menegaskan bahwa basis pemilih dan jaringan kader mereka sudah teruji, serta prioritas utama saat ini adalah konsolidasi internal dan kerja langsung menghadapi berbagai persoalan masyarakat. Beberapa partai bahkan menyebut PSI masih harus melewati verifikasi faktual dan lolos ambang batas parlemen terlebih dahulu sebelum bisa dianggap sebagai ancaman serius.

Baca Juga:  Milad 100 Tahun TK ABA Berkhidmat untuk Negeri

Secara keseluruhan, Rakernas PSI di Makassar pada akhir Januari 2026 menjadi momentum penting dalam peta politik Indonesia menjelang Pemilu 2029. Kehadiran Jokowi tidak sekadar memberikan motivasi kepada kader muda, tetapi juga menunjukkan komitmen pribadi yang sangat tinggi untuk membangun struktur partai hingga ke tingkat paling bawah sebelum akhir tahun 2026. Dengan target lolos ke Senayan sebagai tujuan yang diucapkan secara terbuka, PSI berupaya memanfaatkan momentum “efek Jokowi” untuk mempercepat konsolidasi dan memperluas basis dukungan di seluruh Indonesia.

Pertanyaan besar yang tersisa adalah: apakah dukungan penuh dari mantan presiden ini akan cukup untuk mengantarkan PSI melewati parliamentary threshold yang selama ini menjadi tembok kokoh bagi partai-partai baru? Dan bagaimana dampak jangka panjang dari keterlibatan aktif seorang mantan kepala negara dalam pembesaran partai yang dipimpin anak kandungnya terhadap dinamika politik nasional?

Tiga tahun ke depan akan menjadi ujian sebenarnya bagi PSI dan bagi Jokowi sebagai figur yang masih ingin mempertahankan relevansi politiknya di era pasca-presidensi. Yang jelas, pidato berapi-api di Makassar menunjukkan bahwa mantan presiden ini belum berniat mundur dari arena politik. Ia masih siap “turun gelanggang”, dan PSI menjadi panggung utamanya untuk babak baru tersebut.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru