Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya-tanya, mengapa generasi hari ini begitu terobsesi dengan komedi? Buka saja hp dan lihatlah linimasa di dalamnya yang selalu penuh dengan meme, potongan stand-up comedy, hingga konten prank yang sering kali absurd. Kita tampak seperti masyarakat yang paling bahagia karena punya akses tak terbatas pada hiburan.
Jika dilihat melalui pandangan Lazarus sebagai tokoh sosiologi asal amerika. Ia merupakan orang pertama yang telah mengenalkan istilah coping mechanism. Yang merumuskan bahwa coping mechanism merupakan proses kognitif dan perilaku yang disadari dan disengaja oleh individu untuk mengatasi masalah atau stres yang sedang dihadapi.
Yap. Selaras dengan realitas hari ini, banyak dari kita tertawa bukan karena benar-benar bahagia. Tetapi kita tertawa hanya semata-mata untuk menghindari stres di kuliah, tuntutan pekerjaan, atau karena di marahi bos berkumis dan beralis tebal. Kita sering kali berakhir menertawakan penderitaan kita sendiri.
Hal itu bukan menjadi masalah, karena Sigmund Freud pernah juga mengenalkan istilah Gallows Humor—humor yang dibuat oleh orang yang sedang menghadapi situasi mematikan atau sangat mengerikan. Freud berpendapat bahwa humor adalah bentuk tertinggi dari mekanisme pertahanan ego manusia. Tawa tersebut melepaskan tekanan yang terperangkap, sehingga ego menolak untuk dihancurkan oleh realitas yang menyakitkan.
Akan tetapi, humor ataupun lelucon hari ini telah bertransformasi yang kemudian memunculkan fenomena laughing through the pain, fenomena yang melahirkan tren dark jokes dan roasting. Di mana batas antara humor, sarkasme, dan perundungan menjadi sangat kabur. Tawa pada akhirnya telah dikomodifikasi menjadi sebuah industri dan transaksi emosional. Di mana “yang penting lucu” sering kali menabrak batas-batas kemanusiaan.
Lalu, di mana posisi agama melihat fenomena ini? Sering kali, narasi keagamaan disajikan dengan wajah yang terlalu tegang dan kaku. Seolah-olah menjadi religius berarti harus selalu mengernyitkan dahi dan menghilangankan selera humor. Padahal, jika kita melacak kembali lembaran sejarah dan filsafat Islam, kita akan menemukan sebuah proporsi yang sangat manusiawi dari sosok manusia yang mengemban beban paling berat di muka bumi, yakni Rasulullah Muhammad SAW.
Dalam tradisi filsafat Islam, jiwa manusia diakui memiliki ritme dan batas kapasitas. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin—terutama ketika membedah anatomi lisan dan hati yang telah menghasilkan sebuah observasi psikologis. Beliau menyadari bahwa hati, persis seperti tubuh fisik, yang bisa saja mengalami kepenatan ataupun kejenuhan. Jiwa yang dipaksa terus-menerus menghadapi realitas yang keras, pada akhirnya akan tumpul dan buta.
Dari pandangan Imam Al-Ghazali dapat kita pahami bahwa bercanda bukanlah sebuah kesia-siaan, melainkan sebagai upaya untuk mengembalikan kewarasan. Begitupun dengan Syekh Yusuf Al-Qardhawi dalam kitab Al-Halal wal Haram fil Islam yang secara lugas menegaskan bahwa Islam tidak pernah memusuhi fitrah manusia yang ingin bersantai dan tertawa.
Menjadi muslim yang taat tidak berarti harus mematikan kejenakaan. Masalahnya bukan pada tawanya, tapi terletak pada proporsi dan komposisinya. Manusia hari ini sering tergelincir karena menjadikan hiburan sebagai pelarian utama. Ketika humor dijadikan gaya hidup dan dikonsumsi tanpa takaran, ia justru mematikan sensitivitas empati. Kita menjadi kebal terhadap musibah orang lain karena semuanya bisa dijadikan bahan candaan. Di titik inilah, kita sangat perlu menengok bagaimana Rasulullah menakar sebuah humor.
Estetika Canda Rasulullah
Ada beberapa kitab yang menjelaskan keseharian Nabi, salah satu nya Asy-Syamail Al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi yang membuka potret paling intim dari keseharian Nabi. Dalam beberapa aktivitasnya seperti mengelola negara Madinah, menyusun strategi perang, dan menyelesaikan sengketa hukum di tengah umat, Rasulullah ternyata adalah pribadi yang sangat hangat dan murah senyum. Beliau tertawa. Beliau bersenda gurau dengan istri, anak-anak, hingga para sahabatnya.
Namun, ada satu garis tebal yang harus di garis bawahi dalam canda ala Rasulullah, yaitu kebenaran.
Dalam salah satu catatan Mahmud Al-Mishri tentang Mazaaha Ar-Rasul, terekam bagaimana Nabi SAW pernah bercanda dengan seorang nenek tua. Nabi berkata bahwa tidak akan ada nenek-nenek di surga. Sang nenek tentu saja terkejut dan menangis. Namun, Nabi segera menenangkannya dengan senyuman, menjelaskan firman Allah bahwa kelak di surga semua perempuan akan diciptakan kembali menjadi gadis yang muda dan sebaya. (QS. Al-Waqi’ah: 35-37)
Canda Rasulullah ini jelas sangat cerdas untuk memantik tawa dan membahagiakan, yang seratus persen bahkan seribu persen bertumpu pada fakta teologis. Salah satu contoh candaan Nabi tersebut menjadi tamparan dan pengingat bagi industri komedi modern yang kerap bersembunyi di balik narasi “Namanya juga komedi, wajar kalau bohong atau melebih-lebihkan.” Bagi Rasulullah, komedi sejati tidak memerlukan hoaks untuk sekadar mencapai punchline.
Gaya hidup Nabi menunjukkan bahwa humor difungsikan sebagai instrumen resolusi konflik dan pencair suasana, bukan malah menjadi alat untuk mendominasi percakapan atau mencari validasi sosial. Saat ketegangan memuncak di antara para sahabat, sebaris kalimat ringan dari Nabi mampu menyapu bersih awan mendung kecemasan tanpa menjatuhkan wibawa siapa pun.
Komodifikasi Rasa Aman
Satu hal yang menjadi problem di era media sosial adalah lumrahnya prank dan roasting. Seseorang tiba-tiba ditakut-takuti, aibnya dibongkar secara hiperbolis, fisiknya dijadikan materi stand-up, lalu ditutup dengan tawa massal. Jika ada yang tersinggung, masyarakat akan dengan cepat menghakimi, “Jangan baper, ini cuma dark jokes.”
Dari kacamata sosiologi hukum Islam dan adab kesopanan, Imam Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad mencatat sebuah prinsip bahwa haram hukumnya bagi seorang muslim membuat muslim lainnya terkejut ketakutan, meski niatnya hanya bercanda. Pernah suatu ketika seorang sahabat menyembunyikan tali pelana milik sahabat lain yang sedang tertidur. Ketika ia terbangun dan panik, yang lain tertawa. Kemudian, Nabi secara tegas menegur tindakan tersebut.
Humor yang menumbalkan rasa aman, harga diri, dan kondisi psikologis orang lain bukanlah coping mechanism yang sehat, tapi menjadi sebuah manifestasi dari keangkuhan. Dr. Badr Abdul Hamid dalam Al-Mizah fi al-Islam telah merumuskan bahwa canda yang dibenarkan syariat harus terbebas dari unsur merendahkan. Di saat industri hari ini mengomodifikasi kekurangan orang lain untuk mendulang cuan—mengubah cacat fisik atau trauma seseorang menjadi komoditas tawa—Islam mengingatkan bahwa kehormatan manusia jauh lebih mahal dari gemuruh tepuk tangan penonton.
Kembali Menjadi Manusia yang Bermartabat
Salah satu psikologi modern melalui analisis Prof. Dr. M. Utsman Najati dalam Al-Qur’an wa ‘Ilm an-Nafs melihat peristiwa coping mechanism sebagai insting bertahan hidup manusia. Saat beban terasa berat, otak menuntut pelepasan ketegangan. Namun, pelepasan itu bisa saja bersifat membangun maupun merusak.
Humor sarkasme, merendahkan agama, atau menertawakan tragedi seperti musibah bencana dijadikan meme merupakan bentuk coping mechanism yang merusak. Ia mungkin memberi kelegaan sementara, tetapi menanamkan racun nihilisme dalam jangka panjang. Hati menjadi keras. Kematian dan penderitaan kehilangan makna sakralnya.
Sebaliknya, proporsi canda yang dicontohkan Rasulullah adalah terapi kognitif yang konstruktif. Mengapa? Karena tujuan canda Rasulullah adalah idkhal as-surur—memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang lain. Candaan Nabi tentu berpusat pada subjek yang diajak bicara, tujuannya untuk mengangkat mental mereka yang sedang jatuh, menghibur mereka yang sedang lelah, tanpa pernah melukai.
Dengan meneladani humor Nabi di zaman ini, berarti kita juga secara tidak langsung dituntut untuk menjadi lebih cerdas dan elegan dalam berekspresi. Kita pasti tetap butuh tertawa di tengah revisian tugas yang tak kunjung usai. Di tengah harga kebutuhan hidup yang mencekik, atau di sela-sela obrolan santai di kedai kopi. Akan tetapi, tawa kita haruslah tawa orang yang merdeka. Tawa yang tidak lahir dari menyakiti orang lain, tidak berakar dari kebohongan, dan tidak melalaikan kita dari hakikat kehidupan itu sendiri.
Seni bercanda dalam Islam bukan hanya masalah boleh atau tidak boleh. Ini soal kemampuan mengkalibrasi diri. Mengetahui kapan harus tersenyum, tertawa ringan, dan kapan harus diam berkontemplasi. Sebab jiwa manusia, seperti halnya alam semesta, hanya bisa berjalan seimbang jika diletakkan pada proporsi yang tepat.
Mari, kita kembalikan tawa pada fungsi asalnya: sebagai pelipur lara yang menyembuhkan. Dengan memulai meneladani proporsi canda Rasulullah—kejenakaan yang tak hanya melegakan batin kita sendiri, tetapi juga merawat martabat dan rasa aman orang-orang di sekitar kita. Sebab pada akhirnya, senyum yang jujur dan proporsional akan selalu lebih menenangkan daripada gelak tawa yang dipaksakan.
(FI)



bagus ya narasinya. keren