Penentuan awal Syawal sering kali dianggap sederhana, tinggal menunggu hasil rukyat, setelah itu diumumkan hari raya. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Penentuan 1 Syawal adalah pertemuan antara data astronomi, kriteria yang disepakati, pengalaman sejarah, dan pertimbangan sosial. Karena itu, berbicara tentang awal Syawal 1447 H tidak cukup hanya dengan melihat langit. Namun perlu juga memperhatikan berbagai data terkait.
Dalam dunia akademik dan riset, data adalah fondasi utama. Tanpa data primer dan sekunder yang jelas dan akurat, kesimpulan mudah goyah. Dalam artikel ini, data primer yang digunakan adalah kalender resmi yang diterbitkan masing-masing negara. Kalender tersebut mencerminkan metode hisab, kriteria wiladatul hilal, kriteria visibilitas hilal, dan kebijakan keagamaan yang berlaku.
Belajar dari Kasus Awal Syawal 1443 H
Berdasarkan data resmi yang terkumpul, terdapat dua kelompok penetapan awal Syawal 1447 H. Pertama, negara-negara yang menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Negara-negara tersebut antara lain Arab Saudi, Mesir, Turki, Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan, Inggris (UK), Amerika Serikat (USA), serta Indonesia (Muhammadiyah). Kelompok ini, kriteria yang digunakan adalah wiladatul hilal dan hasil konferens Istanbul Turki 1437/2026. Kedua, negara-negara yang menetapkan 1 Syawal 1447 H pada Sabtu, 21 Maret 2026, yaitu Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia dalam kalender resmi berbasis kriteria Neo-Visibilitas Hilal MABIMS. Selain itu Australia, Inggris (UK), dan Kanada.
Perbedaan ini bukan muncul tanpa dasar. Ia berkaitan langsung dengan kriteria yang digunakan untuk menilai kemungkinan terlihatnya hilal baik lokal maupun global. Negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) saat ini menggunakan kriteria Neo-Visibilitas Hilal dengan parameter tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Berdasarkan hasil perhitungan untuk Kamis, 19 Maret 2026, posisi hilal belum memenuhi kriteria 3° dan 6,4° tersebut. Karena itu, kalender resmi negara anggota MABIMS menetapkan awal Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Namun demikian, kepastian tetap menunggu laporan hasil rukyat. Singapura selama ini konsisten mengikuti kalender yang telah diterbitkan sebelumnya. Sementara Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia masih menunggu hasil observasi yang akan dilakukan pada 29 Ramadan 1447/19 Maret 2026 sebelum keputusan final diumumkan.
Di sinilah muncul pertanyaan, apakah mungkin terjadi perubahan mendadak?
Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu bukan tidak mungkin. Kasus awal Syawal 1443 H/2022 di Malaysia menjadi pelajaran penting. Saat itu, kalender resmi menunjukkan Idulfitri jatuh pada Selasa, 3 Mei 2022. Masyarakat sudah merencanakan mudik dan berbagai persiapan hari raya. Namun pada Ahad, 1 Mei 2022, dilaporkan ada keberhasilan melihat hilal di Labuan. Pemerintah Malaysia kemudian menetapkan Idulfitri maju satu hari menjadi Senin, 2 Mei 2022.
Keputusan tersebut membuat masyarakat terkejut dan bingung. Banyak yang sudah menjadwalkan perjalanan pada hari yang berbeda. Media Malaysia merekam situasi itu dengan judul-judul yang menggambarkan kekagetan publik, seperti “Raya terkejut”, “kelam-kabut sambut raya”, hingga laporan pasar raya yang diserbu pembeli secara mendadak (Mohd Saiful Anwar Mohd Nawawi, 2023, p. 4-5). Mengapa masyarakat muslim Malaysia terkejut?, karena selama 30 tahun penentuan Idulfitri yang tertera di kalender sesuai dengan pengumuman yang disampaikan oleh Penyimpan Mohor Besar Raja-raja. Bahkan ada yang menyampaikan “tidak tengok pengumuman pun tidak mengapa, tarikh raya mesti sama dengan kalender kuda”. Pertanyaannya sekarang, apakah kasus seperti itu akan terulang pada Syawal 1447 H?
Dilema Menjelang Awal Syawal 1447 H
Dalam konteks Indonesia, hasil Sinkronisasi Data Hisab Kalender Hijriah Indonesia pada 24–26 Juni 2024 di Surakarta yang melibatkan 27 sistem hisab menunjukkan bahwa posisi hilal memang tidak memenuhi kriteria Neo-Visibilitas Hilal MABIMS. Artinya, jika merujuk keputusan MABIMS yang digunakan secara resmi maka awal Syawal 1447 H seharusnya jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Namun pemerintah tetap berada pada posisi yang tidak mudah. Jika ada laporan keberhasilan rukyat, apakah akan diterima? Jawabannya bergantung pada pendekatan yang diambil. Jika konsisten pada kriteria yang telah disepakati, maka laporan yang tidak memenuhi parameter tersebut semestinya ditolak. Tetapi jika pertimbangan kemaslahatan dan persatuan umat lebih diutamakan, maka laporan rukyat bisa saja dipertimbangkan.
Di titik inilah kita belajar dari pengalaman Turki. Dalam sejarahnya, Turki juga pernah mengalami perbedaan hari raya akibat bergantung penuh pada laporan rukyat. Hal itu dinilai menimbulkan dampak sosial yang tidak kecil. Setelah melalui kajian bersama para ulama dan astronom, Turki mengambil pendekatan berbasis tujuan syariat (maqasid). Pertanyaan yang diajukan sederhana, jika tujuan rukyat adalah memastikan masuknya bulan baru, apakah metode yang lebih pasti boleh digunakan?
Hasil kajian bersama antara ulama dan astronom membolehkan. Menurutnya yang menjadi tujuan syariat adalah kepastian waktu, bukan semata-mata metode melihatnya. Oleh karena itu, Turki tetap melaksanakan rukyat sebagai kegiatan ilmiah dan edukatif, tetapi kalender ditetapkan berdasarkan hisab yang pasti. Bahkan pada awal Ramadan 1447 H, rukyat dilakukan di 111 lokasi di seluruh wilayah Turki. Tradisi tetap berjalan, tetapi tidak lagi membatalkan kalender yang sudah ditetapkan.
Model seperti ini layak menjadi bahan refleksi bagi negara-negara anggota MABIMS. Peran MABIMS selama ini penting dalam menyatukan kawasan Asia Tenggara. Namun dinamika global menuntut langkah yang lebih visioner. Tidak ada salahnya mempertimbangkan penguatan sistem yang memberikan kepastian jauh hari sebelumnya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abdul Halim bin Abdul Aziz, Universiti Sains Malaysia (USM). Selanjutnya ia mendorong MABIMS menjadi pelopor bersama negara-negara Islam lainnya membangun kesepakatan guna menyusun kalender hijriah global terpadu untuk seluruh umat Islam di dunia.
Menyatukan Waktu dan Kesatuan Umat
Dalam konteks Indonesia, salah satu gagasan moderat adalah mempertahankan sidang isbat, tetapi dalam format yang lebih strategis, misalnya satu kali dalam setahun pada awal Muharam untuk menetapkan kalender hijriah tahunan secara menyeluruh. Sidang tersebut dihadiri langsung oleh pimpinan ormas Islam agar keputusan benar-benar mencerminkan konsensus bersama. Tidak ada pihak yang dimenangkan dan tidak ada pihak yang dikalahkan. Semua duduk bersama demi cita-cita yang mulia.
Penentuan awal Syawal 1447 H sejatinya melampaui sekadar perdebatan tanggal, apakah 20 atau 21 Maret 2026. Di balik perbedaan itu tersimpan persoalan yang lebih mendasar, bagaimana umat Islam mampu mengintegrasikan dalil syar’i, temuan ilmiah, regulasi negara, dan kepentingan masyarakat luas dalam satu keputusan yang dapat diterima bersama. Ketika data astronomi dijadikan pijakan yang kokoh dan kebijakan dijalankan secara konsisten, potensi keresahan sosial niscaya dapat dikurangi. Namun, bila metode yang digunakan terus berganti tanpa arah yang pasti, masyarakat akan selalu dihadapkan pada kebingungan yang sama setiap kali mengawali dan mengakhiri Ramadan.
Merukyat yang berpadu dengan data ilmu pengetahuan bukan berarti tradisi dikorbankan atas nama modernitas. Justru sebaliknya, sains hadir sebagai penguat, bukan penantang, terhadap khazanah fikih yang telah lama mengakar. Dengan keterbukaan pikiran dan komitmen terhadap ilmu, persatuan umat dalam menyambut hari kemenangan bukan lagi mimpi yang mustahil, melainkan tujuan nyata yang dapat dicapai selangkah demi selangkah melalui dialog, kejujuran ilmiah, dan kebijaksanaan bersama.
Wa Allāhu a‘lam bi al-ṣawāb.
Editor: Ikrima


